///Kiat cerdas menghadapi kritik

Kiat cerdas menghadapi kritik

Sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan sesama, kita tidak pernah bisa menghindari kritik. Setiap orang memiliki penilaian tentang orang lain, dan penilaian yang disuarakan itu berwujud pujian dan kritik. Pujian mengandung penilaian positif, sedangkan kritik mengandung penilaian negatif. Itu sebabnya, orang cenderung bereaksi negatif pula terhadap kritik. Padahal sebenarnya, kritik yang disikapi dengan respons yang positif justru akan menjadi keuntungan tersendiri, karena melaluinya kita akan berintrospeksi dan berbenah diri. Artikel ini akan memperlengkapi kita semua untuk bersikap cerdas terhadap kritik, dengan respons yang positif.

Secara umum, semua kritik memang mengandung penilaian negatif, namun tujuannya dapat dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, kritik yang konstruktif (membangun). Kritik yang konstruktif menyampaikan penilaian negatif dengan tujuan untuk membangun si sasaran kritik agar memperbaiki diri dalam hal topik penilaian negatif itu. Yang kedua adalah kritik yang destruktif (menghancurkan). Jelas, kritik yang destruktif melontarkan penilaian negatif hanya demi kepuasan si pengkritik karena si sasaran kritik hancur mentalnya, hingga bahkan mungkin tidak mampu bangkit kembali dan topik penilaian negatif itu menjadi sesuatu yang permanen pada dirinya.

Contoh perbedaan antara kedua kategori kritik ini kira-kira dapat kita lihat dalam situasi berikut: si A yang baru bekerja selama dua bulan dikritik oleh dua orang karena tak kunjung mahir menggunakan mesin faksimili di kantor. Pengkritik pertama adalah pengawas dari bagian SDM, yang memang melakukan evaluasi bulanan terhadap kinerja setiap karyawan baru selama masa percobaan. Pengawas SDM ini berkata, “Saya perhatikan kamu belum mahir menggunakan mesin faksimili. Sebenarnya kamu sudah bekerja selama dua bulan, dan itu adalah waktu yang cukup untuk menguasai cara penggunaan mesin itu. Saya sangat berharap kamu bisa menyelesaikan masa percobaan di akhir bulan depan dalam posisi sudah menguasai hal ini. Apakah menurutmu kamu perlu bantuan untuk mempelajarinya secara khusus dari rekan lain yang rutin menggunakannya? Saya bisa mengatur supaya si B lembur sebentar, mungkin setengah jam saja, selama beberapa hari untuk keperluan ini.” Sementara itu, pengkritik kedua adalah si C, yaitu rekan kerja yang merasa terancam posisinya dengan munculnya si A. Si C berkata, “Hmmm… Rupanya kamu belum bisa menggunakan mesin faksimili dengan benar, ya. Padahal kamu sudah bekerja dua bulan. Rata-rata staf di sini biasanya berhasil menguasainya dalam waktu satu-dua minggu saja. Mungkin kamu memang tidak cocok bekerja di kantor ini, apalagi kalau di akhir bulan depan kamu tetap belum lancar menggunakan mesin itu.” Kita dapat melihat dengan jelas bahwa kritik pertama dari si pengawas adalah kritik yang konstruktif, sedangkan kritik kedua dari si C adalah kritik yang destruktif.

Nah, dalam situasi contoh di atas, si A sebenarnya bisa memilih untuk berespons secara positif atau negatif terhadap kedua kritik. Kedua kritik itu memang bisa menjadi pemacu semangat bagi si A untuk berlatih serius menggunakan mesin faksimili, agar menunjukkan kemajuan berarti di akhir masa percobaan dan bertahan dalam pekerjaannya. Di kemudian hari, jika si A tetap bertahan, bukan tidak mungkin ia akan mengalami peningkatan karir karena sikapnya yang mau belajar itu. Jadi, entah itu adalah kritik yang konstruktif atau destruktif, selalu ada pilihan untuk berespons dengan cerdas dan positif. Berikut adalah beberapa kiatnya:

Pertama, pahamilah bahwa sebagian orang secara alami memang suka mengkritik. Orang-orang seperti ini mudah menemukan kesalahan serta jarang menyadari bahwa mereka mungkin menyakiti perasaan orang lain, dan memang biasanya tidak bermaksud untuk melukai perasaan orang lain yang dikritiknya. Jika Anda bekerja bersama si pengkritik, cobalah untuk tidak menanggapi komentarnya terlalu serius. Selalu “memasukkannya ke dalam hati” sama saja dengan menciptakan monster kebencian dan kemarahan. Monster tersebut bisa merusak hubungan Anda dengan atasan atau rekan kerja itu.

Kedua, hindari amarah. Memang, reaksi kita secara fisik terhadap kritik sangat tergantung pada sifat kritik, situasi yang berlangsung, dan pihak yang mengkritik. Namun, hal utama yang harus diingat adalah bahwa dalam keadaan apa pun, jangan merespons kritik dengan kemarahan. Kemarahan hanya akan menimbulkan suasana tak nyaman dan memicu keributan. Selain itu, kemarahan juga cenderung memperburuk citra diri Anda. Karena itu, cobalah untuk tetap tenang dan perlakukan si pengkritk dengan hormat dan pengertian. Ini akan membantu meredakan situasi. Tunjukkan bahwa Anda adalah orang yang kuat dan cobalah untuk tidak terpancing.

Ketiga, menyingkirlah sejenak. Jika Anda merasa mulai kehilangan kendali diri dan tersulut untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang berpotensi merusak, menjauhlah. Ketika Anda dikritik dalam suatu forum pertemuan di tempat kerja, mintalah izin dengan sopan untuk meninggalkan ruangan, untuk menenangkan diri. Ingatlah, komentar negatif dari seseorang memang bisa saja melukai, tetapi lebih berbahaya lagi jika Anda membiarkan kritik tersebut merusak diri Anda sendiri.

Keempat, gunakan sudut pandang si pengkritik. Kadang-kadang, kritik yang ditujukan kepada Anda mungkin terasa tidak masuk akal pada saat itu. Namun saat sudah tenang, biasanya Anda akan menemukan kebenaran di dalam sebuah kritik, karena itu adalah refleksi jujur tentang sudut pandang orang lain terhadap Anda. Mundurlah sejenak dari sudut pandang Anda, dan cobalah gunakan sudut pandang orang lain, mungkin dengan cara meminta pendapat jujur dari seorang teman lainnya. Dengan demikian, Anda akan mampu bersyukur bahwa sudut pandang si pengkritik itu memperkaya pemahaman Anda akan diri sendiri, dan kritiknya adalah pertanda bahwa ia peduli terhadap kemajuan Anda.

Kelima, temukan pelajarannya. Manusia memang tidak pernah luput dari berbuat salah. Itu sebabnya, kita memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Maka, tidak peduli apa pun kritik yang ditujukan kepada Anda, temukan sesuatu yang dapat Anda pelajari. Tingkatkan diri Anda menjadi lebih baik melalui pelajaran-pelajaran berharga di balik setiap kritik. Inilah yang akan mengubah perasaan “sakit” saat dikritik menjadi keuntungan tersendiri.

Belajar menghadapi kritik secara positif adalah bentuk peningkatan keterampilan berhubungan dengan orang lain. Kritik dari orang lain adalah ruang kelas untuk pembelajaran itu. Walau demikian, kenali pula kalau-kalau kritik itu sebenarnya hanyalah cercaan atau cacian yang “menyamar” sebagai kritik, dari orang yang tidak memiliki penilaian yang valid namun cenderung suka bermulut besar saja. Jika demikian, abaikan saja kritik itu. Tetapi sebaliknya, jika kritik itu memang mengandung penilaian yang valid, lakukan kelima kiat yang telah dijelaskan tadi, dan nikmati proses pembelajaran Anda. Tentu saja, jika Andalah yang menjadi si pengkritik, pastikan pula bahwa penilaian Anda memang valid dan Anda bebas dari tujuan-tujuan yang destruktif.

“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.” (Ams. 12:15)

“Seorang kawan memukul dengan maksud baik,…” (Ams. 27:6)

2019-10-17T12:56:43+07:00