///Kiat mengelola kekecewaan terkait pekerjaan

Kiat mengelola kekecewaan terkait pekerjaan

1. Tetap berfokus melakukan yang terbaik

Anda harus ingat, fokus Anda dalam bekerja adalah membangun karier, kesuksesan, dan masa depan. Jangan izinkan berbagai kekecewaan membunuh masa depan Anda. Tetaplah berfokus pada bekerja dengan baik. Selalu lakukan yang terbaik dan tetap maksimalkan potensi Anda. Jika kekecewaan mulai menggangu hati dan pikiran, kembali alihkan perhatian Anda kepada fokus yang benar. Kalau perlu, katakan kepada diri sendiri, “Fokus saya dalam bekerja bukanlah mengurusi perasaan kecewa, tetapi mengumpulkan semangat untuk berjuang menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan.”

 

2. Mengucap syukur

Ketika kekecewaan mulai menerpa, latihlah respons otomatis Anda dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan karena Anda masih diberi kesempatan bekerja, mendapat gaji bulanan, dan m berkarya. Salah satu cara yang baik untuk melakukannya adalah memejamkan mata dan mengakui dalam ketenangan, “Terima kasih Tuhan, saya masih bisa bekerja. Saya mau berfokus pada apa yang masih saya bisa lakukan, bukan pada apa yang tidak bisa saya lakukan; pada apa yang sudah saya miliki, bukan pada harapan yang tidak terwujud.” Ucapan syukur semacam ini akan mengalirkan energi positif di dalam tubuh, pikiran, dan hati Anda. Hasilnya, Anda mampu kembali bekerja dengan kesegaran yang baru!

 

3. Latihan karakter

Tidak selamanya orang yang dikecewakan harus berkubang dalam kesedihan. Begitu juga di tempat kerja. Bila Anda benar-benar dikecewakan karena sistem manajemen yang kurang adil, misalnya, segera ambil hikmahnya. Di balik kejadian ini, Anda mendapatkan kesempatan latihan karakter, pengendalian emosi, dan pengendalian pikiran. Mungkin, Anda dituntun Tuhan untuk lebih tangguh menyikapi permasalahan di lingkungan kerja, atau Anda diajariNya untuk bekerja dengan maksimal di setiap suasana, baik itu suasana baik maupun yang kurang menyenangkan. Berbagai bentuk latihan karakter ini akan berguna suatu hari kelak. Misalnya, ketika Anda sendiri dipercaya memimpin orang lain, Anda akan menjadi lebih profesional. Jadi, jangan kecewa berkepanjangan, karena melalui berbagai situasi ini, Anda belajar dan berlatih lagi.

 

4. Pengendalian emosi

Kekecewaan yang tidak dilepaskan dan tumpuk-menumpuk akan membuat Anda rawan meledak, sehingga terlibat konflik, adu mulut, atau bahkan pertikaian. Yang harus Anda lakukan adalah berhati-hati dalam bekerja dan mengendalikan emosi. Jangan terjebak dalam konflik-konflik yang justru akan menghambat Anda. Memang hal ini tak selalu mudah, apalagi jika Anda terkait langsung dalam konflik tersebut. Namun dengan pengendalian emosi, Anda akan lebih tenang menjalankan tugas pekerjaan dan hasilnya pun akan jauh lebih baik.

 

5. Detoksifikasi

Istilah “detoks” (detoksifikasi) berarti proses membuang racun dari dalam tubuh kita. Kekecewaan adalah seperti racun dalam pikiran dan perasaan Anda. Racun ini harus dibuang setiap saat. Salah satu caranya adalah mencari seseorang untuk Anda mengungkapkan perasaan dan pemikiran ketidakpuasan Anda. Mintalah nasihat dan motivasi, atau juga koreksi, dari orang tersebut. Setelah melakukan “detoks”, Anda akan mendapatkan energi baru untuk berfokus membangun karier.

 

6. Mempraktikkan Firman Tuhan

Kita sering mendengar dan membahas berbagai Firman Tuhan dengan topik-topik berpikir benar, misalnya mengenakan pikiran dan perasaan Kristus, memikul salib dan menyangkal diri, mengampuni dan diampuni, dan sebagainya. Ketika kita mengalami situasi yang mengecewakan, inilah saatnya mempraktikkan berbagai bagian Firman yang sudah kita tahu untuk mengalami kuasanya. Seperti kiasan dalam bahasa Inggris, inilah saatnya “dancing in the rain” bersama dengan Tuhan! Di saat inilah, Anda perlu mengandalkan Firman Tuhan sepenuhnya dan meninggalkan pengertian Anda sendiri (Ams. 3:5-8).

 

Mengelola kekecewaan memang tidak mudah dan membutuhkan komitmen yang kuat. Kegagalan mengelola kekecewaan pun bisa berakibat pada hancurnya semangat, dan hancurnya karier atau bahkan hidup Anda. Tetapi, pertanyaan yang terpenting yang dapat membantu membangkitkan kita semua adalah: Siapa yang paling bertanggung jawab menjaga semangat hidup Anda? Siapa yang bertanggung jawab untuk memutuskan untuk tetap kecewa atau bangkit melawan kekecewaan ini? Siapa yang memiliki otoritas bagi hidup Anda untuk memilih respons yang benar atau yang salah?

Tentu Anda dan saya sama-sama tahu jawabannya. Maka, bagi kita yang sedang mengalami kekecewaan atau bahkan patah semangat dengan pekerjaan, mari bangkit. Renungkan Filipi 4:8 dan praktikkan enam kiat yang baru saja kita pelajari ini. Demi hidup kita sendiri.

 

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci 1 , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)

2016-11-23T07:46:52+07:00