///Kisah seorang turis

Kisah seorang turis

Kala itu siang menjelang sore, yang biasanya cuaca di Jakarta cukup menyengat. Berbeda dengan di Jakarta, meskipun waktu menunjukkan jam 2 siang, di Inggris udara terasa cukup dingin meski tubuh telah dilapisi long coat tebal. London memang tidak sepadat Jakarta, tetapi tetap merupakan kota terpadat di Inggris. Ribuan orang berlalu lalang berjalan kaki memadati jalanan pusat kota. Kota ini memang indah,dan penduduknya sungguh menawan!

Kuatnya embusan angin di luar membuat saya dan beberapa orang sebangsa cepat-cepat kembali masuk ke dalam bus wisata sambil mata tetap memandang penuh kekaguman di kiri-kanan jalan.Segera, bus pun melaju ke tempat kunjungan berikutnya, BuckinghamPalace. Macet. Aahh, sama saja dengan di Jakarta… Tampak sisi kiri jalan ditutup. Dengan area jalan yang tak terlalu luas, banyaknya kendaraan, tak heran situasi rute menuju istana itu semakin padat. Entah sesama turis atau memang penduduk sekitar juga berkontribusi memadati jalanan hari itu. Namun hebatnya, tidak ada suara klakson atau kendaraan yang saling berebut jalur. Suasana tetap tenang dan tertib. Wuah!!

Dalam perjalanan kembali dari istana, saya mendapat informasi bahwa beberapa jalan di London memang sengaja ditutup oleh pemerintah selama kira-kirasebulan dalam rangkaperayaan hari ulang tahun Sang Ratu. Ya betul, 1 bulan alias 30 hari jalan ditutup “hanya” untuk acara Sang Ratu.

Belum selesai saya terkagum-kagum dengan informasi tersebut, tour guide menyampaikan beberapa kebiasaan rakyat Inggris yang begitu mengagumi keluarga kerajaan, salah satunya adalah mengenai kabar gembira pernikahan Sang Pangeran. Banyak penduduk yang sengaja menghabiskan uang ribuan Poundsterling agar dapat menginap di dekat gereja tempat Pangeran menikah. Mereka yang tak sekaya itu, rela tidur di jalanan dekat gereja sejak beberapa hari sebelum acara agar tak melewatkan kesempatan emas bertatap muka langsung dengan keluarga Raja.

Kerajaan Allah.

Orang-orang seperti Petrus, Yakobus,atau Yohanes, yang hanya merupakan rakyat biasa yang sehari-harinya mungkin hanya terampil menangkap ikan, mungkin butuh kasih karunia ekstra untuk dapat mengerti tentang “Hidup dalam Kerajaan Allah”. Rasa-rasanya,wajar jika Yesus pun perlu tindakan super ekstra untuk mengajarkan kepada murid-muridNya yang polos itu. Maka tak heran sebelum Ia meninggal, bahkan seusai meninggal pun, Ia tetap saja mengajarkan mengenai hal itu. Pantas saja Yesus seperti “menghantui” para muridNya untuk sekadar mengajarkan prinsip Kerajaan Allah. Pertanyaannya, apakah “prinsip” itu sedemikian pentingnya? Bapa pun rela menurunkan Sang Anak Raja datang ke dunia, khusus untuk misi mengajarkan prinsip hidup dalam KerajaanNya, agar lewat Sang Anak Raja itu sendiri hidup dalam KerajaanNya dapat diperkenalkan, diajarkan, dan dihidupi oleh manusia.

Hidup dalam suatu kerajaan bukan hanya menghasilkan raja/ratu/pemimpin yang diuntungkan, melainkan rakyat dan seisi kerajaan itu juga akan menikmati kesuksesan dari kerajaannya. Apa yang ada di dalam kerajaan tersebut adalah milik rakyatnya, dan apapun yang berhasil diraih di kerajaan tersebut adalah juga merupakan raihan rakyatnya. Allah mau kita pun masuk dan hidup dalam KerajaanNya. Tentu saja, KerajaanNyaitu pun penuh dengan segala yang terbaik: kasih, kebenaran, damai, berkat, dan semua janji Tuhan. Lalu mengapa masih banyak orang tak dengan sepenuh hati untuk masuk dan tinggal dalam KerajaanNya? Banyak orang Kristen hanya “berkunjung” sebagai turis/pendatang sementara, yang cuma memandang dengan penuh kagum pada para penduduk KerajaanNya yang hidup sukses, beroleh kasih karunia, dan hidup maksimal mengabdi pada Allah…

Masih ingat dengan cerita di awal tadi mengenai kekaguman saya akan masyarakat Inggris yang begitu mengabdi pada keluarga kerajaan? Cerita itu menggelitik saya. Untuk saya dapat menikmati hidup di dalam KerajaanNya, saya tidak hanya cukup berkunjung sebagai turis/pendatang yang sementara, namun saya perlu menjadi bagian tetap dalam KerajaanNya. Masuk dan tinggal. Dan, untuk saya masuk dan tinggal, saya perlu iman dan perlu mengalami perjumpaan denganNya (The Encounter).

Bagaimana dengan Anda? Rindukah Anda mengalami Hidup dalam KerajaanNya?

Tinggal dalam suatu “kerajaan” akan lebih mendatangkan kebahagiaan bila semakin banyak orang juga yang tinggal bersama. Kita adalah warga dan penduduk, yang bersama-sama menjadi suatu bangsa di dalam Kerajaan Allah. Mari, bagikan prinsip yang Yesus sudah ajarkandan sudah kita hidupi tentang Kerajaan Allah itu kepada yang lain.Bersama-sama, kita bukan menjadi turis atau pendatang yang kagum sementara saja, tetapi menjadi warga KerajaanNya yang tetap tinggal.

2019-10-17T12:14:05+07:00