//Kitab Amsal

Kitab Amsal

Sebagian kitab Amsal yang lain disebut sebagai “perkataan orang yang berhikmat”  (Ams. 22:17–24:34). Bagian itu mungkin merupakan perkataan yang dikumpulkan oleh Salomo dari beberapa orang lain. Selain itu, ada kumpulan amsal Salomo yang lain dari pegawai-pegawai raja Hizkia (Ams. 25-29), amsal oleh Agur (Ams. 30:1) dan amsal oleh Lemuel (Ams. 31:1).

Kitab Amsal penting karena mengandung banyak pengajaran tentang bagaimana kita dapat hidup dengan hikmat. Kitab ini sangat praktis dan membicarakan masalah-masalah yang dihadapi orang biasa sehari-hari. Kuncinya adalah bahwa kita sebagai anak perlu tunduk kepada didikan Tuhan, sebagaimana seorang tunduk kepada didikan ayahnya (Ams. 3:11).

Beberapa topik yang dibahas dengan tegas di dalam kitab Amsal adalah: pergaulan jahat (Ams. 1:10-18; 13:20); ketamakan (Ams. 1:19; 23:4-5; 28:20); perzinahan, homoseksualitas, dan semua dosa-dosa seksual (Ams. 2:16-19; 5; 6:23-35; 7; 9:13-18; 22:14); kemalasan (Ams. 6:6-11; 13:4; 15:19); dosa lidah (Ams. 13:3; 18:21; 21:23); kejujuran (Ams. 11:1; 20:14,28; 21:6); keangkuhan (Ams. 12:9; 13:10; 16:5,18-19; 21:4); belas kasihan (Ams. 3:27; 12:25; 14:31; 16:24); kedengkian dan kemarahan (Ams. 14:17,30; 15:1); dan minuman keras (Ams. 20:1; 21:17; 23:30-32; 31:4-5).

Tema utama kitab Amsal sangat jelas, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” (Ams. 1:7) dan “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Ams. 9:10).  Dari sini kita melihat bahwa pengetahuan dan hikmat berasal dari hidup dengan takut akan Tuhan, yaitu pengenalan akan Tuhan dan pergaulan yang karib dan penuh hormat dengan Dia. Dengan takut akan Tuhan, kita akan menerima pengetahuan dan hikmat yang akan memperlengkapi kita untuk hidup dalam dunia ini. Di dalam topik utama ini, kita akan melihat topik-topik yang lebih spesifik pada masing-masing bagian kitab Amsal.

 

Dua Pilihan: Amsal 1-9

Bagian pertama dalam kitab Amsal menghadapkan kepada kita dua pilihan cara hidup, yaitu hidup dalam kebodohan atau hidup dalam hikmat. Salomo berbicara sebagai ayah kepada anaknya. Di dalam kitab ini ada didikan, ajaran, peringatan dan nasihat. Banyak hikmat didasarkan pada pengalaman, karena itu seorang anak perlu mendengarkan apa yang diajarkan oleh ayahnya dan ibunya. Ajaran Salomo tentang dua pilihan ini muncul dalam beberapa gambaran.

Gambaran yang pertama adalah dua jalan. Jalan pertama adalah jalan orang berdosa, yang berujung pada dunia orang mati dan liang kubur. Jalan ini ditandai dengan kejahatan, pencurian, pembunuhan, dan keinginan untuk keuntungan gelap (Ams. 1:8-19). Di jalan ini, orang makan roti kefasikan dan minum anggur kelaliman. Jalan ini dikatakan penuh dengan kegelapan, begitu gelap sehingga mereka yang berjalan di dalamnya tidak tahu mengapa mereka tersandung  (Ams. 4:14-19). Sementara itu, jalan yang kedua adalah jalan hikmat, di mana orang mendengar dan mentaati perkataan, nasihat dan teguran Allah yang memimpin hidup dengan aman (Ams. 1:20-33). Dalam jalan hikmat, langkah kita tidak akan terhambat dan kita tidak akan tersandung (Ams. 4:11-13). Inilah jalan yang makin bertambah terang sampai hari yang sempurna (Ams. 4:18). Kita dinasihati untuk berjalan dengan memandang terus ke depan di jalan hikmat, tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri (Ams. 4:25-27). Setiap orang harus memilih jalan untuk dirinya sendiri dari kedua pilihan jalan ini.

Gambaran yang kedua adalah dua perempuan, yang menunjukkan kebodohan dan hikmat. Perempuan yang pertama adalah kebodohan. Dia seperti perempuan yang asing, yang licik perkataannya, yang tidak setia dan membawa orang kepada jalan kematian (Ams. 2:16-19). Perempuan ini adalah perempuan jalang yang sepertinya manis seperti madu dan perkataannya licin seperti minyak, tetapi justru membawa kepada kematian dan neraka (Ams. 5:3-9, 20-21). Perempuan itu tampak cantik, tetapi membawa kepada perzinahan (Ams. 6:20-35). Dialah perempuan jalang yang tanpa malu mencari pemuda yang tidak berhikmat, untuk menggoda mereka dengan kelicinan bibir lalu menggugurkan dan menewaskan mereka yang bodoh itu. Rumahnya adalah jalan ke ruangan-ruangan maut (Ams. 7:5-27). Perempuan itu bebal, cerewet,  dan dia memanggil orang-orang bodoh menjadi tamunya, hingga mereka masuk neraka (Ams. 9:13-18). Sementara itu, perempuan yang kedua adalah hikmat. Hikmat adalah seperti perempuan yang membawa keuntungan yang melebihi perak dan emas dan batu permata. Jalannya pun penuh dengan bahagia dan sejahtera (Ams. 3:13-18). Perempuan itu perlu dikasihi, ditinggikan dan dipeluk (Ams. 4:5-9) Perempuan itu berseru-seru memanggil orang muda, mengatakan kebenaran dan keadilan. Perkataannya sangat jelas. Dengan perempuan hikmat inilah para raja, para pembesar, para bangsawan dan para hakim yang benar memerintah. Hikmat membawa kekayaan dan kehormatan. Buahnya lebih berharga daripada emas dan perak (Ams. 8:1-21). Sekali lagi, kita disodori dengan dua pilihan yang sangat bertolak belakang.

Hikmat berasal dari Tuhan. Dialah sumber segala hikmat. Sejak zaman purbakala sebelum dunia diciptakan, waktu Allah mempersiapkan langit dan menetapkan awan-awan dan menentukan batas kepada laut, hikmat ada. Mendapatkan hikmat berarti mendapatkan hidup, dan hidup ini adalah hidup yang kekal (Ams. 8:22-36).

 

Amsal-Amsal Salomo: Amsal 10:1–22:16

Dalam bagian ini, ada amsal-amsal yang menunjukkan bagaimana caranya berjalan di dalam dua jalan itu dan bagaimana caranya menemui dua perempuan itu. Kebanyakan berupa amsal-amsal pendek yang terdiri dari dua kalimat saja.

Dalam Amsal 10-15, kita melihat kontras antara hikmat dan kebodohan. Di dalam bagian ini ada kumpulan hikmat yang luar biasa. Beberapa topik yang dibicarakan adalah kebencian dan kasih (Ams. 10:12); ketakutan orang fasik dan keinginan orang benar (Ams. 10:24); harapan orang benar dan harapan orang fasik (Ams. 10:28); mulut orang benar dan mulut orang fasik (Ams. 10:31-32); keangkuhan dan kerendahan hati (Ams. 11:2); yang mengumpat dan yang setia (Ams. 11:13); yang murah hati dan yang kejam (Ams. 11:17); yang memberi berkat dan yang kikir (Ams. 11:24-26); yang mencintai didikan dan yang membenci teguran (Ams. 12:1); istri yang cakap dan istri yang membuat malu (Ams. 12:4); yang memperhatikan hidup hewannya dan yang kejam (Ams. 12:10); yang mengatakan kebenaran dan yang berdusta (Ams. 12:17-22); yang rajin dan yang malas (Ams. 12:24, 27); yang meremehkan firman dan yang taat kepada perintah (Ams. 13:13); utusan orang fasik dan duta yang setia (Ams. 13:17); yang bergaul dengan orang bijak dan yang berteman dengan orang bebal (Ams. 13:20); saksi setia dan saksi dusta (Ams. 14:5); yang murtad dan yang baik (Ams. 14:14); yang menghina sesamanya dan yang menaruh belas kasihan (Ams. 14:21); yang panjang sabar dan yang cepat marah (Ams. 14:29); lidah lembut dan lidah curang (Ams. 15:4); korban orang fasik dan doa orang benar (Ams. 15:8); serta rancangan orang jahat dan perkataan orang ramah (Ams. 15:28). Sampai bagian ini, kita melihat bukti bahwa takut akan Tuhan sungguh adalah didikan yang mendatangkan hikmat (Ams. 15:33).

Dalam pasal 16-22, masih ada juga ucapan-ucapan kontras, tetapi juga ada ucapan mengenai akibat atau konsekuensi dari perbuatan. Contohnya adalah: “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan. Hasilnya, akan terlaksana segala rencanamu” (Ams. 16:3); “Kalau tinggi hati, tidak akan luput dari hukuman” (Ams. 16:5); “Kalau sombong akan hancur, kalau tinggi hati akan jatuh” (Ams. 16:18); “Kalau membalas kebaikan dengan kejahatan, kejahatan tidak akan menghindar dari rumahnya” (Ams. 17:13); “Kalau hati gembira akan ada obat yang mujur (Ams. 17:22); “Kalau memberi jawaban sebelum mendengar akan membawa kecelaaan” (Ams. 18:13); “Kalau menghianati saudara, dia akan lebih sulit dihampiri daripada kota yang kuat” (Ams. 18:19); “Kalau miskin, akan ditinggalkan saudara dan sahabat” (Ams. 19:4, 7); “Kalau menaruh belas kasihan kepada yang miskin, Tuhan akan membalas perbuatan itu” (Ams. 19:17); “Kalau tidak lagi mendengarkan didikan, akan menyimpang dari pengetahuan” (Ams. 19:27); “Kalau mengutuki ayah atau ibu, pelitanya akan padam” (Ams. 19:20); “Kalau menutup telinga bagi jeritan orang lemah, akan berseru-seru tidak akan menerima jawaban” (Ams. 21:12); “Kalau menyimpang dari jalan akal budi, akan berhenti di tempat arwah-arwah berkumpul” (Ams. 21:16); serta “Kalau memelihara mulut dan lidah, akan memelihara diri dari pada kesukaran” (Ams. 21:23).

Ada juga beberapa perintah hikmat di dalam bagian ini: “Dengarlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak” (Ams. 19:20);  “Jangan menyukai tidur, supaya jangan menjadi miskin” (Ams. 20:13); dan “Janganlah berkata, ‘Aku akan membalaskan kejahatan’ tetapi nantikanlah Tuhan sebab Ia akan menyelamatkan engkau (Ams. 20:22).

Selain itu, ada pula pernyataan-pernyataan hikmat yang sederhana dan benar. Contohnya: “Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni” (Ams. 16:6); “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Ams. 16:25); “Mahkota orang tua adalah anak cucu” (Ams. 17:6); “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu” (Ams. 17:17); “Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya” (Ams. 18:6); “Siapa mendapat istri, mendapat sesuatu yang baik” (Ams. 18:22); “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Ams. 19:21); “Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidik seluruh lubuk hatinya” (Ams. 20:27); dan “Korban orang fasik adalah kekejian” (Ams. 21:27).

 

Amsal-Amsal Orang Bijak: Amsal 22:17–24:34

Bagian ini dimulai dengan, “Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak”. Tujuannya adalah supaya kita menaruh kepercayaan kepada Tuhan dan supaya kita dapat memberikan jawaban yang tepat kepada orang yang bertanya (Ams. 22:17-21).

Dalam bagian ini ada banyak perintah, contohnya: “Janganlah merampasi orang lemah!” (Ams. 22:22); “Jangan berteman dengan orang yang lekas marah!” (Ams. 22:24); “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya!” (Ams. 23:4); “Jangan menolak didikan dari anakmu!” (Ams. 22:13); “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa!” (Ams. 23:17); “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya!” (Ams. 23:23); “Bebaskanlah mereka yang diangkut untuk dibunuh!” (Ams. 24:11); “Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh!” (Ams. 24:17); “Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat!” (Ams. 24:19); dan “Takutlah akan Tuhan dan raja!” (Ams. 24:21).

Ada juga beberapa nasihat khusus supaya jangan terlibat dengan perempuan jalang (Ams. 23:27-28), jangan minum sampai mabuk (Ams. 23:29-35), jangan memandang bulu dalam pengadilan (Ams. 24:23-25), serta jangan malas (Ams. 24:30-34).

 

Kumpulan amsal-amsal Salomo: Amsal 25:1–29:27

Kira-kira 300 tahun setelah masa Salomo hidup, amsal-amsal Salomo yang lain dikumpulkan oleh pegawai-pegawai Raja Hizkia, raja Yehuda. Hizkia memerintah atas Yehuda pada tahun 715-686 SM. Mengingat bahwa Salomo sebenarnya telah menulis lebih dari 3000 amsal, yang terkumpul ini hanya merupakan sebagaian kecil saja darinya.

Bagian ini dimulai dengan “kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.” Inilah hikmatnya, bahwa firman Allah mengandung banyak rahasia yang kita perlu cari dan selidiki.

Lagi-lagi, di dalam bagian ini ada beberapa perbandingan, nasihat  dan perintah. Namun, yang lebih khas dalam bagian ini adalah persamaan atau analogi. Contohnya adalah: “perkataan tepat seperti buah apel emas” (Ams. 25:11); “teguran bijak seperti cincin emas” (Ams. 25:12); “pesuruh setia seperti sejuk salju di musim panen” (Ams. 25:13); “saksi dusta seperti gada, pedang atau panah tajam” (Ams. 25:19); “kabar baik dari jauh seperti air sejuk bagi jiwa yang dahaga” (Ams. 25:24); “orang yang tak dapat mengendalikan diri seperti kota yang roboh tembaknya” (Ams. 25:28); “orang bebal mengulangi kebodohannya seperti anjing kembali ke muntahnya” (Ams. 26:11); dan “seorang isteri yang suka bertengkar seperti tiris yang tidak henti-hentinya menitik pada waktu hujan” (Ams. 27:15).

Selanjutnya, ada pesan-pesan khusus tentang berbagai kebodohan, seperti orang malas (Ams. 26:13-16), orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain (Ams. 26:17), orang yang memfitnah (Ams. 26:20-22), orang yang membenci (Ams. 26:24-26), dan orang baik yang rajin dalam pertanian (Ams. 27:23-27).

Berikutnya, kita juga menemukan beberapa perbandingan: “orang fasik lari walaupun tidak dikejar, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda” (Ams. 28:1); “orang yang menutup dosanya tidak beruntung tetapi yang mengaku dan meninggalkannya akan disayangi” (Ams. 28:13).

Di akhir dari bagiani ini, ada pernyataan yang jelas: “Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari Tuhan mengerti segala sesuatu” (Ams. 28:5). Sekali lagi, yang penting dalam proses mendapatkan hikmat adalah hubungan dengan Tuhan.

 

Perkataan Agur: Amsal 30:1–33

Bagian ini dimulai dengan pertanyaan, “Siapakah yang naik ke surga lalu turun? Siapakah yang mengumpulkan angin, membungkus air, menetapkan segala ujung bumi?” Pasti, jawabannya adalah, “Tuhan!” Pertanyaan berikutnya adalah, “Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” Inilah rahasia tentang Allah yang ditanyakan. Bagian ini penting karena membicarakan Bapa, yang adalah sumber segala hikmat dan pengetahuan. Kita perlu mengenal nama Dia dan AnakNya. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa kita perlu hubungan dengan Bapa dan Anak supaya kita dapat menerima hikmatNya.

Juga diceritakan di bagian ini tentang keturunan atau angkatan yang jahat yang akan datang. Keturunan itu angkuh dan mengutuki ayahnya dan ibunya (Ams. 30:11-14). Mereka tidak takut dan hormat kepada ayahnya dan ibunya.

Selain itu, ada penjelasan tentang tiga hal bahkan, empat hal dalam berbagai aspek: empat hal yang tidak puas, empat hal yang mengherankan Agur sampai tidak dapat dia mengerti, empat hal yang mengetarkan bumi, empat binatang yang terkecil tetapi penuh hikmat, dan empat hal yang gagah langkahnya (Ams. 30:15-31).

 

Amsal Lemuel tentang istri yang cakap: Amsal 31:10–31

Ibu dari Raja Lemuel mengajarkan dia. Inti pengajaran sang ibu adalah supaya Lemuel penuh hikmat, tidak mengikuti jalan perempuan jahat, tidak mabuk, tetapi membuka mulutnya untuk orang yang bisu dan mengambil keputusan secara adil.

Kemudian, dijelaskanlah tentang sifat-sifat istri yang cakap. Di bagian sebelumnya, dikatakan oleh Salomo, “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya” (Ams. 14:1). Ibu Lemuel menjelaskan sikap dan tindakan perempuan seperti itu dalam membangun rumahnya. Suaminya percaya kepadanya. Dia berbuat baik, rajin bekerja dengan tangan, menyediakan makan, membeli ladang dan menanaminya. Dia pandai berdagang dan memintal. Dia menolong orang miskin. Dia mempersiapkan pakaian bagi seluruh keluarganya. Suaminya terkenal di pintu gerbang kota. Mulutnya mengeluarkan kata-kata yang penuh hikmat dan lemah lembut. Dia mengawasi rumah tangganya dan tidak malas. Anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia. Dialah wanita yang melebihi semua wanita. Intinya, dia adalah seorang wanita yang takut akan Tuhan (Ams. 31).

Demikianlah, di dalam seluruh bagian kitab Amsal kita membaca tentang hikmat Tuhan yang berasal dari hubungan pribadi yang takut akan Tuhan. Sebagai anak, kita takut dan hormat akan Bapa dan dari hubungan itu dengan Dia, kita akan belajar dan mendapatkan hikmatNya.

2020-04-22T14:25:48+07:00