//Kitab Ayub

Kitab Ayub

 

 

Kebahagian dan kemakmuran (Ayb. 1:1-5)

Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur yang menjauhi kejahatan dan takut akan Tuhan. Dia sangat diberkati sampai menjadi sangat kaya dan memiliki banyak kambing domba, unta, lembu, keledai dan budak-budak.

 

Penderitaan dimulai (Ayb. 1-3)

Yang Ayub tidak tahu adalah sesuatu yang terjadi di surga. Iblis datang menghadap Tuhan dan menuduh bahwa Ayub hanya setia kepada Tuhan karena dia diberkati dengan kekayaan. Untuk membuktikan bahwa tuduhan itu salah, Tuhan mengizinian Iblis menyerang Ayub. Ternyata sesudah Ayub kehilangan segala miliknya termasuk sepuluh anaknya, dia tetap percaya kepada Tuhan dan mengakui, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayb. 1:21).

Lalu untuk kedua kalinya Iblis menghadap Tuhan, kali ini untuk menuduh bahwa Ayub hanya setia karena diberkati dengan kesehatan. Tuhan pun mengizinkan Iblis menyerang tubuh Ayub sampai badannya penuh dengan barah yang busuk. Istri Ayub menyuruh Ayub mengutuk Tuhan dan mati saja, tetapi Ayub tetap setia dan tidak berdosa dengan mulutnya. Kesetiaannya, kesabarannya dan kesalehannya luar biasa. Ayub sama sekali tidak tahu bahwa imannya sedang diuji ataupun bahwa Allah sangat mempercayainya. Ayub sepertinya berjalan dalam kegelapan dan kebingungan, namun dia tetap percaya dan setia kepada Tuhan.

Selanjutnya, tiga sahabat Ayub datang untuk  menghibur dia. Begitu luar biasa perobahaan di dalam Ayub sampai mereka tidak mengenalnya lagi. Mereka tujuh hari tujuh malam duduk bersama dia tanpa mengucapkan sepatah kata. Namun kemudian, Ayub mulai mengutuki hari kelahirannya, “Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir?” (Ayb 3:11). Semua sukacita dalam hidupnya sudah menghilang. Begitu berat penderitaannya!

 

Percakapan Ayub dengan para sahabatnya (Ayb. 4-37)

Ada tiga percakapan yang terjadi di antara Ayub dan tiga sahabatnya, di mana Elifas dan  Bildad bicara tiga kali, sedangkan Zofar bicara dua kali, dan Ayub memberi tanggapannya kepada mereka masing-masing. Selain itu, salah satu sahabat Ayub lainnya, Elihu, juga memberikan pidato dan nasihatnya kepada Ayub.

 

Percakapan pertama (Ayb. 4-14)

Elifas mulai dengan mengucapkan kata-kata penghiburan. Dia mengakui bahwa Ayub sudah mengajar, menguatkan dan menghibur banyak orang lain. Namun kemudian, dia menuduh bahwa Ayub sendiri tidak kuat saat terkena masalah.  Dia mengambil kesimpulan bahwa Ayub sudah berdosa dan perlu mencari Tuhan. Bildad menantang Ayub bahwa kalau memang dia bersih dan jujur, Allah akan bangkit demi dia dan memulihkan rumahnya (Ayb. 8:6, 20). Padahal, kita tahu Allah sendiri sudah berkata bahwa Ayub memang adalah orang bersih dan jujur, seorang yang saleh. Zofar juga setuju bahwa Ayub sudah berbuat jahat dan yakin bahwa itulah alasannya dia dihukum oleh Allah agar bertobat.

Tanggapan Ayub adalah  bahwa sahabatnya merupakan tabib palsu yang menutupi dusta (Ayb. 13:4). Ayub mengakui bahwa segala kemalangannya berasal dari Tuhan, “Anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku.” (Ayb. 6:4), dan walaupun  Ayub tetap membenarkan diri, “Aku pasti benar,” (Ayb. 6:29), dia juga bertanya, “Masakan manusia benar di hadapan Allah?” (Ayb. 9:1). Dia merindukan seorang wasit yang dapat berdiri di tengah-tengah, menjadi seorang pengantara antara Allah dan manusia (Ayb. 9:33; 1 Tim 2:5). Ayub sangat rindu untuk berbicara dengan Tuhan untuk membela perkaranya (Ayb. 13:3). Dalam segala penderitaan Ayub, kita lihat bahwa dia selalu mencari dan mendekati Tuhan. Ayub tetap berpegang kepada iman dan harapan, “Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku sampai tiba giliranku.” (Ayb. 14:14).

 

Percakapan kedua (Ayb. 15-21)

Sahabat Ayub tersinggung. Elifas menyebut perkataannya Ayub sebagai “pengetahuan kosong” dan “perkataan yang tidak berfaedah”. Dia berpendapat bahwa Ayub tidak takut akan Allah dan kurang hormat kepadaNya (Ayb. 15:2-7). Bildad menyatakan bahwa hanya orang jahatlah yang dihukum Allah dan Zofar menegaskan bahwa orang jahat pastilah menderita karena kejahatannya. Mereka menuduh dan mengancam. Mereka menceritakan nasib orang jahat untuk memaksa Ayub mengaku dan bertobat.

Namun Ayub tetap membenarkan diri.  Dia menyebut mereka sebagai “penghibur sialan” (Ayb. 16:2). Dia mengeluh karena keadaannya yang begitu malang.  Dia percaya ada Saksi di surga dan dia berkata akan memandang kepada Allah sambil menangis karena rindu untuk berbicara langsung dengan Dia (Ayb. 16:19-21). Bahkan dia mengaku, “Aku tahu: Penebusku hidup dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu… dan aku akan melihat Allah (Ayb. 19:25-27). Ayub tetap percaya kepada Tuhan, tetapi sahabatnya hanya menghibur dia dengan kata-kata hampa dan tipu daya (Ayb. 21:34).

 

Percakapan ketiga (Ayb. 22-37)

Elifas sekali lagi menuduh bahwa Ayub sudah berbuat kejahatan besar dan kesalahan yang tidak berkesudahan (Ayb. 22:2-11), kemudian Elifas berbicara tentang Allah dan kebesarannya (Ayb.22:12-20) dan akhirnya memanggil Ayub untuk bertobat (Ayb. 22:21-30). Bildad hanya dapat mengulangi pertanyaan Ayub, “Bagaimana manusia benar di hadapan Allah?” (Ayb. 25:4; 9:2). Ternyata bahwa ada jurang perbedaan yang besar di antara ketiga sahabat yang berpendapat bahwa Ayub sudah berdosa dan sedang dihukum Allah dengan Ayub yang bingung mengapa Allah melawan dia dan sepertinya menghukum dia tanpa alasan yang jelas.

Ayub menghadapi tuduhan Elifas dengan tetap menyatakan kerinduannya untuk berjumpa dengan Tuhan dan datang di hadapan tahtaNya untuk mencari keadilan (Ayb. 23:3-7). Melalui semua pergumulan dalam pembicaraannya dengan ketiga sahabatnya, Ayub sudah mendekati jawaban yang sebenarnya dengan mengaku, “Karena Ia tahu jalan hidupku; seaindainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayb. 23:10). Ayub meneruskan pembahasannya dengan menerangkan keagungan dan keadilan Allah, tetapi sayangnya dia juga menuduh bahwa Allah memedihkan hatinya walaupun dia tidak bersalah.  Dia bahkan bersumpah, “Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah.” (Ayb. 27:5).

Kemudian, Ayub pun merenungkan hikmat. Di manakah terdapat hikmat? Hanya Allah yang mengetahui jalan ke sana dan mengenal tempat kediamannya (Ayb. 28).

Ayub juga merenungkan masa lalu. Ada kemakmuran dan kenikmatan di dalam hidupnya di masa lalu. Dia diberkati Allah. Yang Mahakuasa beserta di pihaknya. Dia bersemayam seperti raja di tengah-tengah rakyat (Ayb. 29).

Lalu Ayub merenungkan masa sekarang. Dia menjadi sindiran dan ejekan. Dia mengalami kedahsyatan dan kesengsaraan, kesakitan dan rasa nyeri. Dia berseru kepada Tuhan minta tolong tetapi tidak tidak mendapatkan jawaban. Batinnya bergelora. Dia meratap dengan sedih, tanpa terhiburkan (Ayb. 30).

Berikutnya, Ayub merenungkan kebenarannya. Dia mendaftarkan dosa yang tidak dilakukannya. Dia tidak berzinah, dia tidak berdusta, dia tidak berbuat mesum, dia tidak mengabaikan hak orang miskin, janda atau anak yatim, dia tidak sombong, tidak menyembah berhala, tidak bersukacita atas orang yang membencinya, tidak menutupi pelangarannya seperti Adam. Sekali lagi, dia berseru kepada Allah, “Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku! Inilah tanda tanganku! Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku! Sekiranya ada surat tuduhan yang ditulis lawanku!” (Ayb. 31).

 

Pidato Elihu (Ayb. 32-37)

Tiba-tiba muncullah Elihu, seorang sahabat Ayub lainnya yang masih muda dibandingkan dengan ketiga sahabat yang telah berbicara sebelumnya. Elihu berusaha menjawab Ayub dan ketiga sahabat itu. Elihu menjelaskan bahwa Allah lebih daripada manusia dan  Allah berfirman kepada manusia dengan beberapa cara: mimpi dan penglihatan (Ayb. 33:15-18), penderitaan (Ayb. 33:19-22) dan malaikat penengah yang mengembalikan kebenaran kepada manusia dan adalah penebus (Ayb. 33:23-28).  Semuanya itu untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Elihu juga menegaskan bahwa Allah itulah benar dan adil dan tidak pernah bersalah. Bagaimana dengan Ayub? Elihu bertanya mengapa Ayub seakan-akan berkata bahwa kebenarannya lebih daripada kebenaran Allah. Elihu menilai  bahwa perkataan Ayub adalah sia-sia dan tanpa pengertian. Dia berkata bahwa Allah adalah perkasa dan mulia di dalam kekuasaanNya, dan dia menggambarkan kedatangan Tuhan dalam badai. Pidato Elihu sepertinya mempersiapkan Ayub untuk menghadapi perjumpaannya dengan Tuhan.

 

Pembelaan Ayub oleh Tuhan sendiri (Ayb. 38-42)

Akhirnya kerinduan Ayub dikabulkan. Tuhan Allah sendiri muncul kepadanya dalam badai. Ayub sudah bertanya kepada Tuhan. Sekarang Tuhan bertanya kepada Ayub dan meminta jawabannya. Tuhan menjelaskan keajaibanNya sebagai Pencipta langit dan bumi, laut dan terang, salju dan angin, hujan dan bintang, kilat dan awan. Kemudian, Tuhan juga menjelaskan kehebatan penciptaanNya dengan menggambarkan singa, kambing gunung, lembu hutan,  burung unta, kuda, burung elang, burung rajawali. Tanggapan Ayub menjawab penjelasan Tuhan ini adalah, “Aku terlalu hina. Jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu?” (Ayb. 38-40).

Selanjutnya untuk kedua kalinya, Tuhan menantang Ayub dari dalam badai. Kali ini Tuhan menjelaskan dua binatang. Yang pertama adalah “kuda nil”. Kata ini dalam bahasa Ibrani adalah “behemoth”, dan yang dimaksud di sini jelas sekali bukanlah kuda nil, melainkan dinosaurus. Demikian juga “buaya” yang adalah terjemahan dari “Lewiatan”. Kedua binatang itu justru dipakai oleh Tuhan sebagai gambaran kehebatan penciptaanNya (Ayb. 40-41).

Kemudian Ayub menjawab Tuhan, “Sekarang mataku memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayb. 42:5-6). Ayub kini melihat dirinya sebagai manusia yang diciptakan Allah, yang jauh lebih perkasa, penuh hikmat dan kebenaran daripada dirinya sendiri.

Tuhan puas dengan tanggapan dan pertobatan Ayub, tetapi marah kepada Elifas, Bildad, dan Zofar yang sudah mencela hambaNya. Ayub berdoa untuk mereka sehingga ketiganya diampuni oleh Tuhan. Pada akhirnya, Ayub dipulihkan dari penderitaanya, bahkan menerima berkat dua kali lipat daripada saat sebelumnya dan kesudahan hidupnya lebih diberkati daripada permulaannya.

 

Ada sungguh banyak pelajaran di dalam kitab Ayub. Tentang Iblis, kita belajar bahwa dia adalah penuduh setiap orang dan dia selalu berusaha menjatuhkan orang yang benar. Tentang manusia, kita melihat kelemahan, kegagalan dan kebodohan manusia di bawah tekanan saat menghadapi situasi yang tidak bisa dimengerti. Tentang Tuhan, kita belajar bahwa Dia mempedulikan manusia dan berusaha supaya kita dapat lebih dekat kepadaNya dengan lebih mengerti sifat dan rencanaNya, walaupun kita harus melewati percobaan yang berat. Tentang penderitaan, kita belajar bahwa di dalam semua hal yang terjadi di luar kontrol, kita harus tetap percaya kepada Tuhan yang baik dan mengerjakan semua hal bagi kebaikan kita. Penderitaan tidak selalu disebabkan oleh dosa.

Mengapa Tuhan mengizinkan orang benar menderita? Dalam kitab Ayub ini, tampak jelas bahwa Tuhan mempunyai caraNya sendiri, yang jauh melebihi pengertian kita yang terbatas oleh ruang dan waktu. Kehidupan kita di bumi ini bukanlah segalanya. Kita diciptakan untuk Tuhan dan untuk kekekalan, dan karena itulah Tuhan terus membawa kita memenuhi rencana dan maksudNya yang kekal itu, termasuk melalui berbagai penderitaan.

 

2020-04-22T14:25:48+07:00