//Kitab Keluaran : Dari Mesir ke Sinai

Kitab Keluaran : Dari Mesir ke Sinai

Israel di Mesir – Keluaran 1-13
Anak cucu Israel mengalami penindasan, aniaya dan penderitaan di Mesir. Ini merupakan penggenapan nubuatan yang diberikan kepada Abraham (Kej. 15:13-14. Kis. 7:6-7). Namun ternyata, orang Israel makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang (Kel. 1:11, 12, 20). Karena itu, Firaun memerintahkan agar semua anak laki-laki yang lahir dilemparkan ke dalam sungai Nil. Di tengah situasi ini, Musa lahir. Secara mujizat, dia diselamatkan dari kematian. Ini adalah gambaran kelahiran Yesus, di mana Yesus dan Musa keduanya selamat di tengah-tengah pembunuhan banyak bayi-bayi lain (Kel. 2; Ibr 11:23).

Selanjutnya, Musa dibesarkan di istana Firaun di tengah kekayaan dan pendidikan dalam hikmat Mesir. Ia bertumbuh dewasa dan mulai mengenal keadaan saudaara-saudaranya dalam kondisi kerja paksa. Ia pun berusaha menyelamatkan salah satu saudaranya, dan akibatnya ia membunuh seorang Mesir. Karena itu, ia lari ke Midian, lalu bertemu Yitro imam Midian dan menikah dengan anaknya, Zipora. Musa tinggal di padang pasir selama 40 tahun dan mendapat dua anak, Gershom yang berarti “pengungsi” dan Eliezer yang berarti “Tuhan adalah Penolong” (Kel 18:3-4).

Panggilan Musa – Keluaran 3-4
Saat hidup di pasang pasir, Musa sehari-harinya menggembalakan kambing domba Yitro. Saat menggembalakan inilah, ia mendengar panggilan Tuhan dari semak duri yang bernyala-nyala sementara. Lima kali ia memberi alasan mengapa ia tidak bisa menerima panggilan itu. Ia berkata, “Siapakah aku ini?” (Kel. 3:11);  “Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Kel. 4:13); “Bagaimana jika mereka tidak percaya?” (Kel. 4:1); “Ah Tuhan, aku ini tidak pandai bicara!” (Kel. 4:10); dan “Ah Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus!” (4:13). Ternyata Musa segan dan tidak mau diutus, walaupun Tuhan memberikan tanda, menyatakan namaNya, menyatakan mujizat sampai tongkat menjadi ular, tangan kena kusta dan air akan menjadi darah, bahkan Tuhan berjanji menyertai mulutnya dan mengajarnya apa yang harus dikatakan. Akhirnya, Tuhan juga berjanji bahwa Harun akan menyertainya, dan Musa pun rela pergi menghadap Firaun (Kel. 3-4). 

10 Tulah – Keluaran 5-11
Karena kerasnya hati Firaun yang tidak mengijinkan Bangsa Israel pergi untuk beribadah kepada Tuhan, sepuluh kali Tuhan mengirimkan tulah atas Mesir. Di sini kita melihat hukuman Allah dicurahkan, hukuman yang dimaksudkan untuk membawa manusia kepada Tuhan. Ternyata Firaun menolak hukuman itu dan tetap mengeraskan hatinya berulangkali, sampai Tuhan sendiri juga mengeraskan hati.  Perhatikan bahwa dalam beberapa hukuman terakhir, Bangsa Israel yang tinggal di Gosyen dipisahkan oleh Tuhan dari Mesir dan dilindungi dari hukuman-hukuman itu (Kel. 8:23 & 9:26). Melalui hal ini kita dapat belajar bahwa orang percaya, sama seperti semua manusia lain, mengalami bencana dan penderitaan, tetapi ada saatnya mereka juga akan dilindungi dan dipisahkan.

Paskah – Keluaran 12-13
Tulah yang ke-10 adalah kematian semua anak sulung di Mesir: manusia maupun hewan. Namun untuk melindungi dan memisahkan Bangsa Israel, Tuhan memberikan perintah Paskah. Dengan mengambil seekor anak domba, menyembelihnya dan membubuhkan darahnya atas pintu-pintu rumah, semua anak sulung yang tinggal dalam rumah itu akan selamat. Anak domba ini adalah gambaran Kristus, Paskah bagi kita (1 Kor. 5:7). Sampai hari ini, orang Yahudi tetap merayakan hari Paskah dan hari raya tidak beragi sebagai peringatan akan peristiwa itu.

Perjalanan ke Sinai – Keluaran 14-24
Karena kematian semua anak sulung di Mesir, akhirnya Firaun mengusir Bangsa Israel dari Mesir. Perjalanan Bangsa Israel dari Mesir ke Sinai menggambarkan perjalanan jemaat Yesus Kristus (1 Kor. 10:1-12). Israel disebut “sidang jemaah di padang gurun” (Kis. 7: 38). Apa maksudnya? Tuhan memimpin Israel sampai kepada Laut Merah (Teberau) dan membelah airnya supaya bangsa itu dapat menyeberang sementara tentara Firaun yang mengejar mereka semua tenggelam oleh air yang menutup kembali (Kel. 14-15). Hal itu menggambarkan baptisan dalam air. Tiang awan dan api memimpin Israel di tengah padang pasir. Kita juga dibaptis dan dipimpin oleh Roh Kudus. Manna, roti sorga, turun untuk memberi makanan orang-orang Israel (Kel. 16). Yesus adalah roti kehidupan, Firman yang turun dari sorga yang menjadi manna, yang hari demi hari memberi kekuatan, kesehatan dan pertumbuhan dalam hidup kita. Air keluar dari batu. (Kel. 17:1-7). Inilah gambar air kehidupan, Roh Kudus yang menyucikan kita dan memuaskan kehausan hati kita. Juga, di dalam perjalanan ada peperangan dengan musuh yang harus dihadapi, misalnya Bangsa Amalek (Kel. 17:8-16). Kita juga berperang bukan dengan darah dan daging tetapi pemerintah dan penguasa di tempat sorgawi. Lalu sebelum tiba di Sinai, Yitro, mertua Musa datang dan memberi nasehat yang kedengaran masuk akal dan baik tetapi tidak didasarkan menurut Firman Tuhan. Perhatikan dalam kitab Keluaran, dalam setiap pasal Tuhan berbicara langsung kepada Musa, kecuali dalam pasal 18, di mana tidak ada suara Tuhan dan hanya ada suara Yitro, seorang imam kafir dari Midian, yang berbicara kepada Musa (Kel. 18). Di pasal 18 ini kita melihat bahwa Musa pernah tidak mendengarkan suara Tuhan, namun justru mendengarkan suara manusia yang kelihatannya baik.

Bukit Sinai – Keluaran 19-24
Tuhan bertemu dengan Musa di Sinai dan menawarkan agar Israel menjadi imamat yang berkerajaan (Kel. 19:4-6). Di Sinai inilah Tuhan menyatakan diriNya dalam guruh, kilat, awan padat, asap, dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa. Musa hanya didampingi oleh Yosua naik ke atas gunung untuk berbicara dengan Tuhan. Dan di sanalah, Tuhan memberikan Perjanjian Taurat dengan segala perintah, hukuman dan janjinya.

Kemah Musa – Keluaran 25-40
Dalam bagian ini ada dua penjelasan tentang kemah Musa: yang pertama adalah perintah Allah dalam hal pola yang harus diikuti (Kel. 25-31); yang kedua adalah penjelasan bagaimana semua hal dibuat menurut “seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” (Kel. 36-40).

Kemah Musa adalah gambar tentang Kristus sendiri. Kristus menjadi manusia dan berdiam (berkemah) di antara kita (Yoh. 1:14). Kemah itu juga menggambarkan perjalanan kita dalam “kemah kediaman kita” untuk mengenal dan mendekati Tuhan (2 Kor. 5:1). Selain itu, kita juga melihat bahwa kemah Musa adalah gambaran dari sorga sendiri (Ibr. 9:24). Penggambaran ini lebih jelas lagi terlihat dalam Kitab Wahyu. Sekarang mari kita lihat tiga bagian besar dalam Kemah Musa: pelataran, tempat kudus dan tempat maha kudus.

1. Pelataran adalah tempat di mana korban-korban bangsa Israel dipersembahkan. Apa saja alat yang ada di pelataran?
Mezbah korban bakaran, di mana semua korban harus dipersembahkan. Ini adalah gambaran kematian Yesus  di salib sebagai korban sempurna yang memperdamaikan kita dengan Allah. Alat itu menggambarkan peristiwa kelahiran baru, di mana kita percaya dan bertobat, dan dosa kita dihapuskan oleh darah Yesus. Kita menerima kelahiran baru dan mengambil langkah pertama dalam mendekati Tuhan (Kel. 27:1-8; 38:1-7).

Kolam pembasuhan, yang menggambarkan baptisan air, di mana kita mati, dikuburkan dan dibangkitkan dengan Kristus. Kita dibersihkan, dikuburkan dalam air dan bangkit untuk hidup dalam kehidupan baru dan kudus (Kel. 30:1-21; 38:8).

2. Tempat kudus, di mana imam masuk untuk melakukan pelayanan setiap harinya. Ada tiga alat di dalamnya:
Kandil, berbicara tentang Yesus sebagai terang dunia. Terdiri dari 66 bagian yang menggambarkan Firman Tuhan (66 kitab dalam Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) yang menjadi terang bagi kita. Sembilan bagian menggambarkan 9 karunia Roh Kudus. Nyalanya dihidupkan oleh minyak yang menggambarkan Roh Kudus pula. Tujuh cabang menggambarkan membayangkan Jemaat Tuhan yang penuh Roh dan Firman (Kel. 25:31-40; 37:17-24; Why. 1:20).

Meja roti sajian berbicara tentang Yesus sebagai roti kehidupan dan Firman Tuhan itu sendiri. 12 ketul roti di atas meja menggambarkan pengajaran 12 rasul (Kel. 25:23-30; 37:10-16).

Mezbah dupa berbicara tentang Yesus sebagai Pendoa syafaat bagi kita. Mezbah dupa ini melambangkan doa, pujian dan penyembahan, yang menjadi jalan yang kita lalui untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan (Kel. 30:1-10; 37:25-28 & Why. 8:3).

3. Tempat Maha Kudus, yang hanya boleh dimasuki sekali setahun oleh Imam Besar untuk penebusan dosa semua umat Israel. Ada benda yang sangat penting dalam Tempat Maha Kudus ini.

Tabut perjanjian, yang mengekspresikan kemuliaan hadirat Tuhan. Di atasnya adalah tutup pendamaian. Di sini kita melihat bayangan dari kesempurnaan. Tabut itu adalah dalam tempat maha kudus yang terletak di belakang tirai, tempat pertemuan dengan Tuhan sendiri (Kel. 25:10-22; 37:1-9; Why. 11:19).

Di antara kedua bagian besar dalam Kitab Keluaran, diceritakan pemberontakan Israel dan pembuatan anak lembu emas (Kel. 32-34). Saat Musa tinggal 40 hari di atas gunung, Bangsa Israel kehilangan kesabaran dan menyuruh Harun membuat dewa bagi mereka. Karena tidak percaya, tidak sabar, mereka berdosa dan menyembah berhala. Demikianlah mereka kehilangan kerajaan imam dan akhirnya menerima keimamatan Lewi. Sebagai akibatnya, mereka takluk di bawah Hukum Taurat.

Ada begitu banyak pelajaran, teladan dan contoh bagi kita di dalam Kitab Keluaran. Kiranya kita semua akan membaca, mempelajari dan mengerti apa yang ditulis di sini sebagai nasehat dan pengajaran bagi kita yang hidup sebagai umat Tuhan pada akhir zaman.

2020-04-22T14:21:16+07:00