//Kitab Kidung Agung

Kitab Kidung Agung

Penulis kitab Kidung Agung  adalah Raja Salomo, yang juga merupakan penulis kitab Amsal dan kitab Pengkhotbah, sesuai pernyataan di ayat pertamanya: “Kidung agung dari Salomo”. Salomo telah menggubah tiga ribu amsal, dan kidung Agung adalah salah satu dari total 1005 nyanyian yang ditulisnya (1 Raj. 4:32). Dalam bahasa Ibrani, judul kitab ini adalah “Shir-HaShirim” atau “Nyanyian di atas semua nyanyian”. Nyanyian ini adalah nyanyian cinta antara seorang pria dan seorang wanita. Inilah gambaran cinta kasih antara suami dan istri, yang berwujud perkawinan yang berdasarkan kasih yang sejati, yang dapat bertahan melewati ujian, “kuat seperti maut” (dan) kegairahannya “gigih seperti dunia orang mati”, dan “tak dapat dipadamkan oleh air banyak” serta “tak dapat dihanyutkan oleh sungai-sungai”. (Kid. 8:6-7).

 

Orang Yahudi menafisirkan kitab sebagai gambaran atau lambang kasih antara Tuhan Allah dan bangsa Israel, seakan-akan Tuhan sudah mengadakan perjanjian nikah dengan bangsa Israel dalam perjanjianNya dalam kitab Ulangan.  Keindahan hubungan ini diekspresikan dalam kitab Kidung Agung. Sebaliknya kegagalan Israel dalam mempertahankan hubungannya dengan Tuhan dan ketidak-kesetiaan dan perzinahannya digambarkan dalam kitab Hosea. Namun kitab Hosea juga memberikan harapan bahwa Israel akan kembali kepada Tuhan dengan kasih yang mula-mula (Hos. 2:14-23).

 

Bagi orang Kristen, Kidung Agung melambangkan kasih antara Kristus dan Gereja. Kita tahu bahwa Yesus mengungkapkan diriNya sebagai pengantin laki-laki (Mat. 9:15), dan Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai pengantin laki-laki (Yoh. 3:29). Paulus juga berkata, “Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” (2 Kor. 11:2).  Paulus menyatakan juga bahwa hubungan Kristus sebagai suami dan Gereja sebagai istri merupakan rahasia besar (Ef. 5:21-33). Pada akhir zaman, penggenapan dan puncak rahasia ini akan menjadi nyata dalam wujud perkawinan Anak Domba dengan Pengantin Wanita Kristus (Why. 19:6-9).

 

Cinta adalah tema utama kitab Kidung Agung. Wujud cinta itu diekspresikan dengan hubungan intim antara suami dan istri. Mereka saling mengutarakan kekaguman dan kerinduan kepada satu sama lain. Nyanyian ini dengan jelas menunjukkan bahwa perkawinan adalah rencana Allah. Tuhan menciptakan seorang suami dan seorang istri untuk saling mengasihi dengan seluruh tubuh, jiwa dan roh. Kebenaran di dalam kitab ini berlawanan dengan dua paham ekstrem, yaitu (1) asketisme/penyiksaan diri yang mengajarkan bahwa kita tidak boleh menikmati kenikmatan sensual, dan (2) hedonisme/kenikmatan diri yang mengajarkan bahwa hanya kenikmatan sensuallah yang dapat memuaskan diri manusia. Pelajaran tentang perkawinan di dalam kitab ini sangat jelas. Kita perlu sungguh menaruh perhatian kepada pasangan kita dan mengambil waktu untuk makin mengenal sifatanya dan kepentingannya. Kita perlu saling memuji dengan memperhatikan sifat yang baik. Kita perlu saling menikmati satu sama lain. Walaupun menghadapi masalah, kita perlu selalu mencari solusinya bersama-sama sebagai pasangan. Kehendak dan niat Allah untuk perkawinan adalah supaya suami dan istri saling belajar mengenal satu sama lain dan menikmati kasih yang aman, intim dan sempurna.

 

Walaupun ada beberapa tafsiran yang lain, kita akan memeriksa kitab ini dengan tafsiran bahwa ada tiga pembicara yang menyanyikan isinya, yaitu Salomo, gadis Sulam, dan paduan suara yang terdiri dari para wanita Yerusalem.

 

Salomo, walaupun merupakan seorang laki-laki yang mempunyai banyak istri, dalam kitab ini merupakan seseorang yang hanya mencari satu pasangan. Mungkin nyanyian ini menggambarkan kerinduan Salomo untuk menemukan satu-satunya wanita yang dapat memuaskan hatinya. Hal itu menggambarkan Mesias yang mencari pengantin perempuan di dalam Perjanjian Baru (1 Kor. 11:2; Ef. 5; Why. 19). Dalam Mazmur 72, kita juga membaca tentang Salomo, tetapi yang digambarkan adalah Mesias yang akan datang dan menjadi Raja Damai. Jadi Salomo juga dapat dilihat dalam kitab ini sebagai seorang laki-laki yang mencari dan mencintai satu wanita saja sebagai pasangannya.

 

 

Bagian 1: Saling bertemu (Kid. 1:1-3:5)

Gadis Sunem dibawa ke dalam mahligai-mahligai raja Salomo (Kid. 1:4). Gadis itu mulai merenungkan kekurangannya.  Dia sadar bahwa dia hitam. Dia mengaku bahwa dia tidak menjaga kebun anggur. Dia ingin mencari kekasihnya (Kid. 1:7), namun merasa tidak layak dipanggil menjadi kekasih seorang raja. Kekasihnya itu mengajak gadis itu untuk mengikut jejak-jejak domba dan menggembalakan anak-anak kambing (Kid. 1:8). Mereka pun saling puji-memuji, “Engkau manisku!”, “Engkau tampan!”

 

Kedua kekasih saling mencari satu sama lain. Hal itu menggambarkan kehausan dan dahaga untuk kebenaran, yaitu kerinduan untuk mengenal Tuhan Yesus Kristus. “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!” (Kid. 1:2).

 

Salomo membawa gadisnya ke rumah pesta (Kid. 2:4). Sudah tiba musim semi, waktu untuk mengalami cinta (Kid. 2:11-15), namun gadis itu belum siap dan menyuruh kekasihnya pergi. “Kembalilah, kekasihku, berlakulah seperti kijang, atau seperti anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah!” (Kid. 2:17)

 

Sendirian di rumahnya, gadis itu mulai merasa kehilangan dan mencari sanng kekasih. “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia.” (Kid. 3:1). Betapa sedih hatinya, karena sudah melalaikan kesempatan dan rasa kehilangan  kekasihnya! Begitulah kita, kalau tidak menghargai panggilan Yesus untuk hidup bersama Dia dan tinggal di dalam hadiratNya! Gadis itu mencari kekasihnya, sampai ditemukannya dan dibawanya ke rumah orang tuanya. Dia tidak mau melepaskan kekasihnya lagi (Kid. 3:1-5).

 

Bagian 2: Saling jatuh cinta (Kid. 3:6-5:1)

Paduan suara Yerusalem menyanyi tentang kedatangan Salomo dalam prosesi atau pawai untuk menemukan gadis itu (Kid. 3:6-11). Mereka menyanyi tentang harumnya, jolinya atau tandunya, pahlawannya dengan senjatanya, mahkotanya… semuanya, dan semuanya itu luar biasa. Semua puteri Sion dipanggil keluar untuk melihat kehebatan kedatangannya, lalu Salomo memuji pengantinnya dengan puisi (Kid. 4:1-7). Salomo memandang gadis itu sebagai wanita yang sempurna, cantik sekali, manis, tanpa cacat cela. Bandingkan dengan kasih Kristus bagi GerejaNya yang persis seperti ini (Ef. 5:25-27). Dia memberitahukan kepada pengantinnya bahwa dia menuju ke gunung mur dan ke bukit kemenyan. Betapa luar biasa kemuliaan Kristus itu!

 

Salomo lalu memanggil pengantinnya untuk ikut dan tinggal bersama dia (Kid. 4:8-16; 5:1). Dia memanggilnya untuk menikmati kasih yang sempurna. Dia memanggilnya untuk masuk ke dalam kebunnya, tempat mata air, bunga, buah dan rempah, serta tempat angin segar bertiup. Kerinduan Tuhan untuk kita mengalami persekutuan penuh dengan Dia diungkapkan dalam ayat-ayat ini. Betapa besar kasih Allah kepada kita!

 

Bagian 3: Pergumulan karena kehilangan kekasih (Kid. 5:2-16)

Salomo mengunjungi gadis itu di rumahnya dan memanggilnya tetapi ia ternyata belum siap (Kid. 5: 2-8). Gawat! Gadis itu tertidur dan lalai! Dia malas dan tidak siap menerima kekasihnya, hanya memikirkan kepentingan diri sendirinya. Salomo memanggilnya dan mencoba membuka pintu, tetapi gadis itu tidak siap bangun. Salomo mundur dan meninggalkannya. Akhirnya gadis itu bangun dan membuka pintu tetapi dia terlambat. “Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap.” (Kid. 5:5). Betapa sedih perkataan ini! Gadis itu hampir pingsan saking sedihnya. Hal itu seperti Yerusalem yang tidak mengetahui saatnya Allah melawat. Tidak heran bahwa Yesus menangisinya (Luk. 19:41-44).

 

Gadis itu keluar ke kota mencari kekasihnya, tetapi justru dianiaya oleh penjaga-penjaga kota di jalan. Dia dipukuli, dilukai, dan selendangnya dirampas. Di pertengahan penganiayaan itu,waktu dipertanyakan oleh puteri-puteri Yerusalem, gadis itu mulai menceritakan kehebatan kekasihnya. Gadis itu mulai memikirkan dan merenungkan keindahan dan kebaikan Salomo dan mulai memuji-muji kekasihnya itu. Kalau di rumah yang dipikirkan dirinya sendiri,  tetapi sekarang waktu kehilangan kekasihnya, gadis itu mulai menghargai dan mencari sang kekasih lagi. Pengakuannya, “Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku!” (Kid. 5:9-16). Apakah itu juga merupakan pengakuan kita tentang Kristus Sang Kekasih jiwa kita?

 

Bagian 4: Perkawinan (Kid. 6-8)

Puteri-puteri Sion bertanya ke jurusan mana Salomo pergi, supaya mereka juga boleh mencarinya. Gadis itu tidak perlu pertolongan mereka, karena dia mengenal ke mana Salomo pergi. Dia tahu bahwa Salomo sudah kembali ke kebunnya. Dia menyatakan, “Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku.” (Kid. 6:1-3). Waktu bertemu lagi, Salomo siap menerima gadis itu. Dia memujinya lagi tanpa menyalahkannya atau menegurnya untuk kelalaiannya. Walaupun ada banyak wanita lain, permaisuri, selir dan dara-dara, hanya gadis itulah satu-satunya kesayangannya (Kid. 6:4-7).

 

Pada fase ini, kita melihat bahwa ada suatu perubahan yang telah terjadi. Gadis itu, karena hubungannya dengan kekasihnya, menjadi wanita yang luar biasa, sampai orang-orang di kota terkejut, “Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya?” (Kid. 6:10). Dahsyat sekali transformasinya! Gadis yang hitam, yang menggembalakan domba di kebun itu, sudah menjadi laksana matahari! Inilah  gambaran yang sama dengan wanita yang berselubungkan matahari, dengan berdiri di bulan dengan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya, yaitu Pengantin Perempuan Kristus sendiri (Why. 12:1).

 

Gadis itu pergi ke kebun dan ditempatkan di atas kereta bangsawan. Dia menjadi istri Salomo. Sepertinya tanpa sadar, dia sudah menjadi ratu dan termasuk tentara Salomo juga. Hal itu juga menggambarkan Gereja yang akan muncul sekaligus sebagai pengantin Anak Domba dan sebagai tentara sorga (Why. 19:7-14). Melihat gadis Sulam itu seperti melihat tari-tarian perang (bahasa Ibrani: “Mahanaim”) (Kid. 6:13). Gereja akan menjadi pemenang, kudus, benar, mengalahkan segala musuh dan menari dengan sukacita!

 

Salomo lagi-lagi memuji pengantinnya dan gadis Sulam pun menanggapinya dengan ucapan pujian dan kasih. Gadis itu sudah berbah dalam sikapnya. Dia mau pergi ke mana pun Salomo pergi dan mengerjakan apa yang Salomo kerjakan (Kid. 7:1-13). Akhirnya, gadis itu mengucapkan kerinduannya agar kasih mereka menjadi nyata kepada dunia. Kasihnya kepada Salomo tidak terbatas. Salomo menjadi segalanya bagi dia.

 

Paduan suara pun lagi-lagi bertanya, “Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya?” Ini adalah gambaran Pengantin Perempuan yang akan dilindungi selama tiga setengah tahun di padang gurun, yang akan keluar darinya bersama Anak Domba Allah (Why. 12;19; 19). Pengantin Perempuan keluar dengan dimeteraikan oleh meterai kasihNya, meterai yang menjadikannya milik kekasihnya. Kasih adalah seperti api. Kita dimeteraikan dengan Roh Kudus, dibaptiskan dengan Roh api yang mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (Mat. 3:11; Ef. 1:13-14 ; Rm. 5:5). Kasih itu seperti maut, dan kekal. “Nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” (Kid. 8:7).  Kasih itu tak dapat dipadamkan dan tidak dapat dihanyutkan. Luar biasa kasih Allah!

 

Bagian 5: Adik perempuan (Kid. 8:8-10)

Kita diingatkan bahwa dibutuhkan proses waktu untuk bertumbuh menjadi dewasa. Perkawinan tidak bisa terjadi sebelum seorang gadis bertumbuh dan menjadi dewasa. Ada musim untuk perkawinan. Sebelum waktu dan saatnya tiba, perkawinan tidak mungkin terjadi. Demikianlah kita menanti-nanti saatnya tiba kita akan menjadi dewasa, sempurna, dan siap menjadi Pengantin Perempuan Kristus.

 

Bagian 6: Kebun anggur (Kid. 8:11-12)

Salomo memiliki kebun dan banyak pekerja, yang bekerja untuk gaji. Gadis itu juga memiliki kebun, tetapi segala hasilnya hanya untuk Salomo. Apakah kita bekerja bagi Tuhan hanya untuk memperoleh berkat, mendapat hasil yang memuaskan diri kita, atau apakah kita seperti gadis Sulam yang mau memberi segala sesuatu hanya untuk Dia saja?

 

Bagian 7: Perkataan akhir (Kid. 8:13-14)

Raja Salomo ingin mendengar suara pengantinnya. Ratunya mengingat waktu dia menyuruh kekasihnya kembali, “…berlakulah seperti kijang, atau seperti anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah.”  Pada waktu itu, si ratu yang saat itu masih merupakan gadis yang belum terlalu dewasa dalam cinta kasih menyuruh Salomo pergi. Namun sekarang, dia mengundangnya berjalan bersama dengan perkataan yang sama, “…berlakulah seperti kijang, atau seperti anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah.” Bersama-sama, mereka seperti rusa, akan naik turun gunung (Kid. 4:8), menikmati harumnya bunga-bunga di taman (Kid. 4:13-16), menjelajahi padang, dan bermalam di antara bunga-bunga pacar (Kid. 7:11). Ini sesuai dengan nubuat Habakkuk, “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” (Hab. 3:19). Pengantin laki-laki dan pengantin perempuan pun makin bertumbuh dalam kasih.

Kitab Kidung Agung penuh dengan lambang. Ada pelajaran bagi kita tentang perjalanan rohani kita (spiritual journey) dalam mengenal Kristus, kebenaran profetis tentang Kristus dan Gereja pada akhir zaman, sekaligus pelajaran praktis dalam hidup kita sehari-hari sebagai suami dan istri dalam perkawinan. Semuanya berdasarkan kasih, dan kesimpulannya adalah “Kasih tidak berkesudahan” (1 Kor. 13:8).

2020-04-22T14:33:55+07:00