//Kitab Nahum

Kitab Nahum

Perkataan penghiburan kepada kaum Yehuda adalah: “Rayakanlah hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab tidak akan datang lagi orang dursila menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali!” (Nah.1:15). Inilah janji bahwa umat Tuhan akan hidup berkemenangan dalam damai sejahtera. Mereka akan bebas beribadah kepada Tuhan dengan merayakan hari rayanya. Sekali lagi, bukankah hal ini ini membawa penghiburan untuk umat Tuhan?

Pelayanan Nabi Yunus disusul oleh nubuatan Nabi Nahum. Sesudah pelayanan Yunus, kota Niniwe bertobat dan hukuman yang dijanjikan Allah dibatalkan. Namun, ternyata Niniwe kembali berbuat kejahatan lalu Nahum diutus untuk mengumumkan murka Allah dan memberitakan hukuman yang akan dilaksanakan atas kota itu. Kali ini, orang Niniwe tidak bertobat dan hukuman tidak dibatalkan. Kira-kira 150 tahun sesudah bertobat waktu pemberitaan Yunus, kota Niniwe dihancurkan dan dibinasakan.

Kitab Nahum ditulis sesudah kejatuhan Thebes (No-Amon) di Mesir, yang terjadi pada tahun 633 SM oleh raja Asyur, Ashurbanipal II (Nah. 3:8). Kitab ini juga ditulis sebelum kehancuran Niniwe, yang terjadi pada tahun 612 SM oleh Babil dan Media, yang dipimpin oleh Raja Nabopolassar. Pada saat itu Niniwe adalah kota terbesar di seluruh dunia. Sesudah kehancurannya, Niniwe tidak pernah bangkit lagi tetapi justru habis tertutup oleh pasir selama ribuan tahun. Bahkan, kota Niniwe jadi pernah diragukan eksistensinya. Pada tahun 1842, barulah kota itu ditemukan kembali oleh para arkeolog dan puing-puingnya digali lalu diekskavasi dari pasir.

 
Tuhan Akan Menghukum Niniwe: Nahum 1

Kitab ini berawal dengan deklarasi wahyu tentang Tuhan sendiri. Allah dinyatakan sebagai Pribadi yang cemburu, pembalas, dan penuh amarah, sekaligus juga panjang sabar dan penuh kuasa. Dua sifat Allah nyata dalam wahyu ini: kekerasan dan kelemahlembutan. Kalau kita mau mengenal Tuhan, penting bahwa kita memahami bahwa Tuhan penuh kasih dan damai sejahtera, tetapi sekaligus juga penuh keadilan dan kebenaran (Nah. 1:2-3; Mzm. 85:11).

Tuhan akan datang! Ia akan berjalan dalam angin puting beliung dan badai yang menimpa laut, sungai, gunung, dan bukit. Seluruh bumi akan merasakan dampaknya. Kalau Tuhan murka, siapakah akan tahan berdiri? Kalau Tuhan datang, ada api dan gempa bumi. Semuanya ini adalah kejadian yang sangat menakutkan. Memang takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat dan pengetahuan (Nah. 1:3-6)!

Namun di tengah-tengah semuanya itu, Tuhan sendiri adalah tempat pengungsian dan perlindungan. Musuh-Nya akan dihalau dan dihabisi, dan umat-Nya yang berlindung kepada-Nya akan aman dan sejahtera. Hanya Tuhan sendirilah tempat perlindungan kita yang aman (Nah. 1:7-8).

Kemudian, ternyata ada yang menentang Tuhan, yaitu seorang manusia, penasihat dursila yang merancang kejahatan terhadap TUHAN. Dialah gambaran Antikristus bersama segala tentaranya yang menentang Kristus dan umat-Nya. Dia bersama pengikutnya akan menjadi seperti debu dan jerami, akan dipatahkan dan dihapuskan. Juga segala patung dan berhalanya akan dilenyapkan. Nubuat itu adalah tentang raja Asyur, tentaranya, dan segala dewanya, yang dilenyapkan dari sejarah selama lebih dari 2.000 tahun. Nubuatan ini sesuai dengan nubuatan Yesaya. Tuhan akan menghukum perbuatan ketinggian hati raja Asyur serta sikapnya yang angkuh dan sombong (Yes. 10:12). Tuhan akan mematahkan gandarnya dan memutuskan belenggu-belenggu yang menyiksa umat-Nya (Nah. 1:9-15).

Di tengah-tengah berita hukuman itu, kita disuruh mengangkat mata dan menengok orang yang di atas gunung-gunung yang mengabarkan berita damai sejahtera. Janji ini bernubuat tentang pemberitaan Injil yang akan terjadi pada akhir zaman. (Bandingkan dengan Yesaya 52:7 dan Roma 10:15). Yehuda akan merayakan hari rayanya dalam keadaan penuh sejatera dan damai karena musuh itu akan dilenyapkan sama sekali! Di dalam murka-Nya, Allah mengingat akan kasih sayang (Hab. 3:2; Nah. 1:16).

 
Niniwe Akan Hancur: Nahum 2

Pasal ini bernubuat tentang kejatuhan kota Niniwe pada tahun 612 SM. Kejatuhannya dicatat dalam sejarah dan semuanya terjadi sebagaimana dinubuatkan Nahum.

Asyur terkenal karena mengambil rampasan dari emas dan perak dan simpannya di kota Niniwe. Kota itu sudah mengumpulkan kekayaan yang luar biasa tetapi semuanya dirampas (Nah. 2:1-2). Senjata Asyur luar biasa. Ada perisai yang berwarna merah, seragamnya pakaian kirmizi, keretanya berkilat-kilat, kudanya dan pasukan-pasukannya pun berpacu seperti kilat. Pasukan-pasukan istimewa dikerahkan, tetapi mereka tersandung jatuh di waktu berjalan maju; mereka lari terburu-buru ke arah tembok kota sementara alat pendobrak sudah ditegakkan. Musuh menyerang dan mereka lari, mereka terjatuh. Pintu Sungai Efrat dan Tigris dibuka. Banjir besar terjadi sampai benteng pertahanan kota roboh. Istananya gempar. Para wanitanya meratap. Penjarahan besar terjadi. Kebanggaan dan kesombongan diganti dengan ketakutan dan gemetar (Nah. 2:3-10).

Orang Asyur sering menggambarkan rajanya dan pahlawannya sebagai singa yang ganas yang mencari mangsa, tetapi Tuhan berkata mereka akan lari bersembunyi dan mereka sendiri menjadi mangsa karena lawannya bukan manusia, tetapi Tuhan semesta alam (Nah. 2:11-13).

 
Niniwe Layak Dihukum: Nahum 3

Niniwe adalah kota berdosa, penuh penumpah darah, penuh dusta belaka, perampasan, dan penerkaman. Tentara musuh akan datang dan menyerang mereka bagaikan “pedang bernyala-nyala dan tombak berkilat-kilat!” Banyak penduduknya akan mati terbunuh dan bangkai mereka akan bertimbun-timbun!  Itu memang terjadi sesuai yang dinubuatkan. Pada tahun 1989 dan 1990, pintu Niniwe diekskavasi dan ditemukan tulang-tulang dari prajurit Niniwe yang dibunuh pada tahun 612 (Nah. 3:1-3). 

Semua hukuman ini terjadi karena amoralitas dan sihir. Tuhan sendiri menjadikan mereka tontonan dunia, dihina karena kejahatan. Niniwe tidak lebih baik dari kota Tebe (nama lainnya kota No-Ammon), sebuah kota di Mesir yang dihancurkan pada 663 SM. Seperti Tebe dihukum, demikianlah akan terjadi kepada Niniwe. Hal itu mengingatkan kita bahwa hukuman Allah pasti akan datang. Walaupun ditunda karena kemurahan dan anugerah, pada akhirnya kalau tidak ada pertobatan, murka Allah akan menyala-nyala dan membawa kebinasaan (Nah. 3:4-8).

Kekalahan Niniwe total. Tidak ada yang dapat menyelamatkannya. Sekutunya akan meninggalkannya. Laskarnya akan lari seperti perempuan. Semua pintunya terbuka lebar. Kota itu akan dibakar api. Penduduknya akan dibunuh dengan pedang. Penjaga dan pengawal lari menghilang dan lenyap seperti belalang pada waktu panas. Celaka! Tidak ada pemulihan! Tidak ada keselamatan! Tidak ada kesempatan bertobat lagi! Kesudahannya tiba dan semua orang yang mendengar berita itu bertepuk tangan dan bersukacita. Menurut temuan para arkeolog, demikianlah yang terjadi di Niniwe. Dalam puing-puing dan dalam catatan sejarah, dapat dilihat bahwa semuanya terjadi sebagaimana dinubuatkan (Nah. 3:9-19).

 
Pelajaran dari Kitab Nahum

Walaupun Nabi Nahum menulis kitab itu kira-kira 2.600 tahun yang lalu dan nubuatan di dalamnya sudah digenapi segera dengan kejatuhan kota Niniwe pada tahun 612 SM, kitab ini masih sangat relevan hari ini. Matthew Henry, seorang ahli Alkitab, 250 tahun yang lalu pernah berkata, “Wahyu murka Allah terhadap musuh-Nya bersangkut-paut dengan Niniwe (Nah. 1:8) dan seharusnya bersangkut-paut juga dengan semua yang terus–menerus berbuat kejahatan.” 

Salah satu contoh yang jelas pada zaman ini adalah rezim Saddam Hussein. Kotanya, Baghdad, dibangun juga di sungai yang sama dengan Niniwe, yaitu Sungai Tigris. Tentara Amerika Serikat melawan tentara Irak. Nama perang itu adalah “Badai Padang Pasir” (Desert Storm). Tuhan memanng berjalan dalam badai (Nah. 1:3). Perang itu berhubungan dengan hari raya Israel (Nah. 1:15). Perang dimulai persis pada hari raya Purim 2003 pada tanggal 19 Maret, dan serangan utama selesai 21 hari kemudian pada tanggal 9 April dalam bulan ketika dirayakan Paskah. Tentara AS menyeberangi Sungai Tigris dan menghancurkan istana Sadam (Nah. 2:6). Banyak rampasan diambil (Nah. 2:9). Saddam ditangkap saat bersembunyi di liang, yaitu lubang atau gua di bumi (Nah. 2:12). Saddam disebut “Singa Babel” dan di antara pasukannya ada pasukan berisi 8.000 anak muda yang disebut “anak-anak singa Saddam” (Nah. 2:13). Tank-tanknya juga disebut “Singa Babel”. Tank Irak dibakar mejadi asap (Nah. 2:13). “Baghdad Bob” atau Menteri Penerangan, Muhammad Saeed al-Sahhaf, terkenal dengan dustanya (Nah. 3:1). Saddam terkenal karena pembunuhannya yang banyak (Nah. 3:1). Kemudian, Irak menjadi tontonan dunia (Nah. 3:9). Pada akhir perang itu, para pengawal dan jenderalnya lenyap dan tidak dapat ditemukan (Nah. 3:18). Pada hari kejatuhan Saddam, segala patungnya dan gambarnya dihancurkan (Nah. 1:14). Orang bertepuk tangan dan bersukacita karena kejatuhannya (Nah. 3:19). Ada banyak persamaan di antara peristiwa perang Irak dengan apa yang dinubuatkan Nahum. Mungkin, itulah tanda peringatan bagi generasi kita. 

Apa lagi yang dapat dipelajari dari kitab Nahum? Sebenarnya, dalam kitab ini ada penghiburan. Nahum berarti “penghiburan” dan mengetahui bahwa Tuhan berkarya dan berkuasa dalam sejarah sungguh menghiburkan kita. Tuhan adalah perlindungan kita. Hukuman atas orang fasik dan orang jahat pasti akan datang! Tuhan berjanji bahwa akan ada pembalasan. Selain itu, karena kita tahu bahwa kehancuran akan datang, betapa suci dan salehnya kita harus hidup (2 Ptr. 3:11)! Kalau Tuhan sanggup memenuhi janji hukuman, pasti Ia juga sanggup melindungi kita. Baiklah kita memperhatikan perkataan Rasul Paulus: “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga,” (Roma 11:22). 

Betapa jelas peringatan Nahum bagi generasi kita yang berulang-ulang diberi kesempatan bertobat! “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan,” (Gal. 6:7). Kebenaran ini begitu terang dalam dua kitab nabi kecil yang telah kita pelajari, yaitu kitab Yunus dan Nahum. 

2020-04-22T14:33:54+00:00