//Kitab Obaja

Kitab Obaja

Obaja adalah kitab yang paling pendek dalam Perjanjian Lama, terdiri dari hanya satu pasal. Beritanya berhubungan dengan Edom dan Sion. Apa relevansinya dengan diri kita? Apa gunanya bagi kita? Apa maknanya dalam sejarah? Apa maksud rohaninya dalam kehidupan kita sehari-hari? Apa makna nubuatannya yang berhubungan dengan akhir zaman?

Bangsa Edom adalah bangsa yang terdapat dalam sejarah tetapi sudah punah dan tidak ada lagi saat ini. Dosanya dan hukumannya sepertinya tidak berhubungan dengan kehidupan kita. Namun, kita perlu mengerti apa dan siapa itu Edom.

Sebagai tempat, Edom adalah daerah yang dikuasai oleh keturunan Esau. Negerinya juga disebut Idumea dan Duma. Pegunungannya adalah Gunung Seir. Selain itu, juga ada beberapa kota penting di Edom: Sela (yang kemudian disebut Petra), Bozrah, dan Teman. Tempat-tempat itu semua dipakai sebagai lambang bangsa Edom. Semuanya sudah dihukum oleh Tuhan sebagaimana dinubuatkan Obaja dalam kitab ini.

Sebagai bangsa, Edom adalah orang-orang keturunan Esau, saudara kandung Yakub (Kej. 25:22,29-34). Esau sendiri adalah anak sulung Ishak, pewaris segala hak kesulungan dan berkat Tuhan. Namun, dia menghina dan memandang ringan warisan itu dengan menjualnya demi mendapatkan sepiring kacang merah untuk memuaskan keinginan dagingnya (Kej. 25:29-34). Dengan menjual hak kesulungan, Esau memandang ringan perjanjian Tuhan, warisannya di bumi dan di surga, hubungan pribadinya dengan Tuhan, serta berkat Allah. Dengan perbuatannya itu dia menjadi gambaran dan bayangan sifat kedagingan atau tabiat duniawi (Ibr. 12:16-17.). Sifat yang demikian itu dibenci oleh Tuhan.

Demikianlah, Edom menggambarkan dan membayangkan tabiat duniawi dan sekaligus secara profetis melambangkan bangsa-bangsa duniawi yang akan bergabung dengan Antikristus untuk menentang dan berperang melawan umat Tuhan pada akhir zaman.

Dalam kitab Obaja, jelas terlihat bahwa Edom dikutuk Allah, dan hal ini diteguhkan juga di berbagai kitab lainnya. Edom disebut dalam kitab Yesaya sebagai “bangsa yang Kukhususkan untuk ditumpas” (Yes. 34:5). Maleakhi menyebut Edom “bangsa yang kepadanya Tuhan murka sampai selama-lamanya (Mal. 1:4). Dalam kitab Yehezkiel, Tuhan berkata kepada Edom, “Aku akan menjadi lawanmu,” (Yeh. 35:3). Kemudian, lagi di Maleakhi dikatakan oleh Tuhan, "Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau,” (Mal. 1:2-3).

Kalau kita memperhatikan hal-hal itu, ada berbagai segi dan pesan yang perlu kita pahami dalam kitab Obaja.
* Pertama, kita bisa belajar tentang makna Edom dalam sejarah.
* Kedua, kita bisa menemukan maksud rohaninya untuk kehidupan kita sehari-hari.
* Ketiga, kita bisa memahami makna nubuatannya yang berhubungan dengan akhir zaman.

Pesan dalam kitab Obaja tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan isi kitab-kitab lain. Yang ditulis dalam kitab ini merupakan sebagian saja dari pesan yang ada, yang hanya dapat dipahami secara utuhnya dengan mempelajari seluruh Firman Allah.

Edom sebagai bangsa dalam sejarah

Edom menolak dan melawan bangsa Israel sewaktu Israel berada di padang pasir dan mau melewati negeri Edom. Mereka berkata, "Tidak boleh kamu lalu." Raja Edom menolak Israel melewati negeri mereka (Bil. 20:20; Hak. 11:16-17). Juga pada waktu Yerusalem diserang oleh Babel, orang Edom berkata, "Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!" (Mzm. 137:7). Karena perbuatan dan sikap yang begitu, Edom dinyatakan oleh Allah akan menjadi sunyi sepi. Nubuatan ini tidak hanya disampaikan oleh Obaja tetapi juga oleh Yehezkiel (Yeh. 35:15).

Edom sebagai lambang hawa nafsu

Dalam kitab ini ada penekanan yang tegas pada hukuman atas dosa dan kemenangan orang benar atas semua lawannya. Salah satu musuh kita yang terbesar adalah hawa nafsu atau kedagingan. Dalam kitab Obaja, kita bisa menyaksikan janji Tuhan. Akan ada kelepasan! Akan ada kekudusan! Kita akan masuk dan menerima warisan kita, yaitu kekudusan, kemerdekaan, dan kemenangan atas segala kuasa Iblis dan dosa. Dengan melewati hari-hari penuh perjuangan, peperangan, kesusahan, dan masalah, pada akhirnya kita akan menang. Kitab Obaja membawa inspirasi kepada kita dan memperkuat iman kita.

Panggilan untuk berperang (ayat 1-2)

Seorang utusan disuruh: "Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!"
Kabar yang datang dari Tuhan itu memiliki tiga tingkat pengertian. Kita perlu mengerti tiga tingkat pengertian itu supaya dapat memahami pesan Tuhan bagi Gereja di akhir zaman.

Yang pertama, pesan itu berhubungan dengan bangsa Edom yang ada pada zaman Obaja. Edom adalah bangsa yang jahat, sombong, bengis, dan ganas. Bangsa itu menantang, menentang, serta menyerang bangsa Israel, umat Tuhan. Allah memanggil raja Babel, Nebukadnezar, sebagai “hambaKu” (Yer. 25:9). Tuhan berkata bahwa Dia akan mendatangkan raja Babel melawan Israel dan segala bangsa di sekelilingnya, termasuk Edom (Yer. 25:21). Lima tahun sesudah nubuatan itu, yaitu pada tahun 582 SM, Babel berperang dengan Edom dan mengalahkannya. Kemudian, beberapa bangsa kafir juga menanggapi panggilan itu dan berperang dengan Edom. Peperangan itu terus berlangsung sampai bangsa itu akhirnya dimusnahkan dan dihapuskan dari muka bumi. Karena dosanya, bangsa Edom dihukum oleh Allah, dimusnahkan, dan pada hari ini tidak lagi ada di dunia.

Kedua, secara rohani Tuhan memanggil kita untuk melawan hawa nafsu, tabiat duniawi, dan sifat kedagingan. Sifat kesombongan dan kebencian kepada saudara harus dilawan dan dimusnahkan. Secara rohani, kita dipanggil Tuhan untuk bangkit dan membinasakan hawa nafsu dan tabiat duniawi yang berjuang melawan jiwa/roh kita (1 Ptr. 2:11). Allah membenci tabiat duniawi dan akan membinasakannya hingga lenyap sama sekali.

Yang terakhir, secara profetis bangsa-bangsa di bawah kekuasaan Antikristus akan bersekutu dan berunding melawan Kristus dan gerejaNya di akhir zaman. Namun, saatnya akan tiba ketika Tuhan sendiri turun tangan dan bangkit untuk mengalahkan, menghancurkan, dan menghakimi semua orang yang melawan Dia, sementara umatNya yaitu JemaatNya akan masuk ke dalam kemuliaanNya dan menerima warisannya.

Kesombongan Edom (ayat 3-8)

Masalah dengan Edom adalah kesombongan, “Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau.” Karena rasa aman tinggal di tempat tinggi, Edom tidak percaya bahwa dia dapat dikalahkan atau diturunkan. Edom percaya kepada batunya, gunungnya yang tinggi, yang dirasanya tidak dapat ditembus oleh musuhnya. Seperti Petra yang dibangun di atas batu dan menjulang tinggi di gunung, itulah yang menjadi tempat yang dianggap aman yang tak dapat diserang. Edom memiliki tempat kediaman yang terasa aman dan mereka percaya dari tempat itu mereka tidak dapat diturunkan atau diusir. Inilah gunung kesombongan. Roh Edom adalah seperti roh Lusifer, yang mau naik lebih tinggi daripada Allah sendiri. Edom pun mau naik dan menantang Allah di tempat surgawi. Sebagaimana Lusifer dijatuhkan, dipermalukan, dan menjadi terhina, demikianlah Edom jadinya (Yes. 14:12-16; Yeh. 28:17-19).

Kedagingan atau tabiat duniawi menimbulkan rasa aman yang palsu di dalam diri kita. Janganlah kita bersandar kepada atau “menaruh percaya” pada “hal-hal lahiriah” (Fil. 3:3). Yesus mengajar kita supaya tidak bersandar kepada daging, karena hidup tidak tergantung pada kekayaan (Luk. 12:15); jangan mengumpulkan harta di bumi (Mat. 6:19); serta jangan khawatir atas apa yang akan dimakan, diminum, atau dipakai (Mat. 6:31). Rasa aman kita, ketenteraman kita, hanya terdapat di dalam Kristus, bukan dalam hal-hal jasmani. Perhatikan pula bahwa kita sering diperingati dalam Firman Tuhan tentang dosa kesombongan (Ams. 16:18; 1 Ptr. 5:5).

Kita memang seharusnya tinggal di dalam perlindungan gunung batu, tetapi bukan gunung batu jasmani! Kita tinggal di bawah naungan gunung batu yang besar di tanah yang tandus (Yes. 32:3), dan Tuhanlah gunung batu tempat perlindungan kita (Mzm. 31:3). Yesus adalah gunung batu itu dan kepadaNya kita berlindung. Gereja adalah seperti merpati yang bersembunyi di celah-celah batu (Kid. 2:14). Inilah sebabnya, kita tidak patut sombong sama sekali!

Tuhan menurunkan orang yang sombong. “Sekalipun mereka menembus sampai ke dunia orang mati, tanganKu akan mengambil mereka dari sana; sekalipun mereka naik ke langit, Aku akan menurunkan mereka dari sana,” (Am. 9:2).
Kita hanya patut bermegah dalam salib Kristus, bukan pada hal-hal yang jasmani. Paulus berkata, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita, Yesus Kristus,” (Gal. 6:14). Ingatlah, Allah mengasihani orang yang rendah hati (1 Ptr. 5:6-7). Dari kitab Obaja, kita belajar supaya jangan pernah sombong!

Sekutu dan Permufakatan Edom (ayat 7-9)

Edom tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari suatu persekutuan yang terlibat dalam kesepakatan untuk menghancurkan Israel, umat Allah. Namun, ternyatalah pada akhirnya bahwa Edom sendiri akan diserang dan dikalahkan oleh sekutu-sekutu itu. Edom tidak berdosa sendirian, melainkan bersatu dengan bangsa-bangsa lain untuk membentuk suatu permufakatan atau perjanjian untuk bersatu, melawan Allah dan umatNya. Edom termasuk dalam suatu permufakatan yang terdiri dari sepuluh bangsa yang mau membinasakan umat Tuhan, yaitu bangsa Israel. Permufakatan itu dijelaskan dalam Mazmur 83:1-18, yaitu ketika bangsa-bangsa yang merupakan musuh Allah itu berkumpul dengan sehati dan mengikat perjanjian untuk melawan Tuhan dan yang diurapiNya (baca juga Mazmur 2:1-4).

Hukuman atas Edom

Edom akan diturunkan dari tempatnya yang tinggi. Allah menyatakan hukuman atas Edom ini dengan tegas. Dia membalas tantangan sombong dari Edom, “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?” Tuhan berkata, “Aku akan menurunkan engkau.” Allah akan menjatuhkan segala bentuk kuasa, hikmat, kesanggupan, dan keangkuhan manusia duniawi. Yang bodoh, lemah, tidak terpandang, yang hina dan tidak berarti, justru akan kita lihat dipilih Allah untuk meniadakan yang berarti, “Supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah,” (1 Kor. 1:27-29).

Pelajari lebih jauh. Siapa yang dijatuhkan Tuhan? Lusifer sudah dijatuhkan (Yeh. 28:17), dan Edom pun sudah dijatuhkan. Maka, kuasa kedagingan juga akan dijatuhkan (Yes. 40:6-7), dan demikian pula kuasa kerajaan dunia dan Antikristus akan dijatuhkan (Why. 18:21).

Kekerasan Edom (ayat 10-14)

Edom menunjukkan ciri kekerasan terhadap saudaranya, Yakub. Kekerasan itu bermula di dalam hatinya dan makin lama menjadi makin nyata. Ada langkah-langkah yang jelas yang menunjukkan kebencian dan perlawanan kepada saudara itu menjadi makin nyata.

1. Berdiri jauh (ayat 11),
2. Memandang rendah (ayat 12),
3. Bersukacita atas kebinasaannya dan atas keturunan Yehuda pada hari kebinasaannya,
4. Membual pada hari kesusahannya,
5. Masuk pintunya pada hari sialnya,
6. Memandang ringan malapetaka yang menimpanya pada hari sialnya,
7. Merenggut kekayaannya pada hari sialnya,
8. Berdiri di persimpangan untuk melenyapkan orang-orangnya yang luput,
9. Menyerahkan orang-orangnya yang terlepas pada hari kesusahan.

Perhatikan bagaimana sikap Edom mulai dengan berdiri jauh dari saudaranya pada hari kesusahannya tetapi berakhir dengan menyerangnya dan menangkapnya. Melalui tahap-tahap ini, kita diperingati bahwa kasih persaudaraan adalah hal yang amat sangat penting dalam hidup kita. Kita diajar untuk bertambah dan melangkah dalam kasih yang semakin besar, bukan dalam kebencian dan kekerasan yang semakin jahat (2 Ptr. 1:4-8).

Prinsip Pembalasan (ayat 15-16)

Apa yang dilakukan akan dibalas, dan pembalasan itu adalah hak Tuhan. Pasti, semua perbuatan yang baik maupun jahat akan menerima pahalanya atau hukumannya pada hari penghakiman. Inilah jawaban kepada masalah keadilan. Walaupun di bumi ini sepertinya tidak ada pembalasan, semuanya pasti akan terjadi pada akhir zaman. Walaupun pada masa ini keadilan tak kelihatan, pada masa depan semua pembalasan akan terjadi. Dalam kitab Obaja, contohnya adalah Edom. Kelakuannya yang jahat atas Israel menerima pembalasan dari Tuhan. Dalam kitab Wahyu, puncak pembalasan atas kejahatan digambarkan sebagai cawan murka Allah yang akan dicurahkan (Why. 14:10; 18:6).

Keselamatan di Sion (ayat 17-21)

Selanjutnya, kita melihat bahwa hanya di Sionlah akan ada keluputan. Hanya di Sion pula akan ada kekudusan. Di sana, umat Tuhan akhirnya akan memiliki warisannya. Sion menggambarkan Jemaat Tuhan Yesus. Kita sudah datang ke Sion (Ibr. 12:22), ibu kota dan pusat kerajaan Allah, tempat hadirat Tuhan dan tempat Yesus bertahta sebagai Raja. Kepada Sion dan dari Sionlah Tuhan akan datang dalam pekerjaanNya yang terakhir untuk menyelamatkan dan menghukum segala bangsa.

Perhatikan bahwa ada dua hal yang akan terjadi pada akhir zaman. Pertama, akan ada keselamatan. “Penyelamat-penyelamat akan naik ke atas gunung Sion.” Kedua, akan ada hukuman, yaitu segala dosa akan dihukum. Setiap manusia yang melawan Kristus akan dihukum. Inilah puncak Kerajaan Allah. Pada akhir zaman, Tuhan sendiri akan turun dan memerintah kerajaanNya: “Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya," (Why. 11:15; Dan. 7:13-14). Pada waktu itu, sungguh akan digenapi perkataan itu “maka Tuhanlah yang akan empunya kerajaan itu.”

Demikianlah, kitab Obaja membawa pesan yang jelas dari Allah sendiri melalui hambaNya, kepada kita semua yang adalah umatNya maupun kepada mereka yang menentang Dia: bahwa pada akhirnya kejahatan akan kalah dan KerajaanNya akan ditegakkan untuk selama-lamanya. Marilah kita bertekun dalam perjuangan iman melawan Edom dan dalam pengharapan akan kemenangan roh kita pada akhirnya!

2020-04-22T14:33:55+00:00