//Kitab Pengkhotbah

Kitab Pengkhotbah

Salomo menulis kitab ini pada akhir hidupnya. Dia sudah menerima hikmat dari Allah dan sudah menulis kitab Amsal yang penuh dengan nasihat agar manusia dapat hidup dengan baik di dunia ini. Tetapi, kitab ini ditulis untuk menyoroti sisi lain. Salomo melihat bahwa tanpa Tuhan, segala pengetahuan, usaha, harta benda, kekayaan, keberhasilan dan kegirangan duniawi hanya sia-sia belaka.

Salomo melihat kehidupan yang terpisah dari Allah sebagai hidup yang mengecewakan dan tidak memuaskan. Menurut pengajaran Perjanjian Baru segala sesuatu yang di dalam dunia ini adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Orang yang cinta dunia akan terpisah dari hubungan dengan Bapa di sorga (1 Yoh. 2:16). Dalam kitab Pengkhotbah, hidup duniawi itu terlihat sia-sia belaka. Yang berarti hanyalah hidup dengan takut akan Tuhan.

 

Hal-hal yang sia-sia

Salomo menemukan banyak hal di bawah matahari, banyak hal yang dicari manusia, dan semuanya mengecewakan.

1. Siklus hidup yang sia-sia
Ada siklus dalam pengalaman manusia. Angkatan demi angkatan lewat. Generasi muncul silih berganti. Kehidupan berlangsung sangat singkat. Hari demi hari, matahari terbit dan terbenam. Angin bertiup dari selatan dan berbalik bertiup dari utara. Terus menerus air sungai mengalir sampai laut baru menjadi uap dan naik untuk menjadi awan yang ditiup hingga ke atas gunung lalu turun sebagai hujan dan masuk ke sungai kembali. Semuanya pada akhirnya kembali kepada tempat semula tanpa ada maksud. Apa gunanya siklus itu? Apa faedahnya?

Pekerjaan pun menyusahkan. Bukan hanya tubuh yang menjadi lelah, tetapi juga pikiran. Semakin banyak pekerjaan, semakin banyak kelelahan. Semakin banyak pikiran, semakin banyak penderitaan (Pkh. 1). Sejarah pun terus berulang. Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Semuanya hanyalah seperti mengejar angin. Hikmat dan pengetahuan, berapa pun banyaknya, hanya membawa sengsara dan kesusahan. Yang perlu dicari adalah sesuatu yang berada “di atas matahari”!

 

2. Kegirangan duniawi yang sia-sia
Salamo berusaha menyenangkan diri dengan kegirangan duniawi, dengan mencari hal-hal yang nyaman dan menyenangkan dalam hidup ini. Dengan tertawa, bahkan minum anggur, masih tidak ada yang menyenangkan. Membangun rumah besar dan mewah, menanam kebun anggur dan kebun buah-buahan, memiliki banyak budak, hewan dan kawanan domba, emas dan perak dan harta benda, masih tidak memuaskan. Mengumpulkan penyanyi dan gundik, juga tidak memenuhi kekosongan dalam hati manusia. Walaupun Salomo menjadi tokoh terbesar di Yerusalem dan penuh hikmat dan kekayaaan dan kenikmatan, semuanya ternyata hanya sia-sia (Pkh. 2:1-10).

 

3. Hikmat yang sia-sia
Salomo berusaha membandingkan hikmat dan kebodohan, tetapi pada akhirnya rupanya semua hanya sama saja. Orang bodoh mati sama seperti orang bijak. Kalau begitu, apa gunanya hikmat? Pikiran yang demikian akhirnya menimbulkan kebencian terhadap hidup dan dia mulai putus asa (Pkh. 2:11-20).

 

4. Kerja keras yang sia-sia
Bagaimana dengan kerja keras? Itu pun sia-sia, karena hasilnya akan dinikmati orang lain yang mungkin bodoh. Karena itu, disimpulkan oleh Salomo bahwa yang menyenangkan dalam hidup ini hanyalah makan dan minum apa yang ada dengan menikmatinya. Salomo bertanya, “Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” (Pkh. 2:21-26).

 

5. Kuasa dalam pemerintahan yang sia-sia
Walaupun orang menerima kuasa dan diangkat menjadi raja, akhirnya dia bisa ditolak dan diganti. Hal itu pun sia-sia. Dengan demikian, kita harus berjaga dan berhati-hati di hadapan Tuhan. Jangan terlalu banyak bicara. Jangan melanggar janji (Pkh. 4:13-16).

 

6. Kekayaan yang sia-sia 
Orang miskin ditindas. Orang yang cinta uang tidak pernah puas. Uang dibutuhkan, tetapi tidak pernah memuaskan. Orang yang semakin kaya masih tidak mendapatkan kesenangan. Apa gunanya kekayaan? Yang kerja keras, tidur nyenyak. Yang kaya, tidak dapat tidur. Yang mengumpulkan kekayaan, tidak mengenal kepuasan. Bahkan pada saat kematian, semuanya hilang (Pkh. 5:8-20, 6:1-12).

 

Hal-hal yang Pasti

Di tengah-tengah kesia-siaan, ada kepastian. Walaupun semua hal yang sia-sia ini tidak menyenangkan, kita perlu memahami hal-hal yang pasti ini supaya jangan menjadi kecewa dan putus asa.

1.Pasti ada waktunya untuk segala sesuatu
Semuanya ada masanya dan waktunya. Untuk segala sesuatu ada musimnya. Karena itu, bersukacitalah selama mungkin dengan apa yang ada! Lahir dan meninggal, menanam dan mencabut, membunuh dan menyembuhkan, merombak dan membangun, menangis dan tertawa, meratap dan menari, membuang batu dan mengumpulkan batu, memeluk dan menahan diri dari memeluk, mencari dan membiarkan rugi, menyimpan dan membuang, merobek dan menjahit, berdiam diri dan berbicara, mengasihi, dan membenci, perang dan damai. Semuanya ada masanya (Pkh. 3:1-8)! Semua jerih payah manusia memang melelahkan. Walaupun Allah menciptakan semua dengan indah dan memberikan kekalan dalam hati, manusia tidak memahaminya. Yang dapat dibuat manusia adalah takut akan Tuhan (Pkh. 3:9-19).

2. Pasti ada ketidakadilan 
Di bumi tidak ada keadilan. Bahkan di tempat pengadilan pun terdapat ketidakadilan. Tetapi, Tuhan menguji manusia dan akan menunjukkan keadilan pada waktunya. Mungkin bukan di hidup ini, tetapi pasti sesudah kematian. Manusia sama seperti binatang, semuanya bernapas, semuanya mati.  Hanya Allahlah yang dapat memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah itu (Pkh. 3:20-22).

3. Pasti ada penindasan 
Salomo melihat bahwa di dunia ini ada penindasan dan tangisan orang yang ditindas. Kesimpulan Salomo adalah lebih baik manusia tidak dilahirkan, lebih baik jangan hidup (Pkh. 4:1-3).

4. Pasti ada iri hati 
Motivasi banyak orang sering kali hanyalah iri hati. Sepertinya mereka hanya menjaring angin dengan iri hatinya itu. Karena itu, lebih baik kita bertenang saja (Pkh. 4:4-8).

 

Hal yang penting

Dalam kehidupan ini, ada hal-hal yang penting yang dapat menolong kita supaya jangan hidup dengan sia-sia. Nasihat Salomo diberikan kepada kita supaya kita dapat hidup dengan takut akan Allah dan menjalani hidup yang tidak sia-sia.

1. Yang penting: Milikilah sahabat! 
Hidup sendirian, tanpa teman atau keluarga, juga adalah sia-sia. Persahabatan adalah penting. Dua lebih baik daripada satu orang. Hal itu mendukung pernikahan, karena seorang suami dan istri dapat saling melengkapi dan memenuhi kebutuhan sama lain.  Selanjutnya, tiga menjadi tali yang tidak mudah dipatahkan. Hal itu menunjukkan bahwa memiliki anak, sahabat dan keluarga juga penting di dalam hidup ini (Pkh. 4:9-12).

 

2. Yang penting: Jagalah tindakan dan mulut!
“Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!” “Datanglah ke rumah Allah untuk mendengar, bukan banyak bicara!” “Tepatilah nazar! Jagalah supaya perkataanmu tidak berdosa dan sia-sia.” “Takutlah akan Allah.” (Pkh. 4:17, 5:1-6).

 

3. Yang penting: Terapkan hikmat praktis!
Sama seperti di kitab Amsal, juga dalam kitab ini kita membaca petunjuk praktis mengenai kehidupan di dunia ini (Pkh. 7:1-29).

 

4. Yang penting: Patuhlah kepada raja! 
Orang tidak dapat melawan kehendak raja. Karena itu, memang bijak jika kita patuh dan tunduk. Biarlah yang berkuasa memutuskan, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kita tidak dapat menahan angin atau berkuasa (Pkh. 8:1-9).

 

5. Yang penting: Sadarilah bahwa semua orang akan mati! 
Semua orang akan mati. Nasib semua manusia sama, entah kaya atau miskin, baik atau jahat, tahir atau najis. Karena itu, banyak orang tidak memiliki pengharapan. Yang tercepat, kadang-kadang tidak menang. Yang terkuat, kadang-kadang kalah dalam perang. Yang terajin, kadang-kadang bukan yang terkaya. Yang paling berpendidikan, kadang-kadang tidak berhasil di dalam hidupnya. Karena itu, nikmatilah hidup yang diberikan Tuhan, dan “segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga”. Manusia tidak tahu kapan semuanya akan berhenti dengan kematian (Pkh. 9:1-12).

 

6. Yang penting: Hindarilah kebodohan! 
Namun demikian, hikmat tetap lebih baik dari kebodohan. Diceritakan mengenai sebuah kota yang kecil yang diserang dan dikepung oleh seorang raja yang agung. Seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya menyelamatkan kota itu, tetapi orang yang miskin itu tidak diingat. Walaupun tidak diingat di bumi, hikmatnya tetap lebih baik daripada kebodohan orang jahat (Pkh. 9:13-18). Yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat. Perlu ada hikmat dalam sikap terhadap penguasa, hikmat dalam pekerjaan dan hikmat dalam pembicaraan (Pkh. 10:1-20).

 

7. Yang penting: Jadilah orang yang rajin!
Memberi, menabur, menuai dan berjerih payah dan bersukacita tanpa takut akan malapetaka, ini semua penting bagi kita, karena semua ini sajalah yang dapat diperbuat manusia (Pkh. 11:1-8).

 

8. Yang penting: Carilah Allah sejak masa muda!  
Dalam hidup ini tidak ada kepastian, kecuali kematian. Kita perlu menikmati masa muda karena masa tua  pasti datang, dan menimbulkan banyak masalah serta pada akhirnya kematian (Pkh. 11:9-10). Dengan mengingat Pencipta sejak pada masa muda, kita akan siap menghadapi hari-hari lanjut yang penuh kesusahan. Mata akan menjadi kabur, tangan mulai gemetar, punggung membungkuk, gigi berkurang, pendengaran menghilang, kaki mulai lemah dan sulit berjalan, rambut memutih, nafsu makan berkurang dan akhirnya kehidupan pun terputus. Debu kembali menjadi debu. Roh kembali kepada Tuhan. Artinya, hidup di bumi ini singkat sekali, penuh kesusahan dan menuju kematian (Pkh. 12:1-8).

 

Kesimpulan

“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”

Jangan hanya memikirkan hidup ini! Carilah Tuhan! Takutlah akan Dia dan taatilah Dia! Semua yang lain hanyalah kesia-siaan belaka! Tanpa takut akan Tuhan, dan fokus kepada Dia yang sudah menempatkan kekekalan dalam hati kita (Pkh. 3:11), hidup ini tidak bernilai atau makna. Semua hanyalah sia-sia! Inilah kesimpulan Salomo (Pkh. 12:9-14)

2020-04-22T14:33:55+07:00