//Kitab Ratapan

Kitab Ratapan

Isi kitab Ratapan adalah kata-kata ratapan tentang kejatuhan Yerusalem dan pembinasaan rumah Allah pada waktu serangan Babel, kira-kira pada tahun 586 SM. Bait Allah sudah berdiri selama 400 tahun, namun dengan serangan dari Babel, bangunan itu dihancurkan. Itu adalah suatu peristiwa tragis dalam sejarah Israel, yang sebenarnya sebelumnya telah dinubuatkan juga. Penghancuran Yerusalem dan Bait Allah itu sudah dinubuatkan Yeremia sebelum terjadinya, dan bahkan juga dialaminya langsung secara pribadi (2 Taw. 35:25; 36:21-22; Yer. 39:1-18). Karena nyanyian ratapan ini, dia disebut “nabi yang menangis”.

Kerajaan Israel yang di utara, yaitu yang terdiri dari sepuluh suku, ditawan oleh Asyur (721 sM) karena dosanya yang sangat besar. Kerajaan Yahuda yang di selatan, yaitu suku Benyamin dan Yahuda, bertahan lebih lama, namun mereka tidak belajar dari pengalaman kerajaan utara itu. Mereka menjadi makin jahat, makin meninggalkan Tuhan, dan makin menyembah berhala. Walaupun ada kegerakan rohani yang membawa pemulihan sewaktu-waktu untuk beberapa tahun (seperti pada zaman Yosia yang tercatat di 2 Raja-Raja 22-23), mereka kembali jatuh lagi dalam dosa sampai akhirnya saat penghukuman tiba.

Tiga kali Yerusalem diserang oleh raja Babel, Nebukadnezar. Pada serangan yang ketiga kalinya, Yerusalem dikepung oleh tentara Babel selama 18 bulan sampai makanan habis. Akhirnya, tentara Babel masuk dan alat-alat dari rumah Tuhan dibawa ke Babel, sedangkan rumah Allah dibakar dan tembok Yerusalem dan kotanya dihancurkan. Peristiwa yang sangat tragis inilah yang menjadi konteks kitab Ratapan.

 

Perkabungan bagi kota Yerusalem (Rat. 1)

Yerusalem terlihat sebagai seorang janda yang menangis tersedu-sedu karena kesedihan  dan kesusahan. Pasal pertama dalam kitab ini mulai dengan keluhan, “Ah, betapa terpencilnya kota itu!” Yeremia menangisi keadaan kotanya, yaitu Yerusalem, yang dihancurkan. Temannya mengkhianatinya dan menjadi seterunya. Musuhnya menguasainya, memandang dan bertawa karena keruntuhannya membesarkan dirinya dan menjadi terlampau kuat (1:3, 5, 7, 9, 16). Sungguh suatu kekalahan yang besar! Yerusalem mengalami sengsara, perbudakan, dukacita. Semua penduduk, imam-imamnya, dara-daranya, pemimpin-pemimpinya menderita. Mengapa? “Tuhan membuatnya merana karena banyak pelanggarannya” (Rat. 1:5).

Semua kemalangan itu terjadi karena Yerusalem “tidak memikirkan akan akhirnya” (Rat. 1:9). Sama seperti 600 tahun kemudian pada zaman Yesus Yerusalem tidak mengenal saatnya ketika Allah melawat mereka (Luk. 19:44), demikian juga pada zaman Yeremia Yerusalem tidak siap menghadapi zaman. Yerusalem sangat berdosa dan karena itu dikalahkan oleh musuhnya. Dinyatakan dengan jelas bahwa semuanya terjadi karena Tuhan menyerahkan, Tuhan membuang, Tuhan menginjak-injak (Rat. 1:14-15). Inilah hukuman dari Tuhan yang datang atas Yerusalem akibat dosanya.

 

Perkabungan karena apa yang dibuat Tuhan kepada Sion (Rat. 2)

Pasal ini dimulai dengan perkataan, “Ah, betapa Tuhan menyelubungi puteri Sion!” (Rat. 2:1). Sepertinya Tuhan sendiri yang menjadi musuh untuk menghancurkan Israel (Rat. 2:5). Tuhan memusnahkan, mematahkan, membunuh, menghancurkan dan meremukkan. Tuhan menyerang kemahNya, tempat pertemuanNya. Tuhan menjadikan orang lupa akan perayaan dan Sabat, dan menolak raja dan imam.  Tuhan membuang mezbahNya dan meninggalkan tempat kudusNya. Tuhan memutuskan untuk meruntuhkan tembok puteri Sion menjadi puing-puing. Tembok luar, tembok dalam, gapura-gapura, dan palang-palang pintunya, semuanya dihancurkan Tuhan. Rajanya, para pemimpinnya dan para nabinya, para tua-tuanya, dara-dara Yerusalem, kanak-kanak, bayi-bayinya dan ibunya, semua mengalami murka Tuhan, sampai ditanyakan, “Siapa akan memuliakan engkau?” (Rat. 2:13).

Semua penduduk didustai dan disesatkan oleh nabi-nabi. Yerusalem, kota yang paling indah, kesukaan dunia semesta, dimusnahkan. Apa sebabnya? “Tuhan telah menjalankan yang dirancangkanNya, Ia melaksanakan yang difirmankanNya.” (Rat. 2:17).  Yeremia menyuruh penduduk Yerusalem untuk membangun, mengerang, mencurahkan isi hati, dan mengangkat tangannya pada Tuhan. Sumber hukuman adalah Tuhan. Hanya Tuhanlah yang sudah menghukum dan membinasakan, yang sanggup juga membawa keselamatan.

 

Perbuatan Tuhan kepada nabi Yeremia (Rat. 3)

Puisi di pasal ini dimulai dengan kata “Akulah”. Pasal ini tiga kali panjangnya melebihi pasal-pasal lain. Inilah ucapan dari Yeremia tentang apa yang diperbuat Tuhan kepada dirinya sendiri secara pribadi. Dia berkata, “Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murkaNya.” (Rat. 3:1). Apa yang terjadi kepada Yeremia? Daging, kulit dan tulangnya terkena cambuk murka Tuhan. Dia berkata bahwa dirinya dikelilingi dengan kesedihan, diikat, dirintangi, dibelokkan dan dirobek-robek. Sepertinya dia diserang oleh beruang dan singa, ditusuk oleh anak panah, diejek, dikenyangkan dengan kepahitan dan kehilangan pengharapan. Sama seperti Kristus, Yeremia menderita bukan karena dosanya sendiri tetapi dosa umatnya.

Di tengah ratapannya, Yeremia ingat bahwa ada harapan. Kasih setia Tuhan tak berkesudahan dan rahmatNya tak habis-habisnya, selalu baru tiap pagi. Besar kesetiaanNya! (Rat. 3:22-23). Dengan menantikan Tuhan, akan ada pertolongan. Dengan menyerahkan diri kepada penderitaan dan berdiam diri, akhirnya akan mengalami kasih setiaNya. Tuhan adil. Dosa akan dihukum. Karena itu Yeremia mengajak, “Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita dan berpaling kepada Tuhan.” (Rat. 3:40). Inilah panggilan untuk umatNya bertobat.

Yeremia kemudian menghadap dan berbicara kepada Tuhan, “Engkau tidak mengampuni!”  Dia kembali menjelaskan segala penderitaan Yerusalem dan tangisannya dan pedihnya hati karena  keadaan kota. Dia juga mengacu kepada pengalamannya waktu dibuang ke dalam lubang yang dalam oleh musuhnya. Pada saat itu dia sudah mendengar perkataan Tuhan, “Jangan takut!” Dia pun bersaksi bagaimana Tuhan menyelamatkan hidupnya.  Selain itu, dia juga meminta pembalasan atas segala musuhnya.

 

Yeremia menangisi kehancuran kota Sion dan bait Allah (Rat. 4)

Pasal ini seperti pasal satu dan dua, yaitiu dimulai dengan keluhan, “Ah! Sungguh pudar emas itu!” “Emas” dari Yerusalem adalah anak-anaknya yang berharga, bayinya yang kecil, pemimpin-pemimpinnya, wanitanya yang lemah lembut, yang kini semuanya sudah kehilangan nilainya dan martabatnya. Mereka sangat menderita. Kelaparan begitu hebat sampai orang di Yerusalem memakan anaknya sendiri. Mereka sepertinya dihukum lebih dari Sodom. “Tuhan melepaskan segenap amarahNya.” (Rat. 4:11). Hampir tak dapat dipercaya! Semua ini terjadi karena dosa para nabinya dan imamnya.

Tetapi sesudah Tuhan menyelesaikan pekerjaan hukuman atas Israel, Dia akan menghukum Edom. Ada cawan murka yang sesudah diminum Israel akan disampaikan kepada puteri Edom. Inilah prinsip Firman Tuhan: hukuman dimulai di rumah Tuhan tetapi akan berakhir dengan orang fasik dan jahat (1 Ptr. 4:17).

 

Doa untuk pertobatan dan pemulihan umat Tuhan (Rat. 5)

Pasal ini adalah doa syafaat, yang dimulai dengan, “Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami.” Yeremia mengingatkan Tuhan tentang penderitaan umatNya. Milik pusaka dan rumah menjadi milik orang asing. Orang Israel menjadi anak yatim dan janda. Mereka miskin dan dikejar. Semuanya karena dosa mereka dan dosa bapak-bapaknya.  Gadis-gadis diperkosa, pemimpin-pemimpin digantung, pemuda-pemuda memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh, tua-tua tidak berkumpul di pintu, para teruna tidak main kecapi. Kegirangan lenyap. Tarian berubah menjadi perkabungan. Bukit Sion tandus.  Hanya Tuhanlah yang kekal. Hanya kerajaanNyalah yang abadi. Akhirnya, semua ada di dalam tangan Tuhan dan tergantung pada keputusanNya.

Kitab Ratapan berakhir dengan pertanyaan. “Apakah Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?” Kitab ini mengajar kita semua untuk berfokus kepada Tuhan. Dialah sumber dan yang berdaulat atas segala sesuatu, yang baik dan juga yang tidak baik. Di dalam penderitaan dan sengsara, kita tahu bahwa Dia menghukum perbuatan dosa tetapi juga memberi kemurahan.

2020-04-22T14:33:55+07:00