//Kitab Yunus

Kitab Yunus

Nama Yunus berarti “merpati”. Merpati adalah lambang damai dan Roh Kudus. Yunus adalah anak Amitai, dan nama Amitai berarti “kebenaran.” Yunus dipanggil oleh Tuhan untuk membawa berita damai dari Roh Allah dan kebenaran dari Tuhan. Walaupun isi pesannya adalah hukuman, jelasnya bahwa berita kebenaran itu membawa keselamatan dan perdamaian bagi kota Niniwe.

Yunus berasal dari kota Gath-hepher, yang terletak kira-kira tujuh kilometer di sebelah utara kota Nazaret. Dia bernubuat pada zaman Raja Yerobeam II (tahun 787-747 SM), yaitu raja Israel yang namanya dicatat dalam kitab sejarah (2 Raja-raja 14:25). Yunus adalah tokoh sejarah yang benar-benar ada dan bukan mitos belaka.

Pada mulanya, Firman Tuhan datang kepada Yunus dengan perintah untuk bangun dan pergi ke Niniwe dan berseru terhadap mereka, sebab kejahatannya yang disaksikan Tuhan sendiri. Niniwe adalah ibu kota Asyur. Pada abad 8–7 SM, Asyur sering berperang dengan Israel dengan menyerang dan menyusahkan mereka, sampai pada akhirnya menghancurkan Israel dan membawa mereka dalam tawanan pada tahun 722–721 SM. Karena Niniwe adalah musuh Israel, Yunus membenci bangsa itu dan dia tidak mau mereka diselamatkan.

Waktu diutus ke Niniwe, langsung Yunus bereaksi dengan berusaha melarikan diri jauh-jauh. Dia sama sekali tidak menaati panggilan Tuhan. Dia berjalan ke Yope dan naik kapal menuju Tarsis (yang adalah arah bertolak belakang dengan kota Niniwe). Tarsis terletak kira kira 4.000 km (2.500 mil) di sebelah barat lewat perjalanan kapal. Niniwe terletak kira-kira 800 km (500 mil) di sebelah timur lewat perjalanan darat.

Mengapa Yunus begitu nekat lari dari panggilannya? Yunus sendiri menjelaskan sebabnya pada akhir kitab ini. Dia mengetahui bahwa Tuhan penuh kasih sayang, kemurahan dan panjang sabar, sehingga dia takut bahwa Tuhan justru bermaksud untuk menyelamatkan Niniwe, orang-orang yang telah menjadi musuhnya itu.

Di Dalam Kapal: Yunus 1
Yunus dipanggil Tuhan untuk memberitakan peringatan kepada Niniwe karena kejahatannya yang besar. Namun, Yunus tidak mau taat. Dia menolak panggilan itu dan melarikan diri, naik kapal untuk berangkat ke Tarsis. Dia ingin lari jauh dari hadirat Tuhan. Ternyata, Tuhan sendiri campur tangan dalam kehidupannya.

Beberapa kali dalam kitab Yunus, Tuhan sendiri “tampil” dan mengadakan intervensi. Tuhan menurunkan angin ribut sampai ada badai besar yang menimpa kapal Yunus. Awak kapal menjadi sangat takut dan berusaha menyelamatkan kapal dengan membongkar dan membuang muatan ke laut. Namun, Yunus turun ke ruang kapal paling bawah dan tidur nyenyak. Dia tidak takut mati.

Nakhoda kapal itu membangunkan Yunus dan suruh dia berdoa. Awak kapal membuang undi dan Yunuslah yang kena undi. Waktu ditanya sebabnya ada badai besar, dia bersaksi: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." Lalu, dia menjelaskan bagaimana dirinya sudah melarikan diri dari panggilan Tuhan. Yunus minta mereka membuang dia ke dalam laut. Lagi-lagi, jelaslah bahwa Yunus tidak takut mati. Dia sadar bahwa badai besar itu datang dari Tuhan karena pemberontakannya kepada panggilan Allah. Dia tidak takut. Akhirnya, Yunus dicampakkan ke dalam laut oleh awak kapal. Seketika, badai berhenti. Awak kapal itu menjadi takut akan Tuhan dan mempersembahkan korban.

Kepada Yunus sendiri, Tuhan lagi-lagi mengadakan intervensi. Seekor ikan besar datang atas penentuan Tuhan dan menelan Yunus. Yunus diselamatkan dari kematian. Selama tiga hari dan tiga malam, dia tinggal di dalam perut ikan.

Di Dalam Perut Ikan: Yunus 2

Di dalam perut ikan, Yunus menghadap Tuhan dan berdoa kepada-Nya dengan bermazmur. Dia merasa sudah berada di tengah-tengah dunia orang mati, dan berteriak kepada Tuhan karenanya. Kerinduannya kepada Tuhan, hadirat-Nya dan bait kudus-Nya timbul kembali. Dia mulai mengucap syukur bahwa Tuhan menyelamatkan dia dan mengaku, “Keselamatan adalah dari TUHAN!" Yunus mendapat kesempatan tiga hari untuk bertobat. Tuhan sekali lagi mengintervensi kehidupan Yunus sehingga ikan itu memuntahkan Yunus ke darat.

Di Dalam Kota Niniwe: Yunus 3

Untuk kedua kalinya Yunus diperintahkan Tuhan untuk mengumumkan hukuman atas Niniwe. Kali ini, dia sudah siap. Dia berjalan jauh ke Niniwe, lalu berseru bahwa dalam 40 hari Niniwe akan ditunggangbalikkan. Mendengar pemberitaannya itu, orang Niniwe percaya kepada Allah, berpuasa, mengenakan kain kabung, dan bertobat. Raja Niniwe turun dari tahtanya, menanggalkan jubahnya, dan duduk di abu. Dia memerintahkan bahwa seluruh Niniwe, termasuk hewan ternak, harus berpuasa dan berkabung, bertobat sungguh-sungguh, dan berseru dengan keras kepada Allah. Karena pertobatan itu, Tuhan mengampuni Niniwe dan hukuman dibatalkan.

Di Bawah Pohon: Yunus 4

Niniwe selamat. Pemberitaan Yunus sudah “berhasil” menyelamatkan suatu negeri yang besar. Tentu kita akan bersukacita jika berada di posisi Yunus! Bagaimana dengan Yunus, apakah dia senang? Tidak! Hatinya sangat kesal dan dia marah sekali. Dia berdoa dan menjelaskan mengapa awalnya dia berusaha melarikan diri. Yunus sudah tahu bahwa “Tuhan pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.” Yunus sudah mengenal tabiat dan sifat Allah. Dia juga sudah mengalami sendiri kasih dan kesabaran Allah sewaktu dilepaskan dari perut ikan. Namun, dia sama sekali tidak mau supaya kasih dan panjang sabar-Nya dinyatakan kepada kota Niniwe. Dia sama sekali tidak mau Niniwe bertobat. Mereka adalah musuhnya yang layak dihukum. Dia sangat marah. Kemudian, Tuhan bertanya kepadanya, "Layakkah engkau marah?"

Yunus yang sedang berhati panas itu meninggalkan Niniwe, mendirikan sebuah pondok, lalu duduk di bawah naungannya dengan menantikan apa yang akan terjadi. Lagi-lagi, Tuhan mengadakan intervensi. Atas penentuan Tuhan, tumbuhlah sebatang pohon jarak atas pondok itu, yang melindunginya Yunus dari terik sinar matahari. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. Namun, pada keesokan harinya, “atas penentuan Allah” pula, seekor ulat datang dan memakan pohon itu, menggerogotinya hingga layu. Berikutnya, sesudah matahari terbit, “atas penentuan Allah” lagi, bertiup angin timur yang panas terik sampai Yunus sakit kepala dan sekali lagi berharap supaya mati. Katanya, "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup." Atas suara hati Yunus yang penuh kemarahan ini, Tuhan sekali lagi bertanya, “Layakkah engkau marah?” Jawaban Yunus kali ini lebih berani: "Selayaknyalah aku marah sampai mati."

Di titik inilah, Tuhan menjelaskan kepada Yunus bagaimana kasih sayang-Nya kepada manusia yang diciptakan-Nya. Tuhan mau supaya semua manusia sampai ke ujung bumi mendengar berita tentang dosa, hukuman, dan kebenaran. Tuhan merindukan agar semua manusia bertobat. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Ptr. 3:9). Tuhan sudah menyatakan kemurahan-Nya dengan menyelamatkan nyawa Yunus, mengapa Dia juga tidak akan menyelamatkan Niniwe, kota besar dengan ribuan jiwa manusia itu? Tuhan membentuk hati Yunus menjadi sama dengan hati-Nya sendiri yang penuh kasih.

Di salah satu sisi, Yunus juga menjadi “bayangan” tentang Yesus. Sebagaimana Yunus tinggal tiga hari dan tiga malam di dalam perut ikan, demikian juga Yesus berkata Dia akan tinggal di perut bumi. Yesus berkata bahwa itu menjadi satu-satunya tanda yang diberikan kepada generasi-Nya. Selain itu, Yesus juga membandingkan orang Niniwe kepada generasi-Nya sendiri. Yunus datang kepada mereka dengan Firman Allah dan semuanya bertobat. Yesus datang membawa berita dosa dan hukuman kepada bangsa Yahudi namun mereka tidak bertobat seperti Niniwe bertobat. Mereka menolak berita yang Yesus sampaikan, walaupun Yesus jauh melebihi Yunus dalam kuasa dan kebenaran (Mat. 12:38–42 dan 16:1–4; Luk. 11:29–32).

Demikianlah, kita mendapatkan banyak pelajaran dari kehidupan Yunus, seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk membawa berita Tuhan namun sempat lari dari panggilan itu. Dia sendiri telah mengalami dan menikmati keselamatan dari Tuhan tetapi tidak punya hati untuk jiwa-jiwa dan tidak punya kerinduan yang tulus untuk manusia lain diselamatkan, “hanya” karena manusia itu dianggapnya sebagai musuh. Yunus mengalami pembentukan Tuhan karena bersikeras menggunakan cara pandang dan penilaiannya sendiri terhadap sesama manusia, dia tetap menganggap orang-orang Niniwe jahat dan layak dihukum, tanpa rela menggunakan cara pandang dan penilaian Tuhan, yaitu kebenaran dan kasih.

2020-04-22T14:33:55+00:00