//Komunitas-komunitas unik di sekitar kita

Komunitas-komunitas unik di sekitar kita

 

1.Komunitas Parkour (www.parkourindonesia.web.id)
Parkour adalah “seni gerak tubuh” yang berakar dari strategi halang rintang dan sangat berguna dalam keadaan terjepit untuk seseorang dapat mencapai tujuan atau bahkan melarikan diri. Parkour ditujukan untuk beradaptasi melewati rute dengan memanfaatkan kekuatan fisik dengan gerakan yang cepat tanpa kehilangan banyak energi untuk sampai tujuan. Dengan parkour, kita bisa melompati tembok, meloncat dari gedung ke gedung, dan melakukan hal-hal “ajaib” lainnya. Memang dibutuhkan kondisi fisik yang prima untuk itu semua, itu sebabnya komunitas parkour kebanyakan berisi orang-orang muda. Pada awalnya, parkour lahir dan berkembang di Prancis, namun saat ini, komunitas parkour juga sudah ada di puluhan kota di Indonesia.

 

2.Komunitas Shuffle Dance (www.indorockers.com)
Jenis tarian shuffle dance pertama kali muncul di lahir di Melbourne Underground Scene, Australia pada tahun 1980an. Mereka yang menarikan gerakan ini disebut shufflers. Pada shuffle dance, gerakan lebih terdominasi di bagian kaki, bukan anggota tubuh yang lain. Sekarang, shuffle dance telah meluas ke seluruh dunia dan booming di Asia. Di Indonesia sendiri, shuffle dance semakin populer dan ajang  shuffle meet up juga sudah banyak digelar oleh komunitasnya yang bernama Indo Rockers. Shuffle dance pun menjadi bagian dari lifestyle anak muda masa kini di Indonesia.

3.Komunitas Travelling (www.couchsurfing.org)
CouchSurfing pertama kali diciptakan oleh Casey Fenton (AS) pada tahun 2000, yang saat itu mendapatkan tiket pesawat murah dari Boston ke Iceland. Ia lalu mengirim email ke 1500 pelajar dari University of Iceland, menanyakan apakah dia bisa menginap di tempat mereka. Setidaknya 50 email balasan muncul, menawarkan tempat mereka sebagai tempat menginap. Sepulangnya dari Iceland, Fenton mulai mengembangkan ide ini menjadi komunitas CouchSurfing. Saat ini, CouchSurfing sudah menjadi organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk komunitas global, di mana para traveler dari berbagai negara bertukar jasa gratis; mulai dari tempat menginap sampai menjadi pemandu wisata dadakan, atau sekedar menemani minum kopi. CouchSurfing adalah cara seru untuk bepergian dan bertemu orang dari segala penjuru dunia sekaligus mengenal budaya lokal mereka, dengan hemat tentunya.

4.Komunitas Musik Jazz (tamsurchamber.wordpress.com)
Taman Suropati Chamber adalah sebutan bagi komunitas pemusik yang berlatih setiap Minggu pagi di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.  Komunitas ini dibentuk pada Mei 2007 oleh Ages Dwiharso, seorang seniman yang peduli terhadap musik Indonesia. Semua orang boleh menjadi anggota komunitas ini; anak-anak, pelajar, mahasiswa, karyawan, sampai orangtua. Asalnya pun boleh apa saja; beragam suku, bahkan orang asing. Iuran keanggotaannya pun sangat terjangkau jika dibandingkan dengan kursus-kursus musik pada umumnya. Tentunya, lagu yang dimainkan kebanyakan adalah lagu-lagu daerah Indonesia, sesuai dengan misi dan concern awal sang pendiri. Tahun lalu, di bulan Mei, Taman Suropati Chamber menggelar konser besarnya yang pertama di Gedung Kesenian Jakarta, berkolaborasi dengan pemusik-pemusik ternama.

5.Komunitas Graffiti Cahaya (http://komunitaslightgraffiti.blogspot.com/)
Graffiti cahaya adalah jenis tehnik fotografi yang belakangan ini menjadi makin populer, di mana kamera menangkap garis-garis dan gambar-gambar yang dihasilkan oleh cahaya yang digerakkan. Dengan maraknya ragam hobi fotografi saat ini, graffiti cahaya pun segera menarik minat para fotografer Indonesia, yang sudah profesional maupun yang masih amatir. Di Jakarta, ada Komunitas I “Light”, yang berkegiatan pada malam hari dan selalu berpindah-pindah area di seputar Jakarta. Selain di Jakarta, beberapa kota lain di Indonesia juga sudah mempunyai komunitas serupa.

Nah, bagaimana sekarang? Sudah waktunya, ‘kan, untuk kita yang ada di gereja berdampak langsung kepada mereka yang di luar sana? Mari, kita jadi orang muda yang tidak hanya berkutat di “kotak” dunia gereja dan “sibuk” dengan kegiatan agama, tapi justru keluar untuk bersentuhan langsung dengan dunia luar hari ini, supaya lahir murid-murid Kristus di berbagai komunitas! ? (my)

2019-10-04T11:43:48+00:00