///Konsep Pemuridan Menurut Alkitab

Konsep Pemuridan Menurut Alkitab

Pada bulan ini, kita melanjutkan pembahasan tentang pemuridan, setelah sebelumnya kita merenungkan pemuridan lewat persahabatan. Kali ini, secara khusus kita akan mengamati konsep pemuridan menurut Alkitab. Ada beberapa hal akan kita pelajari kembali, agar pencerahan yang kita dapatkan semakin kuat.

 

Suatu konsep amat penting dalam penerapan praktisnya, dan demikian pula halnya pada pemuridan. Jika kita melakukannya sesuai konsep yang alkitabiah, kita pun akan menerapkannya dengan panduan yang benar. Sebaliknya, jika konsepnya tidak sesuai dengan Alkitab, penerapannya pun pasti salah. Dari pemuridan sebelum Kristus naik ke surga, kita dapat melihat konsep-konsep pemuridan yang sangat mendasar, tetapi semua itu belum lengkap. Pemuridan baru menjadi lengkap setelah Yesus naik ke surga dan Roh Kudus dicurahkan untuk membentuk Tubuh Kristus, atau Gereja. Dari surat-surat Paulus dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat memahami pula bahwa salah satu rasul yang dipercayai untuk melengkapi konsep pemuridan yang masih belum lengkap adalah Paulus. Paulus sebagai rasul dipakai Tuhan untuk meneruskan ajaran Yesus, khususnya tentang pemuridan dalam konteks pembangunan tubuh Kristus. Mari kita lihat apa yang diajarkan Paulus tentang pemuridan:

 

“Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segenap tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” – Kolose 1:27-29, TB2

 

 Kristus yang ada di tengah-tengah kita adalah pengharapan akan kemuliaan

 Kita dapat melihat bahwa dalam ketiga ayat ini terdapat konsep pemuridan yang sangat esensial dan menyeluruh, yang pada dasarnya dapat terangkum dalam prinsip kebenaran yang berbunyi “Kristus yang ada di tengah-tengah kita adalah pengharapan akan kemuliaan”. Itulah titik fokus yang menjadi pusat konsep pemuridan menurut Alkitab: Kristus yang berdiam di dalam dan di tengah-tengah orang percaya. Berangkat dari prinsip itu, kita dapat menemukan beberapa konsep penting penjabarannya.

 

Paulus mengatakan bahwa kepada dia dipercayakan sebuah rahasia yang sangat kaya, yaitu bahwa Kristus yang ada di antara orang-orang percaya adalah pengharapan akan kemuliaan. Artinya, agar manusia yang berdosa dapat kembali kepada gambar dan rupa Allah (Kristus) sesuai rancangan penciptaan, Kristus harus menebus manusia dari dosa lalu berdiam di dalam diri manusia. Di sisi lain, agar manusia berubah hingga menjadi makin serupa dengan Kristus, manusia harus menjadikan Kristus pusat kehidupannya. Dengan demikian, Kristus yang berada di dalam kita akan memenuhi setiap ruang-ruang manusia batiniah kita, sehingga tidak ada lagi ruang kosong di dalam kita. Kristus akan memenuhi roh, pikiran, perasaan, kehendak, hati nurani, dan pikiran bawah sadar kita sehingga hidup kita semakin dipenuhi dengan segala kepenuhan Kristus.

 

 

Enam konsep penting tentang pemuridan 

  1. JANTUNG/HATI atau INTI PEMURIDAN: KRISTUS

 Dialah yang kami beritakan”, bukan yang lain.

Pertama-tama, kita perlu mengerti dan mengingat bahwa jantung, hati, atau inti pemuridan adalah Kristus sendiri. Maka, pemuridan adalah membawa orang-orang agar hidup berpusatkan Kristus (Kristosentris) yang ada di dalam mereka, karena itulah pengharapan akan kemuliaan mereka (Kol. 1:27). Pemurid tidak boleh membawa orang berpusat kepada diri, ajaran, atau pengalamannya sendiri. Paulus pun mengingatkan pemimpin-pemimpin di Efesus agar jangan menjadi pemimpin yang mengajarkan ajaran palsu (tidak Kristosentris) yang membawa orang bukan menjadi pengikut Kristus, tetapi menjadi pengikut mereka (Kis. 20:30). Pemuridan apa pun yang tidak bersifat Kristosentris adalah pemuridan yang menyimpang. Pemuridan yang ajarannya tidak Kristosentris dan menjadikan orang lain murid (pengikut) manusia akan cenderung mempraktikkan kontrol dengan kekuatan diri (ego).

Sebagai pemurid, kita tidak menjadikan orang murid kita, tetapi murid Kristus. Jika seseorang menjadi murid Kristus, Kristuslah yang mengendalikan hidup mereka sepenuhnya, bukan kita. Fungsi kita seorang pemurid adalah menjadi contoh (teladan) dalam mengikut Kristus, yang mendampingi orang yang dimuridkan dalam perjalanannya sendiri mengikut Kristus.  Seorang pemurid haruslah membimbing seseorang untuk menjadi pengikut Kristus sambil dia sendiri tetap menjadi pengikut Kristus dengan contoh hidup. Seorang pemurid yang tidak mengikut Kristus, yang lebih mengikuti egonya sendiri, tidak dapat membimbing orang lain untuk mengikut Kristus.

 

  1. ALAT PEMURIDAN: KOMUNITAS SEPAKAT (HAVRUTA)

 

Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.

Paulus menggunakan kata “kami” di ayat 28 untuk mendeskripsikan proses pembinaan setiap orang agar bertumbuh sebagai murid Kristus. Sebagaimana pembahasan kita dalam artikel-artikel sebelumnya, penggunaan kata “kami” itu sejalan dengan pengamatan bahwa Paulus sebagai orang Yahudi menggunakan pola/sistem pemuridan komunitas kecil/sepakat, yang dalam bahasa Ibrani disebut havruta. Kata “kami” di situ menunjukkan kesesuaian dengan budaya Yahudi itu, maka dapat kita pahami bahwa para rasul pun melakukan proses perintisan gereja dan pemuridan menggunakan pola/sistem komunitas dua-tiga orang tersebut.

Ayat-ayat lain dalam surat-surat Paulus pun menguatkan pemahaman itu, misalnya saat Paulus membina murid-murid Kristus di Tesalonika, dia tidak sendirian, tetapi besama dengan tim kerasulan yang terdiri dari tiga orang, yaitu Paulus, Silwanus dan Timotius: “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius. Kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu,” (1 Tes. 1:1, TB2). Demikian pula yang tampak dalam pasal kedua suratnya itu: “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapak terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya,” (1 Tes. 2:11-12, TB2).

Demikianlah, kita dapat melihat dalam Alkitab bahwa alat yang digunakan oleh para rasul untuk menghasilkan murid adalah komunitas persahabatan yang sepakat (havruta, “kompak”).

 

  1. CARA PEMURIDAN: MENASIHATI DAN MENGAJAR DALAM HIKMAT

 

“… bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat

Bagaimanakah caranya membawa orang yang dimuridkan untuk mencapai sasaran pemuridan, yaitu menjadi pengikut Kristus yang berdiam di dalam dirinya? Dari ayat 28 ini kita belajar prinsipnya: “menasihati dan mengajar dalam segala hikmat”.

  1. Menasihati: Kata yang diterjemahkan menjadi “menasihati: dalam bahasa Yunani naskah Alkitab ini mempunyai arti “menegur dengan lembut”. Maknanya seperti “konseling”. Artinya, pemurid memberikan teguran yang sifatnya membimbing, untuk mengarahkan agar murid Kristus menyadari kekurangan/kesalahannya hingga dapat melihat sasaran yang Tuhan ingin dia capai, lalu menemukan apa yang harus dia lakukan untuk mengatasi kekurangan/kesalahannya dan mencapai sasaran tersebut. Menasihati bukan berkhotbah atau menyampaikan kata-kata nasihat satu arah yang bersifat perintah atau larangan, melainkan membimbing dengan menyediakan ruang percakapan yang bersifat konseling.
  2. Mengajar dalam segala hikmat: Kata yang diterjemahkan menjadi “mengajar” di ayat bahasan kita dalam bahasa Yunaninya adalah persis sama dengan kata “mengajar” di Matius 28:19 (Amanat Agung). Dalam Amanat Agung Yesus, dikatakan, “… dan mengajar dia menurut segala sesuatu yang Aku pesan kepadamu,” (Matius 28:20, TL, LAI). Mengajar yang dimaksud bukanlah mentransfer pengetahuan untuk menghasilkan pemahaman mental di otak, melainkan menunjukkan sampai orang yang diajar mendapatkan pencerahan pribadi yang praktis dan dapat mempraktikkannya. Agar seorang murid Kristus mendapatkan pencerahan yang demikian, diperlukan bukan hanya pengetahuan melainkan terutama hikmat. Pencerahan yang lahir dari hikmat berarti pengertian, lebih dari sekadar pengetahuan tentang suatu fakta, yang membuahkan kemampuan untuk menafsirkan dan mempraktikkan suatu kebenaran. Seorang pemurid perlu mengajarkan ajaran-ajaran Kristus dalam segala hikmat, sehingga murid Kristus mendapatkan pencerahan dan kemampuan untuk mempraktikkannya.

 

  1. SASARAN PEMURIDAN: KESEMPURNAAN DALAM KRISTUS                                        

 “… untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.

Prinsip yang keempat dalam konsep pemuridan kesempurnaan dalam Kristus sebagai satu-satunya sasaran pemuridan. Pemuridan bukanlah membawa orang untuk mencapai kesuksesan, potensi “diri” yang maksimal, kebahagiaan hidup, pemahaman Alkitab, atau mengumpulkan harta di surga; semuanya itu sering kali sangat kurang atau sama sekali tidak terkait dengan sasaran menjadi serupa dengan Kristus. Satu-satunya sasaran pemuridan menurut Alkitab adalah kedewasaan (kesempurnaan) dalam Kristus. Lalu, apakah ukuran pencapaian sasaran tersebut? Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Bapa di surga adalah sempurna (Mat. 5:48). Yang dimaksud bukanlah sempurna tanpa cela dalam pengertian tidak bisa jatuh dalam dosa lagi, melainkan sempurna dalam arti “lengkap”, “utuh”, atau “matang/dewasa”. Ini berarti pemuridan membawa murid Kristus dalam proses bertumbuh makin dewasa rohani untuk mencapai keserupaan dengan Kristus.

 

  1. HARGA PEMURIDAN: USAHA DAN PERGUMULAN SEGENAP TENAGA

 Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segenap tenaga

Ternyata, dengan fokus utama segala pelayanan gereja, apalagi pemuridan, untuk membawa tiap tiap orang menjadi serupa Kristus, ada harga yang harus dibayar. Gereja dan para pemurid perlu mengusahakan dan mempergumulkan hal ini dengan segenap tenaga. Artinya, tanpa bermalas-malas, menunda-nunda, meremehkan, atau memperhitungkan untung-ruginya. Sayang, kebanyakan gereja masa kini lebih berfokus pada hal-hal lain, seperti mengadakan acara-acara besar atau meriah, persekutuan atau aktivitas kumpul-kumpul yang menyenangkan jemaat, kegiatan-kegiatan sosial untuk meningkatkan jumlah kehadiran di kebaktian, dan sebagainya. Alasan di balik perbedaan fokus itu biasanya adalah ketidaksiapan banyak gereja untuk membayar harga. Dalam hal waktu, energi, dana, dan banyak lagi, terus-menerus mengusahakan dan mempergumulkan pemuridan yang membawa tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus adalah hal yang sulit, berat, dan mahal.

Yesus pun  berkata bahwa untuk menjadi murid sejati kita harus menyerahkan hidup secara radikal, dengan menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Kita harus merangkul penderitaan. Jika kita tidak sungguh-sungguh mengusahakan dan mempergumulkannya dengan segenap tenaga, mustahil kita akan berhasil. Mari kita menyadari dan berjalan dalam kebenaran ini, karena gereja-gereja yang tidak bersedia membayar harga yang mahal ini justru pada akhirnya akan membayar harga konsekuensi yang lebih mahal yaitu kehancuran total pada saat api pemurnian menguji pekerjaan setiap orang (1 Kor. 3:10-17).

 

  1. KEKUATAN PEMURIDAN: KUASA TUHAN (ROH KUDUS)                                               

 “… sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Dari bagian terakhir ayat bahasan kita, terlihat bahwa meskipun menjadi gereja yang menghasilkan murid tidaklah mudah, ada janji Tuhan yang menyertai prosesnya. Kuasa Tuhan sendiri menyertai kita yang setia melakukan pekerjaan itu, seperti yang dialami oleh Paulus pula. Kuasa Tuhan berarti kuasa Roh Kudus, yang akan bekerja dengan kuat/dahsyat melalui gereja dan pemurid dalam proses menjadikan tiap-tiap orang murid Kristus yang dewasa. Janji ini sejalan dengan maksud Roh Kudus diberikan kepada kita. Roh Kudus diutus untuk melanjutkan proses pemuridan yang dilakukan oleh Yesus sebelum kebangkitan-Nya.

Lalu, bagaimana kita dapat mengalami kuasa yang hebat itu? Kuncinya adalah “sesuai”. Artinya, seluruh proses pemuridan yang kita lakukan harus merupakan kerja sama antara kita dengan Roh Kudus, dengan kita menyesuaikan diri kepada kehendak dan pimpinan-Nya. Hasilnya, kuasa Tuhan bekerja “sesuai” dengan seberapa luas kita menyediakan ruang untuk itu.

 

Memahami konsep pemuridan menurut Alkitab dari pembelajaran ini, marilah kita kini mulai mempraktikkan prinsip-prinsipnya dalam proses pemuridan yang kita lakukan dalam komunitas jemaat lokal yang ada. Tuhan menyertai dan bekerja ddengan kuasa-Nya dalam proses yang kita lakukan.

2024-04-26T11:33:48+07:00