//Kotak Bekal

Kotak Bekal

Semasa sekolah dulu, seperti murid-murid sekolah pada umumnya, tiap hari saya membawa sekotak bekal makanan. Isinya sederhana dan berkisar pada menu-menu seputar nasi dengan telur dadar, sosis goreng, atau chicken nugget… kadang terselip pula sedikit lauk dari menu di rumah malam hari sebelumnya. Variasi lain yang juga sesekali muncul adalah nasi goreng atau roti lapis (dengan isian tetap sederhana seperti keju lembaran, selai, atau mentega dan gula pasir). Menu juara? Tentu mi goreng instan, yang berubah jadi padat dan keras ketika waktu makan siang tiba. Kaku, dingin, dan bentuknya menyerupai kotak wadahnya, tetapi entah bagaimana justru terasa paling nikmat dibandingkan dengan menu-menu lainnya. Setuju?

Urusan bekal membuktikan bahwa para ibu adalah salah satu sosok pahlawan dalam kehidupan kita. Jangankan bekal makanan untuk anaknya bersekolah, bekal makanan untuk segala macam perjalanan pun selalu menjadi keahlian khusus mereka. Dengan ajaibnya, para ibu cermat memikirkan dan merencanakan menu, porsi, pengemasan, dan jadwal konsumsi makanan sejak jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Perjalanan jauh maupun dekat, dua puluh menit atau dua jam atau dua hari perjalanan; rasa lapar barang lima menit pun akan aman terkenyangkan oleh bekal yang disiapkan para ibu. Dari roti isi, kue kering, kudapan asin, permen penahan kantuk, sampai menu utama berupa nasi dengan tiga lauk, tidak lupa pula menu sampingan berupa setidaknya dua jenis buah supaya nutrisi terpenuhi. “Daripada susah cari tempat makan di jalan, lagipula lebih bersih dan sehat kalau makan dari bekal yang disiapkan sendiri…” ujar mereka. Meskipun seluruh persiapannya sungguh penuh kerepotan, orang-orang seperjalanan pasti menikmati kenyangnya. Bahkan setelah perjalanan selesai dan seluruh pasukan telah tiba kembali di rumah, sering kali masih ada saja makanan berlebih yang tidak kebagian tempat di perut saking berlimpahnya.

—————————————————

Sadar atau tidak, manusia merasa lebih tenang kalau punya “persiapan”, untuk situasi apa pun. Apa pun yang perlu dihadapi, kita tentu cenderung melakukan persiapan sebelumnya, baik secara materi maupun mental. Dapat jadwal sidang skripsi? Berbulan-bulan sebelumnya kita akan membekali diri dengan materi skripsi dan menyiapkan mental untuk menjawab pertanyaan dewan penguji. Mau mengajukan pembuatan SIM? Tentu sudah siap dengan bekal pelajaran mengemudi sebelumnya: maju, mundur, belok kiri, belok kanan, putar balik, parkir mundur, dan parkir paralel. Ingin bepergian ke luar negeri? Bekal rencana perjalanan dan target-target kunjungan, mata uang lokal, kalimat-kalimat singkat yang penting dalam bahasa lokal (termasuk pertanyaan tentang arah dan lokasi, misalnya untuk menemukan toilet terdekat), bahkan juga sambal botol dan sedikit makanan instan sebagai penyelamat darurat jika menu-menu lokal ternyata tak mampu memuaskan selera saat lapar. Dalam berbagai konteks dan level, mempersiapkan dan membekali diri sudah begitu terintegrasi dengan hidup kita, sampai-sampai kadang kita menolak untuk maju melakukan ini-itu kalau merasa belum siap (bahkan, belum siap mandi, contohnya). Apalagi untuk melakukan sesuatu yang “bukan gue banget”—out of our comfort zone.

Sebagai orang Kristen, kita kerap menganggap satu hal ini “bukan gue banget“:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa  murid-Ku dan baptislah  mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” – Matius 28:19

 

Karena memuridkan itu “bukan gue banget” (meski perintah Tuhan), apa yang lantas kita katakan?

“Eh, eh… gimana? Duh… saya nggak siap. Saya belum bisa dibilang sukses jadi murid Kristus, masa mau memuridkan orang lain? Nanti-nantilah, biarkan saya belajar lagi dulu… Mungkin beberapa tahun lagi, deh… Kalau saya sudah punya bekal gelar di ilmu teologi, khatam membaca Alkitab berkali-kali, biasa melakukan mukjizat, baru saya akan coba memuridkan…”

Atau,

“Aduh, sepertinya ini bukan bagian saya… Saya mah bisa apa, ngomong saja cuma bisa 144 karakter, berdoa apalagi… Mana bisa saya ngajarin orang lain? Talenta saya nggak cukup… Biar orang lain sajalah yang memuridkan, yang pintar-pintar, yang sudah banyak pengalaman. Saya dukung dalam doa saja…”

Narasi yang sangat manusiawi… Tentu kita masing-masing pernah ada di titik semacam ini, merasa tidak siap, tidak berdaya, tidak sanggup, untuk memuridkan orang lain. Rasanya, bekal kehidupan kita ini belum cukup banyak untuk bisa menuntun orang lain menjadi murid Kristus. Nanti kalau gagal atau kalau kita salah mengajari, bagaimana? Kalau kita sendiri malah jatuh ke dalam perbuatan dosa, bagaimana? Kalau nanti si murid bertanya hal yang sulit atau aneh-aneh lalu kita tidak mengerti jawabannya, bagaimana? Kalau tawaran saya untuk memuridkan justru ditolak, bagaimana?

Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara  Simon Petrus, berkata kepada-Nya: ‘Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?‘ ” – Yohanes 6:8-9

Kisah kepahlawanan dan mukjizat ini sungguh terkenal. Sepaket bekal sederhana, di tangan Yesus, menyelamatkan perut ribuan orang. Judulnya “Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang“, dan lima ribu itu barulah perhitungan jumlah laki-laki dewasa saja, belum termasuk jumlah wanita dan anak-anak. Singkatnya, seorang anak yang keberadaannya bahkan tidak diperhitungkan ke dalam jumlah terdaftar (karena dia masih anak-anak) menyerahkan bekalnya kepada Yesus, saat orang banyak di hadapan Yesus itu lapar. Berkal itu porsinya cuma sedikit dan pas-pasan untuk kapasitas perut si anak, bukan bekal hasil persiapan seorang ibu yang dimaksudkan untuk dibagi bersama puluhan teman seperjalanan. Namun, saat bekal anak itu diserahkannya kepada Yesus, sesuatu yang ajaib terjadi bagi semua orang yang berada di sana.

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur  dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” – Yohanes 6:11

Kotak bekal kehidupan kita mungkin hanya berisi kesederhanaan: doa yang masih terbata-bata, circle pertemanan yang kecil, status dan peran yang tidak terlalu berpengaruh bagi orang lain, kapasitas keuangan yang terbatas, keahlian yang ala kadarnya dan sama sekali tidak menonjol, atau berbagai kondisi “pas-pasan” lainnya. Hati kita terusik melihat orang-orang yang lapar dan haus akan kasih Kristus, tetapi di saat yang sama pikiran kita bertanya-tanya seperti Simon Petrus, “Apakah artinya (hidup saya) untuk orang sebanyak ini?” Kita lupa bahwa, seperti pada kisah itu, bukanlah si anak pemilik bekal sendiri yang memecah-mecahkan lalu melipatgandakan isi bekalnya untuk orang banyak, melainkan Kristuslah yang melakukannya. Bukan juga Simon Petrus yang mengerjakan multiplikasi setelah dilatih intensif lewat kehidupan pelayanan bersama Yesus, melainkan Yesus sendirilah yang melakukannya. Kawan-kawan, bukanlah kita yang mengadakan mencari dan mengadakan pelatihan bagi diri sendiri untuk bisa memuridkan orang lain serta bangsa-bangsa; Kristuslah yang mengerjakan itu di dalam kita dan melakukan multiplikasi lewat hidup kita.

Akhir kisah bekal anak tadi sangat happy: semua kenyang, semua senang. Kita tidak tahu berapa orang sebenarnya yang menikmati makanan all you can eat hari itu. Kita tidak tahu berapa tepatnya jumlah hasil multiplikasi roti dan ikan saat itu, bahkan si pemilik bekalnya pun tidak tahu. Data yang tercatat hanyalah bekal itu awalnya berupa lima ketul roti dan dua ekor ikan, lalu dilipatgandakan oleh Yesus hingga dimakan kenyang oleh lima ribu pria dewasa dan seluruh wanita serta anak-anak yang juga hadir, sehingga akhirnya tersisa sebanyak dua belas keranjang. Yang jelas kita tahu, ketika anak itu menyerahkan apa yang ada padanya, dengan segala keterbatasan yang ada, kepada tangan Yesus Sang Empunya Kerajaan Allah, multiplikasi terjadi dengan ajaib.

Ketaatan kepada kehendak Allah memerlukan kerelaan dan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman sekaligus melakukan perjalanan menuju keserupaan akan Kristus. Perjalanannya pasti panjang dan berlangsung seumur hidup, medannya pun tidak bisa diketahui pasti sebelum perjalanan dimulai, dan tingkat kesuksesannya pun tidak bisa dijamin menurut ukuran manusiawi. Namun, ada satu hal yang pasti, kita tidak akan berjalan sendirian. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, memberikan apa yang ada pada diri kita untuk dikerjakan-Nya dengan tangan-Nya, saat itu juga Roh Kudus beserta di dalam perjalanan kita dan melengkapi kita dengan segala hal yang kita perlukan. Dia membuka jalan, Dia menunjukkan arah ke mana kita harus melangkah, Dia menuntun dan menjelaskan apa yang kita harus lakukan serta kita katakan. Bahkan, Dia juga mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat. Dalam seluruh perjalanan itu, kita akan menyaksikan sendiri bahwa Dia pun memultiplikasikan Firman yang kita tabur di dalam hidup orang lain. Yang perlu kita lakukan hanyalah langkah awalnya: rela dan berani menyerahkan diri kita apa adanya kepada Kristus. Selanjutnya, kita hanya perlu menikmati perjalanan besar itu!

Kawan-kawan, jangan pernah lupa bahwa bekal hidupmu sudah ada dan siap untuk multiplikasi. Sekarang bukanlah saatnya untuk berdiam saja di dalam perasaan tidak siap. Ketika Tuhan sudah mengetuk hatimu untuk bergerak dan membawa kasih Kristus kepada seseorang di sekitarmu, melangkahlah dengan apa yang ada padamu. Roh Kudus, yang menyertaimu itu, selalu siap melakukan mukjizat multiplikasi, melebihi yang dapat kamu bayangkan sebelumnya.

2022-02-25T13:11:10+07:00