///Kuasa Ciuman Sang Kekasih

Kuasa Ciuman Sang Kekasih

Dari sisi iman kristiani, harus disadari dahulu bahwa hidup sebagai orang percaya bukan lagi hidup yang hanya didasarkan pada hukum “boleh” atau “tidak boleh” yang mutlak. Jika dasar tindakan kita sebatas hukum boleh atau tidak, maka kita hanya akan mencari pembenaran dengan menanyakan mana ayat yang membolehkan atau melarang, tanpa memiliki pengertian yang lebih mendalam. Kalau tidak ada ayat larangannya, artinya boleh. Kalau ada ayat larangannya, artinya tidak boleh. Padahal di Firman Tuhan ada hal-hal yang tidak tersurat (tidak tertulis secara hurufiah), namun jika kita memiliki pengertian akan Firman Tuhan hal-hal tersebut sudah tersirat. Dasar keputusan kita sebagai orang percaya seharusnya adalah kebenaran yang sudah ditanam oleh Tuhan di hati kita masing-masing. Dengan kita bergaul karib dengan Tuhan dan merenungkan FirmanNya siang dan malam, dan dengan pertolongan Roh Kudus, niscaya kebenaran itu akan muncul dari hati kita. Kita akan memiliki kepekaan dalam memahami segala sesuatu berdasarkan kebenaran, sehingga kita akan mengetahui tindakan apa yang harus kita pilih atau lakukan. Seperti yang Paulus katakan, “…segala sesuatu itu diperbolehkan, tetapi tidak semua berguna dan membangun” (1 Kor. 10:23). Boleh mungkin saja, tapi apakah berguna dan membangun? Tentunya berguna dan membangun adalah berguna dan membangun yang sesuai dengan standar Tuhan, bukan standar manusia.

Menjaga kekudusan adalah salah satu perintah dan standar yang Tuhan tetapkan bagi kita orang percaya untuk dilakukan di dalam hidup ini. Tuhan memanggil kita untuk melakukan yang kudus bukan yang cemar (1 Tes. 4:7). Apakah berciuman pada masa pranikah itu berguna dan membangun kita dan pasangan? Apakah kekudusan kita tetap terjaga atau justru membuat kita menjadi cemar? Dengan memahami standar Firman Tuhan dan memiliki kerinduan untuk taat kepadaNya, kita akan memiliki kepekaan, sehingga hati nurani kita akan memberikan jawabannya.
Terkait dengan hubungan pranikah dan masalah ciuman, berikut kebenaran dari Firman Tuhan yang dapat dijadikan renungan dan bahan pertimbangan untuk memutuskan perilaku apa yang akan dilakukan dalam masa pranikah dengan calon pasangan, yang menjadi inti kebenaran dari hubungan pranikah itu sendiri:

1. Hubungan pranikah harus didasari dengan kekudusan
Dalam 1 Tesalonika 4:3-5, Firman Tuhan mengatakan, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi istrimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah.”
Tuhan menginginkan pengudusan kita, Tuhan menghendaki kita menjauhi percabulan. Konsep Tuhan mengenai percabulan bukan hanya sampai pada tataran tindakan tapi dimulai dari motivasi di hati. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya (Mat. 5:28). Dalam Alkitab Bahasa Inggris versi King James, konsep menginginkan digambarkan dengan kata lust, yang artinya hawa nafsu. Jadi, baru memandang dan memiliki hawa nafsu kepada calon pasangan kita menurut standar Tuhan saja pun sudah dinilai berzinah, melakukan percabulan, tidak kudus. “Menginginkan” hanya boleh setelah ada pernikahan, itupun harus dilakukan dengan pasangan sendiri dan dalam pengudusan dan penghormatan. Mungkin ada yang mengatakan, “Saya mencium pasangan saya tanpa nafsu kok, karena kasih. Jadi boleh, dong?” Ada juga yang berkata, “Kalo cium bibir itu emang bikin nafsu tapi kalo kecup kening saja saya nggak kepikiran apa-apa kok. Boleh, lah…” Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Ingat! Kita tidak akan terjebak dengan sekedar boleh atau tidak boleh, namun harus dapat jujur mengecek ke kedalaman hati kita sendiri, apakah memang demikian atau tidak.

Sebagai tambahan referensi, mari kita telaah efek ekspresi fisik khususnya ciuman dalam hubungan pranikah dari sisi biologis dan psikologis. Secara biologis, saat pria dan wanita melakukan ciuman akan memicu sistem syaraf yang memunculkan rasa bahagia dan juga gairah seksual. Biasanya ada efek “nyetrum” yang dirasakan oleh yang melakukannya. Tubuh akan mengeluarkan hormon dopamin dan endorfin. Munculnya hormon dopamin menurut Sheril Kirshenbaum, penulis buku The Science of Kissing, bisa menimbulkan efek kecanduan. Ciuman pertama bisa menimbulkan hasrat ciuman berikutnya sampai pada level kecanduan. Terlebih jika melakukan ciuman bibir, pengaruh terhadap gairah akan kuat sekali. Pria akan mentransfer hormon testoteron melalui air liur dan sangat besar kemungkinan bisa merangsang gairah seksual wanita. Tentunya bila ini dihubungkan dengan Firman Tuhan, ini berarti sudah muncul nafsu seksual yang sebenarnya harus dihindari untuk dimunculkan oleh pasangan yang belum berada dalam ikatan pernikahan.

Jika efek kecanduan ciuman berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan melewati ambang batas dan pada akhirnya terjerumus pada dosa percabulan. Ada titik tertentu di mana salah satu pasangan atau keduanya tidak mungkin kembali lagi untuk bisa menguasai dirinya secara normal. Biasanya muncul rasa gelisah dan tidur tidak tenang. Awalnya, pasangan pranikah akan membatasi perilaku ciumannya, namun biasanya akan kalah oleh nafsu yang ditimbulkannya. Beberapa orang tidak bisa mengendalikan dan terus melangkah lebih intim sampai mengalami orgasme (pada wanita) atau ejakulasi (pada pria), walaupun tanpa melakukan persetubuhan. Jika sudah sampai tahap ini kemungkinan besar orang tersebut menyalurkannya melalui onani dan masturbasi setelah pulang pacaran. Pada titik ini, walaupun belum sampai terjadi hubungan seksual, secara psikologis hal ini akan sangat mempengaruhi relasi dengan pasangan. Kemesraan yang terbangun dengan unsur gairah seksual akan “mengikat” satu sama lain dan rawan konflik. Pasangan akan merasa memiliki sehingga mudah timbul rasa cemburu, terobsesi dan protektif dengan pasangannya. Pasangan pria menjadi lebih menuntut dan pasangan wanita biasanya ada konflik batin antara ingin dicium lagi namun di sisi lain merasa pasangannya mencium karena nafsu bukan benar-benar mengasihi. Wanita yang mengalami konflik batin seperti ini bisa merasa tidak berharga, benci namun sekaligus takut kehilangan pasangan prianya. Sulit sekali tercipta hubungan yang rileks dan saling menghargai sebagai pribadi yang utuh antar pasangan jika hubungan pacarannya lebih banyak diisi dengan kontak fisik seperti ciuman.

Memang tingkat penguasaan diri terhadap pengaruh hormonal yang menimbulkan gairah seksual tiap orang berbeda, tergantung dari jenis kelamin, usia dan kedewasaan rohani seseorang. Mungkin jika hanya pegangan atau ciuman di kening tidak terpikirkan sampai melakukan hubungan seksual. Tapi bila kita melakukannya, kita membuka pintu terhadap godaan untuk melakukan lebih lagi. Daripada berspekulasi, bukankah lebih baik kita menghindari penyebab munculnya gairah seksual yaitu ciuman? Bukankah lebih baik kita menjaga diri sehingga menghindari risiko yang tidak perlu? Salomo sendiri dalam Kitab Kidung Agung sudah memperingatkan kita agar jangan kita menggerakan cinta sebelum waktunya (Kid. 8:4).

2. Calon pasangan adalah saudara seiman
Dalam BPN, kami diajarkan bahwa hanya ada 2 jenis hubungan antara pria dan wanita, yaitu hubungan suami istri atau hubungan saudara/saudara seiman. Jika pun telah terjadi pertunangan, tetap statusnya adalah sebagai saudara seiman. Maka, pria harus memperlakukan pasangannya sebagai saudara seiman dengan penuh kemurnian, dan sebaliknya. Rasul Paulus menasehati Timotius:
“Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.” (1 Tim. 5:1-2)
“Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kami sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah.” (1 Tes. 4:9)
Seperti yang dicontohkan Yusuf terhadap Maria, Boas terhadap Rut, dan sebaliknya, mereka menunjukkan kasih kepada calon pasangannya seperti kepada saudara, yaitu dengan memberikan perlindungan, menjaga nama baik, dan menghormati satu sama lain tanpa perlu menunjukkan ekspresi sentuhan fisik yang dapat mengarah pada dosa seksual. Calon pasangan haruslah diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan saudara / saudara seiman kita. Jika kepada saudara seiman lain kita tidak melakukan ciuman, tentunya dengan calon pasangan kita juga tidak melakukannya.

Konsep atau inti dari membangun hubungan pranikah adalah kasih persaudaraan. Ekspresi kasih secara fisik bukanlah hal yang inti dan belum waktunya. Kasih itu sabar. Jika pasangan kita sungguh-sungguh mengasihi kita, ia pasti memiliki kesabaran untuk menunggu sampai pernikahan untuk mengekspresikan kasihnya secara fisik.

Akhirnya, kesimpulan dari semua ini adalah sebagai orang muda (yang dimaksud dengan “muda” dalam hal ini adalah orang-orang yang belum menikah dan sedang membangun hubungan pranikah), “…jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2 Tim. 2:22). Jauhilah hal-hal yang akan membangkitkan nafsu seksual sebelum waktunya. Hindari terlalu sering hanya berduaan dengan pasangan. Miliki komitmen bersama untuk menjaga kekudusan. Masa pranikah lebih baik diisi dengan penyamaan visi/impian, membangun komunikasi, saling terbuka untuk mengenal sifat dan karakter masing-masing, belajar saling menghargai, dan bisa tetap tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan dapat mengoptimalisasi diri, bukan diisi dengan kedekatan fisik yang pada akhirnya akan sulit sekali untuk direm dan mambawa kita ke terjebak dalam dosa.

2015-01-24T04:36:51+07:00