///Kuat melalui Proses

Kuat melalui Proses

Ketika memperhatikan orang-orang yang sedang berlatih di pusat kebugaran, saya melihat bahwa orang-orang yang memiliki otot kuat itu tidak demikian secara tiba-tiba atau seketika. Mereka rajin melatih ototnya dengan beban yang cukup dan frekuensi yang konsisten dalam proses waktu yang cukup lama. Rupanya, semua ini membentuk otot menjadi lebih kuat dan mampu mengangkat beban yang lebih berat.

Di Alkitab, bulan ini saya bersama rekan-rekan pemuridan belajar banyak dari kisah kehidupan Raja Daud; bagaimana seorang Daud muda dan tak berpengalaman sebagai prajurit bisa menang mengalahkan seorang Goliat, prajurit Filistin yang besar, kuat, dan tersohor; bahkan, kisah kemenangan Daud ini terus berlanjut menyertai hidupnya sebagai seorang raja.

Di balik kesuksesan ini, kita bisa melihat bagaimana Daud sebelum bertempur dengan Goliat sebenarnya telah mengalami banyak kemenangan karena imannya pada Tuhan Allah. Ketika semua orang, bahkan termasuk saudara-saudara dan orang tuanya, meremehkan dia, Daud tetap beriman bahwa Tuhanlah yang memberi kekuatan kepada dirinya. Ketika Raja Saul meremehkannya, dia malah menguatkan kepercayaan Raja Saul dengan imannya. Daud tidak menjadi marah atau “BT” (BeTe) ketika direndahkan, tetapi justru sebaliknya, dia tetap memegang teguh imannya dan percaya bahwa Tuhan Allah ada di pihaknya.

Latar belakang kisah sukses Daud menarik. Sejak muda, Daud telah hidup bebas dari kesedihan, bebas dari penilaian orang lain, bebas dari amarah, yang ada hanya sukacita, damai sejahtera dan iman. Daud terbiasa menggembalakan domba dengan sukacita sambil bersekutu dengan Tuhan dan mengalami penyertaan-Nya secara nyata (misalnya, ketika Daud berani dan berhasil melawan singa dan beruang yang menerkam dombanya oleh pertolongan Tuhan). Dari sini jelaslah bahwa keberhasilan Daud menghadapi Goliat tidak datang tiba-tiba, tetapi melalui sebuah proses. Salah satu kunci keberhasilan Daud adalah dia terbiasa menjaga damai sejahtera dalam hidupnya, tanpa tergantung pada orang lain atau situasi yang ada di sekitarnya. Dia tetap beriman dan menguatkan kepercayaan-Nya pada Tuhan, berdasarkan perkataan/janji Tuhan yang sudah didengarnya dalam persekutuan dengan Dia.

Dalam kehidupan kita sendiri, kita juga mampu mengalahkan ‘Goliat’ kita sendiri, yaitu berbagai kemustahilan yang mengancam. Hal penting yang bisa kita pelajari dari Daud ialah bahwa hidup ini tidak tergantung pada situasi atau orang lain, tetapi tergantung pada respons hati, tempat kita menaruh kepercayaan dan keyakinan kita. Kalau kita beriman pada Tuhan bukan menggantungkan diri pada orang lain atau situasi (artinya, kita percaya dan yakin pada perkataan Firman Tuhan yang telah kita terima), kita bahkan bisa mengalami kemenangan yang lebih baik dari Daud, karena Allah telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita. Kesulitan dan kemustahilan yang kita hadapi akan menjadi sebuah kesempatan untuk Tuhan menyatakan diri-Nya.

Bagaimana iman yang kuat dan teguh ini bisa kita miliki? Proses. Kemenangan Daud sebenarnya bukan saja saat mengalahkan Goliat, tetapi sudah terbangun dan terlatih sejak sebelumnya ketika dalam hidupnya setiap saat dia berhasil menjaga sukacita dan damai sejahtera dalam hatinya dan tidak peduli dengan sikap atau situasi di luar dirinya, karena dia beriman bahwa Tuhan Allah ada di pihaknya.

Tak ada hasil tanpa proses. Sia-sia saja kita memimpikan memiliki iman yang kuat dan teguh atau kemenangan yang hebat dan besar tanpa setia melakukan proses latihan iman dalam persekutuan dengan Tuhan dan Firman-Nya setiap saat. Mari kita terus menguatkan dan meneguhkan iman percaya kita pada Tuhan melalui proses yang tak berhenti setiap saat; kalahkan setiap pikiran yang melemahkan dengan kembali ke Firman Tuhan sehingga kita terus bersukacita dalam setiap situasi hidup yang kita alami. Alhasil, kita akan makin kuat dan teguh di dalam Tuhan dan sehingga menghadapi kemustahilan dalam hidup.

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” – Ulangan 31:6

 

2019-09-27T12:29:19+07:00