///Kuat tetapi Indah, karena Saya Wanita!

Kuat tetapi Indah, karena Saya Wanita!

Mungkin sebagian di antara kita masih ingat serial animasi “The Powerpuff Girls”, yang populer di televisi puluhan tahun lalu. Serial itu sempat menjadi serial animasi dengan rating tertinggi dalam sejarah Cartoon Network, tepatnya pada tahun 1998. Temanya tentang sekelompok wanita muda yang menghabiskan waktu mereka memberantas kejahatan serta melawan para penjahatnya–yang kebanyakan adalah laki-laki. “The Powerpuff Girls” mungkin hanya karakter kartun, tetapi mereka mencerminkan gagasan tentang kehebatan dan kekuatan wanita yang umum di zaman sekarang ini: wanita adalah yang makhluk kuat, cerdas, serbabisa, dan perlu menyelamatkan pria dari ulah pria sendiri. Sebaliknya, pria digambarkan sebagai pelaku kekerasan yang jahat, agresif, atau sebagai orang bodoh yang inferior dan tidak kompeten.

“The Powerpuff Girls” hanyalah salah satu suguhan media yang tak terhitung jumlahnya yang beragendakan redefinisi arti seorang wanita. Dunia memprogram wanita untuk meremehkan kelembutan kita sekaligus mendorong wanita untuk menjadi kuat, bahkan keras, sehingga kita tanpa sadar membiarkan keindahan yang Tuhan ciptakan dalam diri kita tergerus.

Keindahan? Ya! Ada keindahan yang Tuhan taruh di dalam diri wanita sejak dia dijadikan. Firman Tuhan menyatakan bahwa wanita diciptakan menjadi penolong dengan keunikannya, dan kekuatan menjadi penolong ini tergambar dalam kata “ezer” yang mengacu pada sifat Tuhan sebagai penolong kita (Mzm. 33:20, “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan perisai kita!”; Mzm. 72:12, “Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong,”).

 

Memang, kata “penolong” ini memicu reaksi negatif bagi beberapa orang, karena mereka menganggap bahwa menjadi seorang penolong sama saja menempatkan wanita dalam posisi atau peran sekunder. Wanita dianggap menjadi pelayan pria; wanita “menolong” pria dengan mencuci pakaian kotornya dan memasak makanannya, misalnya. Padahal, benarkah demikian?

Yang Firman Tuhan maksud dengan menjadi “penolong”, bukanlah memberi bantuan “sepele” atau menjadi “pesuruh” yang hanya melakukan apa yang diperintahkan. Sebaliknya, “ezer” atau penolong memiliki makna yang sangat kuat, yaitu memberikan bantuan yang mutlak dan sangat diperlukan. Ini berarti, penolong menurut Firman Tuhan merupakan peran dan fungsi yang sangat kuat dan membutuhkan kapasitas kesanggupan yang besar. Untuk memahami implikasi dari desain “penolong” dalam diri seorang wanita secara utuh, kita perlu melihat dari kacamata Alkitab apa yang harus dilakukan wanita untuk “menolong” pria.

Pria diciptakan untuk memuliakan Tuhan-dan untuk melayani Dia (bukan melayani dirinya sendiri). Inilah tujuan akhir manusia. Maka, wanita menolong pria dalam desain penciptaan Tuhan bukanlah wanita disuruh-suruh oleh pria untuk memenuhi tujuan egois pria itu sendiri. Tuhan mendesain wanita menjadi penolong untuk membantu pria dalam memenuhi tujuan utamanya. Wanita menolong pria memuliakan Tuhan dengan cara yang tidak dapat pria lakukan jika wanita tidak ada.

 

Saat penciptaan, tujuan yang dinyatakan Tuhan adalah manusia diberkati untuk memperluas keluarga-Nya—Dia ingin manusia “berbuah dan bertambah banyak” (Kej. 1:23). Tentu saja ini adalah sesuatu yang pria tidak bisa lakukan tanpa wanita. Tanpa wanita, mustahil bagi pria untuk menghasilkan kehidupan. Wanita memiliki peran yang sangat penting agar tujuan Allah ini tergenapi. Selain itu, Tuhan pun menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk menaklukkan bumi dan segala isinya, dan tujuan ini pun perlu digenapi pria bersama wanita, karena Tuhan pun menciptakan wanita saat melihat bahwa tak baik bahwa pria seorang diri saja. Ketika wanita menjalankan fungsinya sebagai seorang penolong, sesungguhnya dia sedang melakukan sesuatu dengan tujuan yang lebih besar dan bersifat kekal, bahkan mulia yaitu menggenapi tujuan Tuhan bagi manusia serta menyatakan, meninggikan, dan menunjukkan keindahan Kristus yang menakjubkan.

 

Saat ini, apa peran kita masing-masing dalam kehidupan sebagai wanita? Dalam hal apa kita masing-masing menolong pria-pria yang Tuhan tempatkan di sekeliling kita? Jangan mau tertipu oleh dusta dunia ini, yang membuat kita tidak menjalani peran dan fungsi sebagai wanita di dalam rumah tangga, pekerjaan, gereja, dan di mana pun Tuhan tempatkan kita, karena kita merasa rendah atau lemah dengan status kewanitaan kita. Mari, ingatlah akan kekuatan indah yang Tuhan berikan secara alamiah di dalam diri kita.  Sadari kembali bahwa kita adalah wanita. Wanita sebagai penolong bukanlah istilah yang merendahkan, justru merupakan keindahan yang mulia. Wanita memang kuat, tetapi juga indah. Perannya tidak dapat tergantikan oleh apa pun dan siapa pun.

 

 

Pertanyaan refleksi:

– Apakah saya sudah bisa melihat rancangan Tuhan yang besar dalam diri saya sebagai seorang wanita?

– Apakah saya sudah memiliki cara pandang yang benar tentang wanita sebagai penolong?

– Apakah saya sudah menjalankan fungsi dan peran saya sebagai penolong dalam kehidupan sehari-hari?

 

2023-08-30T09:55:26+07:00