///Last Sharing In Bengawan Solo Café

Last Sharing In Bengawan Solo Café

Saya adalah seorang konselor yang sudah terbiasa melakukan konseling hingga 8 orang dalam sehari. Walaupun lewat email, BBM, telpon ataupun bertemu langsung. Saya merasa terpanggil untuk menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang yang membutuhkannya. Saya begitu bahagia jika melihat perubahan wajah dari konseli (orang yang saya konseling) saya. Rasanya tak pernah bosan menyediakan telinga dan memberikan perhatian kebutuhan pada orang yang membutuhkan teman untuk bicara.

Apalagi, penatua kita telah mengajarkan bahwa mendengar dengan kasih akan banyak menyembuhkan hati orang yang sedang curhat. Saya mempercayai hal itu. Sudah terbukti secara ilmiah. Bahwa pre-frontal cortex kita, bagian tertentu dari otak yang terletak di belakang dahi kita, mampu memancarkan gelombang kasih Tuhan yang luar biasa, yang akan memberikan ketenangan dan rasa nyaman yang luar biasa, bahkan sanggup menyembuhkan kepahitan pengalaman masa lalu, jika disertai dengan pengakuan-pengakuan dari konseli secara jujur dan terbuka. Ini memang telah seringkali saya saksikan langsung. Saya mengalami banyak sekali konseli-konseli pulih dan disembuhkan. Dan itulah yang menyebabkan saya tidak pernah berhenti untuk menyediakan telinga dan hati yang penuh kasih bagi orang orang yang membutuhkan konseling. Namun sejak peristiwa yang menimpa sahabat saya itu, ada hal yang menyentak dalam hati saya. Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang masih ada. Peristiwa itu membuat saya memutuskan dalam hati untuk lebih baik lagi dalam melayani konseling. Dengan cara menjadi pendengar yang baik. Menghibur dan menguatkan sesama yang membutuhkan.

Inilah yang ingin saya bagikan kepada pembaca semua. Doa saya bagi pembaca adalah agar Anda menjadikan setiap waktu berharga lebih baik. Dalam suka maupun duka. Bersyukurlah senantiasa. Baca, renungkan, lakukan dan bagikan Firman Tuhan. Banyak berdoa, bersekutu dengan Tuhan. Libatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita. Jangan kotak-kotakkan hidup ini. Pahamilah bahwa “bekerja dengan benar” adalah sebuah ibadah (Kolose 3:23), dan melayani dengan hati sama itu sama dengan profesionalisme. Gaya hidup Kristus adalah berespon seperti Kristus dalam segala situasi, menyenangkan atau menyebalkan, ketika kita tertekan atau ditinggikan.

Selamat jalan sahabatku yang dikasihi Tuhan. Saya tidak pernah berpikir bahwa ternyata, sharing kita setahun lalu di Bengawan Solo Cafe, adalah sharing terakhir. Terima kasih, kepergianmu telah memperbaharui komitmenku semakin kuat, semakin lebih baik, semakin semangat menjadi pendengar yang penuh kasih bagi sesama yang membutuhkan.

In memoriam, Bro. Akhiong yang dikasihi Tuhan, 2 Juli 2014.

2019-10-17T17:43:35+07:00