//Lebih Besar, Lebih Cepat, Lebih Mulia

Lebih Besar, Lebih Cepat, Lebih Mulia

Memasuki awal tahun 2022 ini, kita melihat banyak yang sudah kita lewati, apalagi dua tahun ke belakang yang merupakan masa-masa sulit dan tak menentu bagi kita semua. Sebelum memulai perjalanan baru di tahun yang baru ini, bahkan sebelum memulai memikirkan serta merencanakan langkah-langkah yang akan diambil, satu hal yang perlu kita lakukan pertama-tama sebenarnya adalah mengucap syukur atas segala penyertaan dan kebaikan Tuhan yang melimpah.

 

Menyampaikan beberapa kalimat terima kasih kepada Tuhan mungkin terlihat mudah dan klise, tetapi ini sesungguhnya membutuhkan kerendahan hati dan pengenalan akan Tuhan yang mendalam dan pribadi. Kita tahu dan sering diajar untuk menanamkan kebiasaan mengucap syukur setiap harinya, sebelum memulai dan sesudah melakukan aktivitas. Namun, sadarkah kita bahwa ucapan syukur berarti kita ingat bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan seizin Tuhan, dan bahwa segala hal yang Dia izinkan itu adalah baik semata-mata bagi kita? Sadarkah kita bahwa tanpa kasih karunia serta kekuatan dari-Nya, kita belum tentu dapat melewati masa pandemi dan bertahan sampai hari ini?

 

Mengawali tahun yang baru ini, aku sendiri berharap untuk mulai melibatkan Tuhan dalam setiap rencana yang dipikirkan dan dilakukan. Aku pun mengajak kita semua untuk membuka hati dan telinga untuk peka menangkap arahan Tuhan bagi kita masing-masing selama setahun ke depan. Tuhan akan berbicara dan memakai hidup kita masing-masing secara khusus, sesuai dengan kapasitas yang telah Dia tetapkan. Masa lalu telah berlalu meninggalkan segala pembelajaran yang berharga, dan kini telah tiba saatnya untuk kita berfokus melihat arahan dan janji Tuhan di jalan kita di depan.

 

Secara khusus, aku menangkap sebuah kata: “percepatan”.

 

Perjalanan hidup bersama Tuhan memang tidak selalu mulus; banyak liku-liku atau proses panjang yang harus kita jalani. Namun, jelas bahwa selalu ada Tuhan di samping kita, menyertai kita senantiasa, karena Dia begitu mengasihi kita sebagai anak-Nya. Kasih-Nya sebagai Bapa kita begitu kuat dan dahsyat hingga Dia ingin kita melakukan lebih dari apa yang diharapkan atau dipikirkan manusia. Lebih besar, lebih cepat, lebih mulia; bagi kita yang mengasihi Dia dan telah dipanggil ke dalam rencana-Nya.

 

Pertanyaannya, mengapa banyak dari kita belum mengalami yang lebih besar, lebih cepat, dan lebih mulia itu? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Tuhan sudah menyediakan semuanya untuk kita menerima segala yang melampaui pikiran kita, tetapi sering kali kita gagal berespons terhadap pekerjaan-Nya. Dalam hal percepatan yang sedang Tuhan kerjakan bagi kita, tanpa sadar kita menghambatnya dengan terus berkutat dalam kekhawatiran dan kecemasan kita sendiri, yang sebenarnya belum tentu terjadi.

“‘Sesungguhnya, waktu akan datang,’ demikianlah Firman TUHAN, ‘bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran.'” – Amos 9:13,TB

 

Penyertaan Tuhan tak pernah hilang, kapasitas kita sudah disiapkan, talenta yang memadai sudah diberikan sebagai modal, dan ladang sudah menguning… Saat ini, di tahun yang baru ini, makin banyak kesempatan terbuka bagi kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan, dan hanya kitalah satu-satunya yang dapat menggenapi rencana indah Tuhan melalui keunikan pribadi dan konteks kita. Lalu, kapan kita akan mulai menerima dan berespons terhadap percepatan yang Tuhan kerjakan ini?

 

Bagi Tuhan, tidak ada hal yang mustahil. Kalau saat ini kita merasa terlalu sibuk atau terlalu tak sanggup untuk melangkah ke depan dan berkarya, kembalilah pada iman kita masing-masing dengan menelusuri segala hal baik yang telah Tuhan kerjakan pada masa lalu kita. Inilah yang akan melatih iman kita menjadi tahan banting. Tahan banting bukan cuma berarti kuat dan teguh, tetapi juga tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan dan perubahan. Apa pun kondisi atau situasi yang sedang kita alami, izinkan iman kita yang tahan banting di dalam Tuhan itu mengambil alih segalanya dan menuntun kita ke dalam percepatan-Nya.

 

“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: ‘Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.'” – Keluaran 12:1-2, TB

 

Musa adalah salah satu tokoh Alkitab yang berespons tepat terhadap percepatan dan menanggapi panggilan Tuhan dalam kehidupannya. Musa bergaul karib dengan Tuhan dan selalu berjalan dalam iman. Di tengah musim yang kering sekalipun, Musa tetap setia dan percaya bahwa janji Tuhan akan tergenapi, yaitu bahwa ia akan memimpin bangsa Israel hingga menuju Tanah Perjanjian. Mungkin sulit dibayangkan betapa seseorang dapat setia dengan proses yang berat selama 40 tahun, tetapi tercatat bahwa Musa sanggup melakukannya. Dia percaya bahwa setiap proses yang harus dihadapinya merupakan suatu percepatan yang Tuhan berikan untuk suatu tujuan yang lebih besar. Hal-hal yang dilakukan Musa dalam masa 40 tahun itu menunjukkan keintimannya dengan Tuhan dan kuasa otoritasnya yang didapatnya dari keintiman itu. Nah… Seperti Musa bertindak dan mengalami percepatan di generasinya, mari kita pun melakukan hal yang sama pada masa kita dan di generasi kita.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” – Amsal 3:5-6, TB

 

Tahun 2022 ini, serahkan semua yang ada di dalam kehidupan kita, segenap diri kita, kepada Tuhan; termasuk segala rencana, tanggung jawab, kekhawatiran, pemikiran, dan perasaan kita, ke dalam tangan penyertaan Tuhan. Mungkin setelah ini, perjalanan kita bersama Tuhan tidak akan menjadi lebih mudah, bahkan penuh dengan tantangan baru. Namun, sekali lagi, semua proses yang Tuhan izinkan terjadi pasti mendatangkan kebaikan. Ketika kita sedang mengalami masa-masa kering dan tawar hati, jangan lupa untuk datang dan akui semuanya di hadapan Tuhan. Izinkan Tuhan menyegarkan kita kembali dan memberi kita kekuatan baru untuk menyelesaikan semuanya sampai akhir, karena di dalam percepatan-Nya telah tersedia yang lebih besar, lebih cepat, dan lebih mulia bagi kita.

2021-12-20T12:10:32+07:00