///Lensa yang rusak

Lensa yang rusak

Beberapa bulan lalu, saya menambah kelengkapan kamera dengan membeli sebuah lensa jarak jauh yang juga sekaligus bisa membuat foto jarak dekat, yang dalam dunia fotografi sering disebut dengan istilah lensa “tele” dan “wide”. Awalnya semua berfungsi dengan baik, hingga suatu ketika saya kesulitan untuk mengarahkan fokus lensa ketika sedang mengabadikan sebuah foto. Beberapa kali saya mencoba untuk mengarahkan fokus ke objek yang akan saya foto, tetapi lensa baru itu tidak bisa menetapkan fokus. Akibatnya, hasil fotonya menjadi tidak jelas atau buram, dan tentunya ini kurang memuaskan. Tampaknya fitur auto focus pada lensa itu tidak berfungsi dengan baik. Maka, lensa itu harus saya bawa ke toko untuk diperbaiki agar bisa kembali mengatur fokusnya.

 

Ketika sebuah lensa kehilangan kemampuan fokusnya, kita menjadi kesulitan untuk menentukan objek mana yang lebih diutamakan dari beberapa objek foto kita. Bahkan sering kali, hal ini membuat kita tidak bisa membedakan dengan jelas setiap objek yang ada dalam foto kita. Padahal, hasil foto yang tidak fokus adalah sebuah hasil foto yang buruk.

Melihat pengalaman ini, saya memahami satu hal tentang pentingnya fokus dalam hidup kita. Ketika anak Tuhan tidak dapat menentukan apa yang menjadi fokus hidupnya, semuanya tampak penting atau sebaliknya, semuanya tampak tidak penting alias buram. Sayang sekali, karena sebenarnya setiap hidup perlu fokus, dan fokus hidup anak Tuhan adalah memenuhi panggilan Allah.

Dunia memang dipenuhi dengan berbagai kemewahan dan kemudahan hidup yang bisa membuat anak Tuhan kehilangan fokus hidupnya. Banyak anak Tuhan yang akhirnya kehilangan fokus karena ada tawaran duniawi yang lebih menarik. Ketika anak Tuhan kehilangan fokusnya, semua hal seolah-olah tampak penting dalam hidupnya. Mereka akan berfokus pada karier/bisnis, hubungan, harta, kesenangan diri sendiri, atau bahkan pelayanan. Banyak waktu dalam hidup yang kita habiskan untuk hal-hal yang sesungguhnya “tidak penting” ini. Sekilas semuanya tampak baik-baik saja, namun sebenarnya bukan itu yang harusnya menjadi fokus seorang anak Tuhan.

Mari belajar dari anak-anak Tuhan yang menjadi tokoh Alkitab, yang semuanya berfokus pada panggilan Allah dalam hidup mereka. Abraham, Musa, Yosua, dan Paulus telah hidup dengan fokus hidup yang benar, yaitu memenuhi panggilan dan janji Allah dalam hidup mereka serta hidup orang-orang yang mereka pimpin/gembalakan. Ketika merenungkan hal ini, saya diingatkan Tuhan bahwa hidup ini bukan semata-mata tentang bagaimana saya memenuhi kebutuhan hidup. Sebelum ada dalam pemuridan, saya banyak memfokuskan diri pada membangun karier dalam pekerjaan. Saya terjebak dalam fokus hidup yang salah. Namun, semuanya berubah ketika bersama pemurid dan teman-teman komunitas, saya belajar mengarahkan pada fokus yang benar.

Anak Tuhan yang tidak punya fokus hidup sama seperti sebuah lensa kamera yang tidak mampu mengatur fokus. Lensa kamera itu masih berfungsi untuk mengabadikan sebuah foto, namun gambar hasil foto tersebut pasti tidak indah. Gambar hidup anak Tuhan yang kehilangan fokus juga tidak akan menghasilkan gambar yang indah. Tidak jelas apa yang ada dalam hidupnya, semuanya buram, dan tidak menjadi kemuliaan bagi Allah di hadapan orang lain.

Seperti halnya ketika saya menyadari ada yang salah dengan lensa kamera yang saya miliki, kita juga harus segera memeriksa “lensa” hidup kita. Apakah kita sudah memiliki fokus yang benar sehingga hidup kita bisa dilihat indah oleh orang-orang di sekeliling kita dan lewat hal itu mereka akan memuliakan Bapa di surga? Perbaiki ‘lensa’ hidup kita melalui proses pemuridan, dan temukan fokus hidup sebenarnya, yaitu memenuhi panggilan Allah untuk memenangkan jiwa-jiwa. Tuhan memberkati! (HTa)

2019-10-11T12:38:22+07:00