//Liburan bertemu Tuhan

Liburan bertemu Tuhan

Keadaan kita dewasa ini, khususnya yang tinggal di kota besar, setiap hari banyak berkejaran dengan waktu atau kesibukan lain. Kondisi ini membuat kita membutuhkan kesempatan untuk sejenak “lari” dari rutinitas.  Ya, inilah yang biasa kita sebut liburan, momen yang paling dinantikan. Asyiknya, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menikmatinya.

Ada yang menggunakan waktu liburan untuk tidur sebanyak-banyaknya. Ada yang bersantai dan merawat diri. Ada yang berkutat dengan hobi yang biasanya tak sempat disentuh. Namun mungkin yang paling banyak digemari adalah berkunjung ke tempat-tempat wisata, terbukti dengan padatnya tempat-tempat wisata di kala musim liburan seperti sekarang ini. Apalagi di era informasi yang semakin mudah didapat, banyak orang semakin berani untuk pergi menjelajah ke tempat baru.

Padahal, masalah yang sering tidak disadari justru muncul khususnya saat liburan. Orang berlibur tanpa mengerti arti liburan itu atau sekedar ikut-ikutan akan “terjerat” oleh liburan itu. Melihat orang-orang sekitar atau teman-teman di media sosial yang meng-upload momen liburan di luar kota/negeri bukan berarti kita pun harus tidak mau kalah aksi. Apalagi jika jenis aktivitas itu tidak tepat untuk diri kita, atau jika sampai kita memaksakan diri dengan berutang. Akibatnya, momen liburan bukan menjadi masa menyegarkan kembali tenaga dan pikiran, tetapi mungkin jutru semakin membuat lelah dan beban pikiran bertambah.

Saya pernah memiliki pemikiran, setiap tahun minimal sekali harus liburan keluar kota, karea itu membuat saya fresh kembali dengan melihat pemandangan. Saya pikir saat itu, liburan adalah momen terbaik menikmati Tuhan. Sampai akhirnya saya dibuat mengerti, bahwa kalau saya sudah terlalu mengejar liburan daripada memanfaatkan liburan itu sendiri dengan sebaik-baiknya, itu berarti saya sudah “terjerat”. Liburan memang perlu bagi setiap orang, demi mengalami kembali kesegaran yang baru dari Tuhan agar siap untuk berkarya lagi. Tuhan pun melakukan serta mengajarkan konsep Sabat di dalam Alkitab, saat Tuhan berhenti dari rutininas kerjaNya dan beristirahat. Liburan memang alkitabiah, tetapi kita perlu memastikan bahwa tujuannya tercapai bagi diri kita, yaitu kesegaran baru dari Tuhan itu.

Nah, setelah memahami esensi liburan, saya suka menggunakan beberapa pertanyaan ini sebagai panduan dan evaluasi:

1. Mengapa saya ingin berlibur? Apakah ini saat yang tepat (secara jadwal kewajiban, secara keuangan, secara hubungan, dll.) untuk saya berlibur?

2. Aktivitas apa yang paling “manjur” membuat saya mengingat kebaikan/kebesaran/kasih Tuhan sehingga menjadi relaks kembali? (Misalnya: Pergi ke tempat asing/baru dan melihat keindahan alam? Bertemu penduduk setempat dan mempelajari budayanya? Membeli barang atau menikmati makanan yang sudah lama diidam-idamkan? Merawat diri di salon atau spa langganan? Melakukan hobi lama yang sering terlupakan karena kesibukan? Dll.)

3. Setelah liburan, apakah saya semakin mengenal, mengasihi dan menaati Tuhan, serta menjadi relaks kembali? Atau justru semakin stres dan letih?

Matius 11:28, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” jelas mengajak kita untuk datang kepada Dia yang menyegarkan itu, bukan menyuruh kita untuk pergi ke suatu tempat tertentu atau mencari kesegaran di tempat lain. Bukankah kita sudah tahu kebenaranNya, bahwa Yesus mati dan naik ke surga supaya kehadiranNya menjadi nyata tidak terbatas? Kita tidak perlu ke tempat tertentu atau melakukan aktivitas tertentu untuk bisa mengalami kesegaran itu atau bertemu dengan Tuhan, tetapi kita perlu mengalami Dia setiap saat dan di mana saja.  Yang diperlukan bukanlah “syarat” tempat, suasana, atau aktivitas itu, tetapi kesiapan hati kita yang senantiasa menginginkan Dia. Jika hati kita menginginkan Dia, apa pun akan membawa kita untuk mengalami kesegaran baru dariNya.

Yuk, mulai sekarang, manfaatkan liburan dengan bijak. Ingat, kesegaran baru yang sesungguhnya hanya ada di dalam Tuhan, dan ada cara serta waktuNya yang unik dan pribadi bagi masing-masing orang, tanpa perlu saling membandingkan atau iri hati!

2019-10-17T13:01:29+07:00