//Lihat Ke Belakang Untuk Maju Ke Depan

Lihat Ke Belakang Untuk Maju Ke Depan

 

Lupa Lihat Spion
Siapa diantara Anda yang ingin naik mobil tanpa kaca spion? Atau siapa diantara Anda yang mau membeli sebuah mobil baru tanpa diberi kaca spion? Orang normal akan menjawab tidak mau. Mengapa? Karena meskipun kecil, kaca spion adalah salah satu alat terpenting pada sebuah mobil.
Ketika Anda ingin melaju lebih kencang tapi jalanan menjadi sulit, ketika banyak mobil di sekitar dan Anda ingin menyalip, Anda wajib melihat kaca spion. Demikian pula dengan hidup Anda. Jika Anda mau berjalan 2x lebih cepat, memiliki prestasi yang menyalip orang lain, atau berada dalam kondisi yang penuh “kemacetan” dan “himpitan” masalah di tahun ini, maka Anda harus menyempatkan diri melihat kaca spion hidup Anda, yaitu MENGEVALUASI bagaimana kehidupan Anda di tahun lalu.
Banyak orang berkata, “lupakan yang tlah lalu dan mengarah pada tujuan!” atau “jangan menengok ke belakang supaya kamu tidak menjadi patung garam seperti istri Lot!”. Penerapan kata-kata itu seringkali dipakai untuk konteks yang salah. Maksudnya, melupakan masa lalu jika memang benar semua urusan sudah selesai, kita sudah mengevaluasi dan menarik pembelajaran, maka marilah kita berfocus kepada apa yang ada di depan.
Masalahnya adalah banyak orang yang tidak mengevaluasi kehidupannya, tidak menarik pembelajaran dari apa yang terjadi, berpura-pura atau menyangkali apa yang sudah terjadi, serta menutup mata terhadap kekeliruan di masa lalu, sehingga ia memaksakan diri maju ke depan, maka tidak heran mereka jatuh lagi di lubang yang sama tiap tahun. Karena mereka tidak pernah belajar dari kesalahan di tahun sebelumnya.

Apakah Kita Orang Gila?
Salomo menulis, “Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal,”(Amsal 17:10). Apa kaitan ayat ini dengan topik yang kita obrolkan? Orang bijak bisa belajar dari kesalahan dan peristiwa buruk yang telah terjadi, sehingga satu “hardikan” kekeliruan atau permasalahan, cukup untuk membuat dia berubah dan menjadi lebih bijaksana dalam menjalani hidupnya. Sebaliknya, orang bebal, meski bertahun-tahun telah jatuh di lubang yang sama. Sebab, “100 pukulan” kesalahan telah dilakukan, maka ia akan tetap saja melakukannya di tahun berikut. Itulah sebabnya, meski goalsettingnya bertambah banyak, tetapi hidupnya nyaris tak bergerak maju.
Bukan hanya Salomo, tapi Einstein berkata, “Definisi orang gila adalah orang yang terus-menerus melakukan hal yang sama, tapi mengharapkan hasil yang berbeda!” Jika Anda masih bekerja dengan cara yang sama dari tahun lalu, dengan usaha yang sama, energy yang sama, strategi yang sama, tetapi berharap tahun ini memberikan hasil 2 kali lipat hanya karena Anda menulis sebuah daftar mimpi, maka (kata Einstein) Anda sudah gila. Kalau Anda berkomunikasi dengan pasangan Anda dengan cara yang sama, memperlakukan dia dengan cara yang sama, tidak mau mengubah diri Anda sama sekali, dan berharap pernikahan Anda tahun ini menjadi lebih baik, maka (kata penulis Amsal) Anda bebal!
Jadi, sebelum Anda terburu-buru memacu “kehidupan” Anda untuk meluncur ke depan dengan semua impian hebat Anda, tidak ada salahnya bila Anda menyempatkan diri Anda untuk menengok spion sesaat saja. Evaluasilah satu tahun yang lalu. Amati cara hidup Anda, kekeliruan Anda, dan pikirkan: adakah yang harus diperbaiki, diubah, dan ditingkatkan agar supaya tahun ini menjadi lebih baik bagi Anda. Lihatlah dimana letak lubang-lubang yang membuat Anda jatuh, sehingga tahun ini Anda bisa menghindarinya.

“Masa lalu bisa menjadi sebuah sampah, atau menjadi sebuah harta, tergantung bagaimana Anda memaknai dan menggunakannya” – Josua Iwan Wahyudi

Ditulis oleh : JOSUA IWAN WAHYUDI
Master Trainer EQ Indonesi a | @josuawahyudi

2019-09-29T05:46:53+00:00