///Lima Jurus Jitu Menghadapi Rekan Kerja yang Bermasalah

Lima Jurus Jitu Menghadapi Rekan Kerja yang Bermasalah

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Filipi 4:8-9 TB

 

Punya rekan kerja yang sama sekali tidak bisa diharapkan untuk bekerja sama? Adakah rekan kerja Anda yang terkesan seenaknya dan kinerjanya tidak jelas, tetapi seolah-olah pemimpin tutup mata soal itu? Jika ada, seperti sebagian besar orang lain yang harus berhubungan dengan rekan kerja jenis ini, mungkin sekali Anda juga merasa frustasi. Rekan kerja yang idealnya meringankan beban kerja karena proses kerja sama yang baik justru kehadirannya menambah beban kerja. Secara teori, Anda pun mungkin ingin agar rekan kerja ini dipecat saja, tetapi rupanya dia masih saja ada di lingkungan kerja Anda. Nah, beberapa alasan berikut bisa jadi merupakan pertimbangan pemimpin dan kantor untuk membiarkan, atau malah mempertahankan, rekan kerja bermasalah itu:

 

  1. Dia punya hubungan pribadi dengan pemimpin

Meski perilakunya negatif, pekerja yang memiliki hubungan pribadi (sebagai teman, sahabat, kerabat, keluarga, bahkan mungkin kekasih atau pasangan) dengan pemimpin atau pejabat perusahaan akan cenderung selalu dipertahankan. Mungkin dia tidak pandai atau berprestasi dalam pekerjaannya, tetapi merupakan teman yang baik bagi sang pemimpin dalam permainan golf, saat hang out bersama, atau hal-hal lain.

 

  1. Pemimpin bergantung pada dia

Menurut Terence R. Mitchell, Ph.D., penulis buku bisnis “People in Organizations: Understanding Their Behavior”, saat seorang pemimpin bergantung pada pekerja yang dipimpin, biasanya si pemimpin seolah melupakan kinerja buruk si pekerja. Kalau pun tahu, pemimpin sering memilih tutup mata dan tutup telinga.

 

  1. Dia membawa nilai lebih untuk perusahaan

Mungkin pekerja yang di mata Anda kerjanya hanya bercanda atau bermain-main sambil menghabiskan jam kerja itu sebetulnya brilian. Tanpa Anda tahu, mungkin sedikit waktu yang benar-benar dipakainya untuk bekerja itu menghasilkan produktivitas tinggi yang menjadi nilai lebih tersendiri yang signifikan bagi perusahaan.

 

  1. Perilakunya dinilai masih bisa dimaafkan dan kehilangan dia dapat berdampak buruk

Pekerja yang dikenal menyebalkan oleh begitu banyak rekannya belum tentu harus dipecat, karena mungkin pemimpin maupun manajemen perusahaan justru menilai bahwa dampaknya akan buruk jika pekerja itu tidak ada lagi di kantor. Atas dasar pertimbangan ini, kadang perilaku buruk seorang pekerja jadi dimaafkan dan dibiarkan terus-menerus, apalagi jika pemimpin/manajemen punya pengalaman buruk dalam merekrut orang yang tidak tepat untuk posisi pekerja itu.

 

  1. Pemimpin takut kepada dia

Berkaitan dengan alasan sebelumnya, jika ada kecemasan di antara manajemen bahwa pekerja yang bersangkutan mungkin akan menuntut perusahaan atau memicu kericuhan saat dipecat, mungkin pemimpin akan merasa takut dan lebih memilih menunda-nunda untuk mengambil keputusan memecatnya. Jika ancaman dan potensi bahaya ini benar ada, sebaiknya perusahaan berkonsultasi hukum dengan pengacara dan mengambil langkah yang tepat sebelum memutuskan memecat pekerja itu.

 

  1. Pemimpin kasihan kepadanya

Pada kasus-kasus tertentu, pemimpin bisa saja memiliki penilaian yang subjektif terhadap rekan kerja Anda yang bermasalah itu. Pemimpin yang menaruh simpati atau merasa kasihan secara khusus kepada pekerjanya akan cenderung “tidak ambil hati” terhadap apa pun yang dilakukan si pekerja. Pemimpin mungkin khawatir bahwa jika pekerja itu dipecat, dia tak bisa mendapatkan pekerjaan baru dan akan gagal menafkahi keluarganya atau akan mengalami dampak buruk bagi kesehatannya. Alhasil, pemimpin memutuskan untuk tetap mempertahankan pekerja itu.

 

  1. Pemimpin tak ingin merekrut pekerja baru

Memang butuh waktu cukup lama untuk menyelenggarakan perekrutan pekerja baru: mulai dari membuat iklan lowongan, menyortir aplikasi yang masuk, melakukan proses tes hingga wawancara, sampai melatih orang baru. Atasan mungkin merasa seluruh perekrutan itu memboroskan waktu, tenaga, dan biaya, sehingga lebih memilih mempertahankan pekerja bertabiat buruk ketimbang menggantinya dengan orang baru.

 

  1. Dia mengetahui suatu rahasia atau punya keahlian khusus yang langka

Pekerja bermasalah yang tidak Anda sukai mungkin mengetahui sesuatu yang memalukan soal pemimpinnya atau informasi rahasia penting milik perusahaan. Bisa juga, dia memiliki keahlian khusus yang langka, misalnya, dialah satu-satunya orang yang mampu mengoperasikan peralatan rumit yang fungsinya esensial dalam kerja dan gerak perusahaan. Tanpa dia, kondisi perusahaan menjadi terancam.

 

  1. Dia terlalu pandai “membawa diri”

Dalam buku “Snakes in Suits”, Paul Babiak, Ph.D. dan Robert D. Hare, Ph.D. menjelaskan bahwa psikopat di tempat kerja ternyata berjumlah mencengangkan. Psikopat sendiri mungkin “hanya” mencakup 1% dari total populasi, tetapi Babiak dan Hare menemukan bahwa 3,5% dari semua eksekutif bekerja dengan orang yang profilnya cocok dengan kriteria psikopat. “Pekerja psikopat merupakan pembohong patologis yang hanya sedikit bekerja atau malah tidak melakukan apa-apa untuk perusahaan. Mereka ini membuat manajemen senior terpesona dengan “potensi” mereka, dan dengan demikian memaksa semua orang untuk melindunginya atau dengan mudah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya.”

 

  1. Dia sejatinya berkinerja baik

Jika seorang rekan kerja sering berlama-lama saat jam makan siang, sering bekerja dari rumah, atau melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidak adil, memang dia biasanya sering dianggap berkinerja buruk atau pemalas. Padahal, sepanjang hal itu tidak mengganggu Anda dan pekerjaan Anda, Anda tidak perlu memusingkannya. Siapa tahu, dengan pola dan gaya kerja yang demikian, sebenarnya kinerjanya sangat baik, bahkan luar biasa?

 

Anda tidak bisa mengubah berbagai kondisi yang menjadi alasan rekan kerja Anda yang bermasalah tetap dipertahankan. Namun, Anda selalu bisa mengendalikan respons Anda sendiri, demi damai sejahtera Anda sendiri. Apa saja jurus-jurus jitu yang merupakan respons yang tepat terhadap rekan kerja yang bermasalah?

 

1.Tetaplah benar, tetaplah lurus, tetaplah positif

Tanamkan di dalam pikiran Anda, “Saya tidak bisa mengubah keputusan perusahaan dan saya tidak bisa mengubah situasi, tetapi saya bisa menjaga diri saya untuk tetap positif.” Jangan pusing dan termakan dengan komentar atau perilaku negatif rekan kerja. Gunakan selalu standar yang benar, lurus, dan positif untuk diri Anda sendiri sebagai penyaring dalam menyikapi dia.

 

2. Berfokuslah pada sisi terangnya

Di balik kelemahan atau kekurangan seseorang, tetap ada kekuatan dan kelebihan tertentu. Berfokus pada sisi positif atau sisi terang akan menolong Anda untuk tetap berespons benar terhadap rekan kerja yang bermasalah. Temukan keunggulan rekan kerja Anda yang bermasalah dan jadikan keunggulan itu pembelajaran bagi diri Anda sendiri. Misalnya, ternyata walau dia punya karakter yang buruk, sebetulnya dia sangat cerdas dan ahli dalam keterampilan khusus yang Anda tidak kuasai. Cobalah perhatikan keunggulan khusus itu dan belajarlah darinya.

 

3. Kuasai diri sendiri, kendalikan hubungan

Hanya Tuhan yang mampu mengubah orang; Anda tidak mampu melakukannya. Yang mampu dan perlu Anda lakukan adalah menguasai diri Anda sendiri dan dengan demikian mengendalikan hubungan Anda dengan si rekan kerja bermasalah tetap baik-baik saja. Tetaplah bersikap baik dan bersahabat dengan siapa pun, termasuk dengan si pekerja bermasalah. Memang Anda tidak harus bersahabat akrab dengan dia, tetapi Anda pun tidak perlu memusuhi dia. Bisa jadi, suatu saat Anda juga membutuhkan bantuannya.

 

4. Terapkan komunikasi langsung dan utuh

Jangan menggosipkan rekan kerja atau “menitipkan pesan” untuk disampaikan oleh rekan lain kepadanya. Sampaikan langsung keberatan, teguran, masukan, kritik, atau permintaan Anda kepada si rekan kerja bermasalah. Jika perlu, mintalah kehadiran saksi yang netral saat Anda perlu berkomunikasi penting dengan dia, tetapi jangan mengkomunikasikan pesan apa pun dengan cara menitip.

 

5. Pilihlah untuk membangun karier dan kompetensi Anda saja

Anda bekerja di perusahaan ini untuk membangun kehidupan Anda sendiri berdasarkan tuntunan Tuhan. Maka, jagalah fokus Anda untuk membangun prestasi Anda sendiri. Tuntaskan tanggung jawab yang diberikan atasan Anda, jangan memusingkan orang-orang yang bermasalah, dan jangan izinkan orang-orang itu mengganggu target capaian atau proses karier Anda. Jangan jadikan keberadaan si rekan kerja bermasalah dalih untuk kelalaian Anda sendiri.

 

Pada akhirnya, damai sejahtera Tuhan tersedia untuk situasi apa pun, termasuk dalam menghadapi rekan kerja yang bermasalah. Praktikkan tuntunan Firman Tuhan di Filipi 4:8-9 setiap hari dalam bentuk jurus-jurus jitu yang telah dijelaskan, jika Anda mengalami situasi bekerja bersama rekan yang bermasalah. Janji Allah bagi Anda yang melakukannya adalah damai sejahtera-Nya akan menyertai Anda dalam situasi itu. Selamat mempraktikkan!

2022-08-30T08:37:41+07:00