//LOVE never fails

LOVE never fails

Sore itu, hujan turun rintik-rintik. Saya mengarahkan kemudi kendaraan ke sebuah sudut yang masih kosong di ujung jalan sana, di dekat sebuah pohon rindang. Kebetulan, saya harus membereskan suatu pekerjaan di daerah itu, namun lokasinya tak cukup strategis. Membayangkan jarak sekian ratus meter yang kemudian harus saya tempuh dengan berjalan kaki, enggan rasanya! Enggan makin menjadi ketika saya sadar bahwa tak ada payung yang bisa melindungi saya nanti dari rintik hujan. Ah!

Sementara sibuk memarkir kendaran, kedua mata saya tiba-tiba saja tertuju pada seorang bapak tua yang sedang berteduh di balik pohon rindang itu. Rasa iba seketika saja memenuhi seluruh hati ini. Saya jadi lupa akan keluhan-keluhan sepele yang sempat muncul belakangan. Bapak tua itu tampak renta, mungkin sekitar 90 tahun usianya. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar. Ia kelihatan kedinginan. Kasihan sekali! Saya kemudian segera menghampiri lalu menyapanya.

“Bapak, ngapain di sini?”

Beliau tidak menjawab, hanya tersenyum.

“Bapak sakit yah?”

“Ndak. Cuman neduh”, kali ini beliau menjawab.

“Pak, di situ ada warung. Kita neduh di situ yuk…”, ajak saya.

Beliau memandangi saya seperti menyelidik sebelum akhirnya menerima ajakan saya. Hujan rintik-rintik sore itu mungkin memang dipakai Tuhan untuk menghentikan saya sejenak dari kesibukan. Pastinya bukan tanpa sengaja saya berpapasan dengan bapak tua ini.

“Bapak ngopi nggak…? Mau minum kopi? Atau teh manis hangat?”, saya mencoba menawarkan.

“Oh… ndak usah. Ndak perlu repot”, beliau menolak.

Saya tetap saja memesan segelas kopi dan segelas teh. Saya katakan pada beliau bahwa semua itu untuk saya. Di emperan warung itu, saya mengajak si Bapak mengobrol tentang ini dan itu, memancingnya supaya tak kaku. Kamipun terkadang tertawa bersama. Setelah mulai akrab, saya coba tawarkan kembali makanan tetapi dengan tegas ditolaknya sambil berkata sudah kenyang. Saya tak percaya, karena ciri-ciri fisiknya mengisyaratkan bahwa beliau lapar sekali. Namun, entah mengapa si Bapak tak mau menerima tawaran saya. Saya hanya bisa memaklumi dan terus mengajak bercerita sambil menikmati rintik-rintik hujan sore itu.

Makin lama, beliau justru makin banyak bercerita. Tak terasa karena asyik, saya sendiri tidak sadar bahwa hujan sudah berhenti turun sejak tadi. Saya mulai merasa sedikit gerah. Jaket yang tadi saya gunakan sebagai penghangat pun saya buka, sambil  terus mengobrol. Kali ini, saya kembali menawarkan dan sedikit memaksa agar si Bapak mau makan bersama saya. Tak disangka, ternyata kali ini si Bapak tidak menolak. Sambil terus mengobrol, sepiring nasi sayur dan lauknya ludes disantapnya. Si Bapak memang kelihatan lapar sekali. Bahkan dua gelas minuman pesanan pertama tadi pun dihabiskannya. Lega sekali hati saya melihat si Bapak menyantap makanan dengan lahapnya. Semenjak pertama kali melihatnya, saya tahu bahwa Ia memang kelaparan.

“Pak, Bapak kan lapar dan haus. Kenapa tadi menolak tawaran saya?”, tanya saya menggodanya.

Sejenak beliau terdiam sambil menatap tajam ke arah dada saya.

“Saya kenal sama itu!”, katanya sambil menunjuk liontin salib yang tergantung di kalung saya.

“Apa ini, Pak?”, tanya saya sambil menunjukkan liontin itu kepadanya.

“Itu kan Nabi Isa Almasih, nabi yang penuh welas asih.”

Jawaban itu membuat saya terhenyak.

“Lalu, apa hubungannya dengan rasa lapar Bapak?”, tanya saya penasaran.

“Saya ini kan lelaki dari Jawa. Ndak pantes kalau dibelikan makan dan minum sama wanita. Saya juga kan ndak tahu maksud mbak ini apa. Tadi kan bandul Nabi Isa itu ketutup jaket, jadi saya ndak lihat kalau mbak itu pengikutnya Isa. Begitu saya tahu ya saya jadi percaya kalau mbak ini welas asih sama saya”, jelasnya mantap.

Bagai mendengar gita surgawi, hati saya sungguh tergetar mendengar pengakuannya. Sore itu, pelajaran berharga telah saya peroleh. Betapa hal-hal sederhana yang kita lakukan sesungguhnya adalah kesempatan untuk Tuhan yang kita sembah menyentuh hati seseorang, lebih daripada yang kita duga. Karena sesungguhnya, memang kita adalah rumahNya dan saluranNya. Nabi Isa, aku memujaMu!

2019-10-17T15:17:59+07:00