///Makan apa hari ini?

Makan apa hari ini?

Baru-baru ini, saya membaca berita mengenai kondisi gizi anak-anak di Indonesia yang menyatakan bahwa 4 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting alias kerdil karena gizi buruk. Masalah stunting sangat mengancam kualitas SDM bangsa ini ke depannya, karena menyebabkan lambat berpikir, gagal tumbuh, dan percepatan penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, stroke, dsb. Indonesia sendiri menempati urutan ke-5 dalam daftar negara dengan kasus stunting terbanyak. Ironisnya, hasil riset kesehatan dasar yang dilakukan oleh Bappenas menunjukkan bahwa ternyata penderita stunting tidak hanya rakyat miskin; 29 persen di antaranya berasal dari keluarga yang berekonomi mampu. Kasus stunting pada anak dari keluarga mampu biasanya disebabkan karena kurangnya perhatian orang tua terhadap asupan makanan anak. Sebagai seorang ibu saya jadi bertanya-tanya kepada diri sendiri, sudahkah saya memberikan makanan sehat yang “terbaik” bagi anak-anak saya?

Makanan atau asupan bersifat esensial bagi tubuh. Kita tidak bisa hidup tanpa makanan. Umumnya, kita makan tiga kali sehari; sesibuk apa pun kita, bila tubuh kita menjerit kelaparan, kita akan berhenti bekerja lalu makan. Jika kita terus memaksa bekerja atau mengabaikan rasa lapar, muncullah beragam gangguan fungsi tubuh dan penyakit; asam lambung meningkat, radang maag, kram perut, turunnya metabolisme tubuh, stres, dsb.

Sebagaimana kita membutuhkan makanan jasmani untuk dapat melanjutkan kehidupan, tubuh rohani kita pun membutuhkan “makanan-makanan” rohani agar dapat terus bertumbuh dan hidup. Makanan rohani bersifat esensial pula bagi tubuh rohani. Tidak heran, pencobaan pertama yang dialami Yesus adalah mengenai makanan, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Dalam hal ini, Yesus menjawab dengan jelas tentang makanan jasmani dan makanan rohani, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah,” (Mat. 4:3-4). Memang, tubuh rohani kita tidak bisa hanya diberi makan sesekali atau ala kadarnya saja. Kurangnya asupan rohani juga membawa akibat gangguan dan penyakit rohani; kekhawatiran, kemarahan, kepahitan, ketidakpercayaan, kenajisan, dsb. Bahkan, kelaparan rohani pun dapat berujung pada kematian rohani.

 

Lalu, apa makanan rohani yang esensial itu? Makanan rohani kita adalah Firman Tuhan. Asupan Firman Tuhan dalam segala bentuknya dan seluruh isinya itulah yang menjadi gizi bagi tubuh rohani kita.

  • Di dalam Firman, kita akan mendapatkan kekuatan untuk menghadapi segala tantangan kehidupan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah,” (Roma 8:28).
  • Di dalam Firman, kita akan menemukan kepastian akan hari esok: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera  dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan,” (Yer. 29:11).
  • Di dalam Firman, kita memperoleh kesembuhan: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya,” (Yak. 5:16).
  • Di dalam Firman, kita mendapatkan jaminan keselamatan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,” (Yoh. 3:16).

 

Agar kita tidak mengalami “stunting rohani”, kita perlu asupan bergizi dari Firman Tuhan untuk kehidupan rohani kita setiap hari. Bukan hanya bergizi, setiap hari Allah bahkan senantiasa menyediakan makanan rohani yang terbaik dan yang indah bagi kita: “Firman-Mu lebih manis daripada madu,” (Mzm. 119:103, FAYH). Sudahkah kita mengonsumsi dan menikmati asupan Firman Tuhan setiap hari? Pemazmur menyatakan, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm. 1:1-3). Inilah pertumbuhan dan fungsi tubuh rohani kita yang akan berjalan dengan baik dan maksimal oleh asupan Firman Tuhan yang sehat setiap hari. Mari kita baca Firman Tuhan dan menyerap seluruh gizinya setiap hari; agar manusia rohani kita terus bertumbuh dan menghasilkan buah-buah pertobatan, buah-buah karakter, dan buah-buah kesaksian.

Nah, kita makan apa hari ini?

 

Pertanyaan Refleksi:

  1. Percayakah Anda bahwa Firman Tuhan merupakan makanan utama dan esensial bagi tubuh rohani Anda?
  2. Apakah Anda selama ini “makan” Firman Tuhan setiap hari? Menurut Anda, bagaimana kondisi tubuh rohani Anda?
  3. Temukan penghalang utama yang membuat Anda sulit untuk berkomitmen membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari selama ini! Dalam hal apa Anda harus bertobat untuk menjadikan Firman Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup Anda?
  4. Temui pemurid atau teman komsel Anda dan diskusikan suatu komitmen/resolusi pribadi di awal tahun ini: “makan” Firman Tuhan setiap hari.
2019-09-27T12:40:03+07:00