Makna Iman

Ada suatu pertanyaan yang ditanyakan Yesus kepada murid-murid-Nya, yang juga patut ditanyakan di antara kita hari ini: “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8). Tidak lama lagi Yesus akan datang; apakah kita akan didapati memiliki iman? Apa makna iman itu?

Dalam Seri Pahlawan Iman ini, kita akan belajar dari kehidupan para pahlawan iman dalam Alkitab. Artikel bagian pertama membuka pemahaman kita dalam hal makna iman yang sesungguhnya.

 

Iman adalah dasar

Menurut Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan…” Iman adalah dasar, fondasi, asas, atau landasan. Kita perlu memulai dengan iman, berjalan terus dengan iman, dan juga selesai dengan iman. Kebenaran Allah “bertolak dari iman dan memimpin kepada iman” (Roma 1:17). Iman bertumbuh dan bertambah dalam prosesnya. Salah satu doa para rasul kepada Yesus adalah: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk. 17:5). Sebagai jawaban, Yesus menjelaskan bahwa iman adalah seperti benih yang bertumbuh; suatu benih yang kecil yang hanya sebesar biji sesawi saja, tetapi dapat bertumbuh dan bertambah besar menjadi pohon yang rindang. Iman harus menjadi dasar bagi segala sesuatu yang kita lakukan, karena “segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” (Roma 14:23).

 

Iman dan pengharapan

Iman adalah dasar untuk sesuatu yang diharapkan. Apa itu pengharapan? Pengharapan adalah sesuatu yang belum terwujud, belum kelihatan, tetapi diharapkan akan terjadi di masa depan. “Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” (Rom 8:24). Pengharapan itu didasarkan pada iman akan perjanjian Allah: “Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Roma 5:2). Karena itu, iman berkaitan erat dengan pengharapan. Orang yang sudah putus asa tidak bisa memiliki iman. Orang yang tidak ada pandangan kepada masa depan juga tidak bisa memiliki iman. Bagi orang-orang yang seperti ini, pengharapan pun lenyap.

 

Iman menuntut kesabaran

Dengan iman yang sungguh, kita akan sanggup menantikan dengan sabar. “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun,” (Roma 8:25). Seperti nenek moyang kita dinasihati, “…agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah,” (Ibr. 6:12); dan dengan iman dan dengan kuasa Roh kita menanti kebenaran yang kita harapkan (Gal. 5:5). Kita harus “bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil” (Kol. 1:23). Kita diajak untuk berpegang teguh pada kepercayaan dan pengharapan, (Ibr. 3:6), dengan menunjukkan kesungguhan sampai pada akhirnya (Ibr. 6:11). Menanti dengan sabar sambil bersungguh-sungguh melakukan bagian kita adalah wujud dan bukti iman!

 

Iman adalah bukti

Ibrani 11:1 juga berkata, “Iman adalah… bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman adalah visi tentang apa yang akan terjadi pada masa depan, suatu bukti, suatu jaminan tentang sesuatu yang masih belum terwujud. Iman mempunyai kepastian, iman adalah suatu keyakinan yang penuh yang tidak dapat diguncangkan atau dipindahkan. Iman adalah seperti sertifikat tanah yang dipegang oleh seorang sebagai bukti kepemilikannya tanah itu, walaupun orang itu belum tinggal di tanah itu atau belum mengolahnya atau mungkin belum pernah melihat tanah itu.

 

Iman membuat kita berkenan kepada Tuhan

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia,” (Ibr. 11:6). Ada dua hal yang harus dipercaya sebagai iman di sini:

  1. Bahwa Allah ada. Dasar segala iman adalah kepercayaan bahwa ada Allah. Orang ateis tidak percaya kepada Allah. Alkitab berkata bahwa mereka adalah bodoh. Mazmur 14:1 menegaskan, “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah.” Kepercayaan bahwa Allah berwujud, bahwa ada Allah, Dialah Pencipta semesta, dan Allah sebagai Pemerintah/Penguasa yang tertinggi, inilah yang mendasari iman. Kita perlu percaya bahwa Allah kita ada dan dapat dijumpai!
  2. Bahwa Allah memberi upah kepada orang yang mencari Dia. Allah terlibat dengan kita dan mau mengadakan hubungan dengan kita. Iman adalah kepercayaan bahwa Allah berhubungan dengan manusia, memperhatikan manusia, dan akan memberi balasan kepada siapa pun yang mencari-Nya.

 

Iman kepada Pencipta

Iman sejati yang berkenan kepada Allah bukan hanya percaya bahwa Allah ada, tetapi juga harus percaya bahwa Allah menjadikan alam semesta oleh Firman-Nya. “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat,” (Ibr. 11:3). Sebagai Pencipta segala sesuatu, Allah menjadi sumber segala sesuatu. Juga sebagai Pencipta, Ia “menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan,” (Ibr. 1:3). Tuhan menciptakan dan menopang segala sesuatu dengan Firman-Nya. Itulah dasar kepercayaan kita. Pada zaman ini, karena banyak orang tertipu oleh teori dan filsafat evolusi Darwinisme, mereka tidak lagi percaya bahwa Allah ada. Hasilnya, terjadi keguguran iman yang sekarang sangat nyata, khususnya di dunia Barat.

 

 

 

Iman berasal dari Firman

Apa titik awal iman? Apa yang menjadi dasar iman? Dari mana datang iman? Apa sumbernya? Sumber iman adalah Firman Allah: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus,” (Roma 10:17). Kita perlu mendengar Firman, lalu Firman itu akan menimbulkan kepercayaan, yaitu iman, dalam hati. Telinga mendengar; hati percaya. Sebagaimana dikatakan oleh Paulus, “Karena dengan hatinya orang percaya,” (Roma 10:10). Firman sanggup menciptakan iman.

 

Iman tidak didasarkan pada logika atau apa yang dapat dilihat dengan mata, “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat,” (2 Kor. 5:7). Iman tidak berasal dari imajinasi atau khayalan atau kerinduan hati kita sendiri. Iman yang sejati memiliki fondasi yang kuat, yang tidak dapat diguncangkan, yaitu Firman Tuhan yang tetap untuk selama-lamanya. Dengan iman kita dilahirkan kembali oleh Firman Allah yang hidup dan kekal (1 Ptr. 1:23); dengan iman kita hidup (Hab. 2:4); dan dengan iman pula kita menang dan mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:4), “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”

 

Iman membawa keselamatan roh

Iman memiliki hubungan langsung dengan roh kita. Tanpa iman, manusia tidak bisa selamat. Jelas sekali dari pengajaran Yesus, bahwa dasar keselamatan adalah percaya kepada-Nya; iman membawa kehidupan yang kekal. Yesus datang “supaya semua orang yang percaya kepada-Nya mendapat hidup sejati dan kekal” (Yoh. 3:15). “Orang yang percaya kepada Anak itu akan mendapat hidup sejati dan kekal. Tetapi orang yang tidak taat kepada Anak itu tidak mendapat hidup. Ia dihukum Allah untuk selama-lamanya,” (Yoh. 3:36).

 

Iman membawa kebenaran dan kekudusan bagi jiwa

Iman juga memiliki hubungan erat dengan jiwa kita. Iman membawa kebenaran yang menguduskan kita. Dalam Firman-Nya, Allah menunjukkan bagaimana caranya hubungan manusia dengan Allah dapat menjadi baik kembali: dengan percaya kepada Allah, dari mula sampai akhir. Seperti yang tertulis dalam Alkitab, “Orang yang percaya kepada Allah sehingga hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali, orang itu akan hidup!” (Roma 1:17). Semua yang percaya, dari latar belakang apa pun, dari bangsa apa pun, dari zaman apa pun, akan dibenarkan oleh iman, “…sebab tidak ada perbedaan,” (Roma 3:22). Iman diperhitungkan menjadi kebenaran,” (Roma 4:5). Inti dosa adalah tidak percaya kepada Allah, bukan perbuatan jahatnya: “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa,” (Roma 14:23).

 

Pengajaran Alkitab sangat jelas bahwa kebenaran dan kekudusan tidak didasarkan pada perbuatan manusia, tidak didasarkan pada aktivitas agamawi, tidak didasarkan pada kebaikan manusia, hanya didasarkan pada iman saja!

 

 Iman membawa kesembuhan bagi tubuh

Iman pun memiliki hubungan dengan tubuh kita. Iman bukan saja berdampak pada roh dan jiwa, iman juga berdampak pada tubuh. Ada dampak iman pada tubuh secara fisik, yaitu kesembuhan bagi tubuh dan pada akhirnya kebangkitan tubuh dari kematian. Ini adalah iman kepada Allah dan Yesus yang telah mati dan bangkit bagi kita: “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu,” (1 Kor. 15:17).

 

Iman menghasilkan perbuatan yang baik

Iman memiliki hubungan dengan perbuatan kita. Iman bukan hanya sesuatu yang ada dalam pikiran, akal, benak, hati, atau roh kita. Iman nyata dan kelihatan dari dampaknya dalam diri kita, yaitu perbuatan kita yang baik (Ef. 2:10). Inilah sebabnya dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yak. 2:20). Jelaslah dari Alktiab bahwa iman menghasilkan perbuatan yang baik.

 

Teladan iman nenek moyang kita

Dari permulaan, manusia perlu memiliki iman supaya berkenan kepada Allah. Alkitab berkata bahwa orang-orang tertentu dalam Perjanjian Lama menjadi berkenan kepada Allah karena iman mereka: “Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita,” (Ibr. 11:2). Nenek moyang yang dimaksud itu adalah tokoh-tokoh Perjanjian Lama, sebagaimana yang diterangkan dalam Ibrani 11. Merekalah yang menjadi saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita yang sedang berlomba dalam perjuangan iman (Ibr. 12:1).

 

Kiranya pahlawan-pahlawan iman itu akan memberi pemahaman, dorongan, dan inspirasi bagi kita masing-masing supaya tetap berjuang dan berlari sampai mencapai tujuan! Marilah kita terus menyelidiki kisah iman dan belajar dari pahlawan-pahlawan itu!

2019-09-27T12:46:13+00:00