Keangkuhan adalah pergumulan yang tumbuh dari kesombongan yang dialami setiap orang, entah diakui atau tidak. Jika diakui, keangkuhan lebih mudah dikalahkan. Jika tidak dikalahkan, keangkuhan menihilkan arti orang lain; Anda, kalian, kita, mereka, semuanya tak ada artinya dan hanya diri sendirilah yang berarti. Kita yang telah ditebus Kristus sebenarnya tak punya lagi alasan untuk tetap mempertahankan keangkuhan, bahkan kita harus belajar dari Kristus dan mematikan keangkuhan kita.
Menurut analisis umum atas hasil penilaian karakter manusia yang dilakukan oleh Personix (Personix comprehensive result), tingkat kesadaran tentang mana hal yang murni merupakan hasil karya kita, mana hal yang bukan, disertai keseimbangan antara apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita miliki, akan menghasilkan kebanggaan yang pantas dan selayaknya. Lebih atau kurang dari itu menghasilkan keangkuhan. Pada kadar yang tepat, yang ada untuk tiap kemampuan atau capaian ialah percaya diri, yang berkembang seiring perkembangan diri menjadi bangga, lalu terus berkembang optimal menjadi rasa signifikan. Jika kadarnya kurang pas, percaya diri menjadi rasa berani tanpa dasar, bangga merosot menjadi puas diri, dan rasa signifikan berubah menjadi iri hati yang sombong. Jika kadarnya berlebihan, percaya diri meleset menjadi nekat, bangga menggelembung menjadi sombong atas hal-hal yang salah, dan rasa signifikan menjadi angkuh.
Apa saja dorongan yang menjadi penyebab keangkuhan di dalam diri manusia?
-
- Menutupi rasa malu, karena tidak mempunyai hal/milik yang dianggap sebagai keunggulan
- Merasa tidak aman, karena tidak berkemampuan khusus
- Merasa sudah melakukan atau mencapai hal yang hebat
- Menuntut pengakuan dari orang lain
- Merasa tidak puas dengan hasil yang dicapai
- Menilai berlebihan terhadap keberhasilan diri
Untuk mengakui keangkuhan, kita perlu mampu mendeteksi kemunculannya. Bagaimana cara mendeteksi keangkuhan dalam diri kita sendiri? Amati tanda-tandanya:
- Berbicara dengan membual
- Memprediksi dengan hiperbola
- Meremehkan keunggulan atau kehebatan orang lain
- Mengeluarkan ucapan yang melampaui tindakan atau kenyataan
- Memamerkan kelebihan yang umum
- Tidak mensyukuri prestasi atau pemberian
- Kompensasi yang berlebihan untuk setiap kelemahan
- Tidak/jarang dipercaya orang lain
- Kurang mampu berkomitmen, cenderung ingkar janji
- Bermasalah dengan keberhasilan bersama, tidak/jarang mampu ikut senang atas capaian orang lain
- Menganggap cara diri sendiri yang terbaik
- Tidak mau mendengar, tidak mau mengalah
- Mendominasi pembicaraan, sulit diinterupsi
- Terus-menerus menceritakan diri sendiri, suka membanggakan hal yang sudah berlalu
- Membanggakan status dan capaian diri
- Tidak mau disalahkan atau dikritik, mau benar sendiri
- Membela diri dengan alasan yang tidak logis
- Membela kepentingan subjektif secara berlebihan
- Menyebutkan “keunggulan” yang bersifat bawaan (misalnya, ras, agama, golongan, dll.), rela memicu konflik
- Marah ketika tidak dikenali karena merasa terhina/dianggap rendah.
Selanjutnya dan yang terpenting, lakukan cara-cara mengalahkan keangkuhan, agar kita tidak dikuasai olehnya:
- Belajar menerima teguran dan kritikan dengan jiwa besar (menerima, berterima kasih, tidak berargumentasi atau membela diri, evaluasi diri)
- Belajar mendengarkan dan tidak bereaksi walau Anda lebih tahu, membiarkan orang lain bangga dengan dirinya, berlatih memberikan apresiasi kepada orang tersebut
- Belajar mendahulukan orang lain daripada diri sendiri
- Belajar tenang dalam segala situasi meski merasa direndahkan
- Belajar menghormati orang lain, siapa pun dan apa pun status/posisinya
- Belajar beriman bahwa segala sesuatu ada waktunya dan ada dalam kendali Tuhan
- Belajar hidup dalam prinsip/hukum tabur-tuai
- Belajar melihat yang tidak terlihat di permukaan/penampilan
- Belajar mengakui kesalahan tanpa malu
- Belajar menerima penolakan dan peremehan untuk sementara waktu
- Belajar menerima kegagalan dan memberi ruang gagal bagi orang lain
- Belajar setiap saat mengendalikan emosi, situasi, respons, dengan berlatih selalu berespons benar
Hendaklah kita seperti Kristus, yang tidak menganggap diri-Nya tinggi meski Dia Anak Allah, bahkan hidup mengosongkan diri sebagai manusia sederhana hingga mati di kayu salib. Hendaklah kita menundukkan kesombongan kita dan mematikan keangkuhan kita.
