//Melakukan Kebenaran

Melakukan Kebenaran

Melakukan kebenaran dimulai dengan mengetahui kebenaran itu. Mengetahui menimbulkan konsekuensi untuk melakukan. Itu sebabnya, beberapa orang merasa bahwa kebenaran yang diketahui seperti menjadi sebuah beban. Saya sendiri pernah merasakannya, tapi sesungguhnya inilah pengujian tentang hidup menjadi Kristen atau hanya menganut agama Kristen. Apakah kita hanya terbebani dengan berbagai “aturan” kebenaran yang harus kita lakukan, atau kita belajar mencari tahu mengapa kebenaran itu memang harus dilakukan, serta kita membagikan dari pengalaman melakukan kebenaran itu?

Melakukan kebenaran sebagai anugerah dan kehormatan
“Tidak semua orang yang memanggil Aku, ‘Tuhan, Tuhan,’ akan menjadi anggota umat Allah, tetapi hanya orang-orang yang melakukan kehendak BapaKu yang di surga.” (Mat. 7:21 – BIS)
Alasan pertama dan utama untuk melakukan Firman Tuhan adalah karena itulah yang Tuhan mau, bahwa kita bukan sekedar mengetahui banyak hal tentang kebenaran tanpa melakukan apa-apa, seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang dikecam oleh Yesus. Namun kali ini kita akan melihat alasan lain yang seringkali tidak kita sadari.

Kadar pengertian setiap orang akan kebenaran mungkin berbeda-beda, tergantung iman orang tersebut. Tapi sadarkah kita bahwa setiap kebenaran yang kita ketahui itu sebenarnya sesuai kasih karunia yang Tuhan beri? He is God, yang mengetahui segala sesuatu dan pasti benar dalam apapun yang dilakukanNya, termasuk Ia tidak akan memberikan suatu yang berharga (kebenaran) kepada orang yang Ia tahu akan menyia-nyiakannya (tidak melakukannya). Artinya, mengetahui dan memahami suatu kebenaran adalah privilege, bentuk kepercayaan langsung dari Tuhan semesta alam kepada diri kita masing-masing. Nah, bukankah itu sebuah anugerah dan kehormatan yang luar biasa? Itu sebabnya, jika kita mengetahui suatu kebenaran, lakukan dengan sukacita karena ada kasih karunia yang menyertai kita.

 

Melakukan kebenaran sebagai bagian dari proses mengerjakan keselamatan
Setelah manusia jatuh dalam dosa, “sistem” manusia sudah tidak seperti yang sudah Tuhan ciptakan pada awalnya. Bahkan, seiring waktu berjalan dan zaman berganti, error ini makin menjadi-jadi. Tapi Tuhan tidak tinggal diam, Tuhan memberikan kita penebusan agar kita menerima keselamatan serta kita bisa kembali kepada rancanganNya yang semula, yaitu semakin serupa dengan Kristus. Untuk itu, Firman Tuhan menjadi cermin kebenaran rohani bagi roh kita, apakah roh kita sudah sejalan dengan kehendak Allah ini. Sama seperti kita memandang pada cermin untuk melihat fisik kita, demikan juga kita memandang pada Firman Tuhan untuk melihat diri rohani kita. 1 Firman Tuhan yang kita renungkan akan menyelidiki diri kita jika ada yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan mengingatkan tentang kebenaran yang harus dilakukan.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.” (Yak. 1:22-24)

“Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yak. 1:25)

“Nah, orang yang mendengar perkataanKu ini, dan menurutinya, sama seperti orang bijak yang membangun rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan turun, dan air banjir datang serta angin kencang memukul rumah itu, rumah itu tidak roboh sebab telah dibangun di atas batu. Dan orang yang mendengar perkataanKu ini, tetapi tidak menurutinya, ia sama seperti orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir.” (Mat. 7:24-26)

Tuhan memberikan firmanNya untuk menjadi panduan standar hidup kita yang sebenarnya, yaitu sesuai dengan rancanganNya sejak awal (serupa dan segambar dengan diriNya). Ingat, setiap manusia, sejak awal kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa, sudah damaged dan tidak lagi otomatis hidup berdasarkan standar dan rancangan Tuhan. Karena itu, Firman Tuhan bukan sekedar untuk dibaca, tapi untuk dilakukan, untuk memperbaiki something wrong yang ada di dalam diri kita. Jadi, melakukan kebenaran itu hasil akhirnya adalah untuk kebaikan diri kita.

 

Melakukan kebenaran untuk membawa dampak pada orang lain
Sebagai murid Kristus, tanggung jawab kita bukanlah hanya untuk hidup kita sendiri, namun juga untuk hidup orang lain. Pertanyaannya, bagaimana hidup kita bisa berpengaruh berdasarkan Firman Tuhan terhadap orang-orang di sekitar kita, jika kita sendiri tidak melakukannya? Kita “mengajari” orang lain tentang Firman Tuhan, sedangkan perilaku kita sendiri tidak menunjukkan bahwa firman itu hidup. Sebaliknya, melakukan kebenaran itu berarti kita bukan sekedar berstatus orang Kristen, namun itu berarti bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Firman Tuhan dan percaya akan manfaatnya bagi hidup kita. Dampak dari hubungan kita dengan Firman Tuhan ini pasti akan terasa di sekitar kita. Sama seperti orang yang sedang jatuh cinta, yang terlihat dari aura wajahnya dan perilakunya yang rela melakukan apa saja untuk kekasihnya. Demikianlah juga jika kita mengalami hubungan yang intim dengan Tuhan, terbiasa melakukan kebenaran FirmanNya dalam keseharian kita, ini pasti akan terlihat dan terasa oleh orang-orang di sekitar kita.

Salah satu bentuk membawa dampak bagi orang sekitar dapat kita lakukan lewat melayani. Tapi, apa sebenarnya pelayanan itu? Apakah pelayanan itu hanya sebatas di lingkungan atau di kegiatan-kegiatan gereja? Jawabannya, tidak. Selama kita sadar akan kehadiran Tuhan dan kita berperilaku (berpikir, berkata-kata, bertindak) sesuai pimpinanNya, selama kita berhubungan dengan orang lain, terutama yang belum percaya, di situlah sebenarnya kita melakukan pelayanan untuk Tuhan. Banyak orang mengkotak-kotakkan hal ini, sehingga berperilaku berbeda-beda tergantung situasi, kondisi atau pribadi yang berhadapan dengannya. Contohnya: bersikap all out dalam pelayanan gereja karena berpikir ini buat Tuhan, tapi dalam studi atau pekerjaan di kantor malah ogah-ogahan dan tidak produktif; atau bersikap buruk terhadap keluarga dan pembantu di rumah, padahal bersikap kudus dan super baik dalam kegiatan-kegiatan di gereja. Hal-hal ini terjadi karena kita memisahkan “yang rohani” dan “yang non-rohani”, seakan-akan hal-hal yang tampaknya “non-rohani” (misalnya: studi, pekerjaan, bisnis, hubungan dengan keluarga, dsb) tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Padahal, teman, dosen, guru, atasan, dan orang-orang lain yang kita temui setiap hari adalah jiwa-jiwa, orang-orang yang sudah seharusnya merasakan pengaruh positif kita sebagai murid Kristus yang hidup berdasarkan FirmanNya.

Yesus berkata bahwa kita adalah garam dan terang dunia, bukan garam dan terang di gereja atau di surga. Ini berarti, kita sudah semestinya menjaga dan melakukan kebenaran di dunia, di manapun kita berada, dan menjadi pribadi yang sama di manapun dan terhadap siapapun. Jadi, di manapun kita, dengan siapapun kita berhubungan, atau apapun yang kita lakukan, lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan. Karena, dengan demikianlah, segala yang kita lakukan itu akan memuliakan nama Tuhan. (dv)

2019-10-05T05:36:09+07:00