//Melayani atau dan Dilayani

Melayani atau dan Dilayani

Lu dateng ke gereja buat apa sih?” tanya salah seorang pemimpin kepada beberapa anak muda, termasuk aku, dalam sebuah pertemuan di gereja. Dari berbagai jawaban yang muncul, mayoritas senada: “ke gereja adalah untuk ketemu teman”. Saat itu, respons di dalam benakku tegas sekali; aku tidak sreg dengan jawaban itu.

Pada kesempatan lain, pernah juga ada pertanyaan serupa dari perspektif berbeda yang dilontarkan ke beberapa anak muda lainnya, “Apa sih yang bikin lu malas dateng ke gereja?” Lagi-lagi, mayoritas penjawab sepakat, “Udah gak dapetin apa-apa pas dateng ke gereja.” Saat momen itu, aku jadi makin kesal. Aku langsung tak setuju dan melontarkan berbagai pertanyaan balik yang pada intinya menghakimi. “Kenapa sih kita egois banget? Kenapa kita mikirin diri sendiri terus? Seharusnya, bukan itu ‘kan tujuan kita datang ke gereja? Seharusnya, kita datang ke gereja ‘kan untuk saling melayani? Tuhan Yesus juga datang ke dunia untuk melayani, bukannya dilayani!

Beberapa pekan berlalu sejak momen pertanyaan dan respons balikku itu… Akhirnya, tibalah momen yang berbeda: saat aku merenung dalam proses menulis artikel untuk anak-anak muda pembaca majalah ini. Tanpa kusangka sebelumnya, justru Tuhan menegurku tentang alasan dan tujuan bergereja itu.

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan,” (Ef. 2:19-21).

 

Kawan sewarga. Anggota-anggota keluarga. Dibangun. Tumbuh. Rapi tersusun.

Tuhan memang ingin kita bergereja, berjemaat, untuk saling melayani dan saling membangun. Lewat kehidupan bersama dalam gereja, kita dapat bertumbuh menuju kedewasaan dalam Kristus. Namun kita perlu ingat, kehidupan bersama itu adalah sebagai kawan sewarga dalam Tubuh Kristus, sebagai sesama anggota keluarga Allah, yang tentunya masing-masing punya kekhasan dan saling berbeda. Pertanyaannya, apakah kita bersedia melayani dan membangun orang yang berbeda pendapat atau selera dengan kita? Dan… apakah kita rela merendahkan hati untuk dilayani dan dibangun oleh orang lain yang berbeda itu juga?

Banyak pelayan gereja, termasuk aku, yang tanpa sadar terjebak dalam tipuan standar pribadi yang kita anggap kebenaran. Kita merasa bahwa kita melayani Tuhan dengan melayani orang-orang di gereja yang kita nilai “kurang dewasa rohani” daripada diri kita sendiri, dan memegang ekspektasi bahwa sesama pelayan gereja yang juga “sudah dewasa rohani” seperti kita harus selalu melayani mereka yang “kurang dewasa rohani” itu. Tanpa sadar, kita jadi melayani standar ini dan mengejar kelayakan atau kebanggaan diri kita sendiri. Terlena oleh rutinitas pelayanan atau kadang sanjungan atas buah-buah dan dampak pelayanan, kita merasa bahwa melayani itu harus dengan cara dan standar yang kita pegang. Padahal, Kepala atas keluarga rohani dan Tubuh Kristus itu adalah Tuhan. Dia bebas dan kreatif, bahkan berdaulat, untuk memakai cara apa pun untuk setiap anggota keluarga dan Tubuh-Nya saling melayani dan membangun secara efektif. Kata kuncinya, saling. Kita ada di gereja bukan hanya untuk melayani dan membangun, melainkan juga untuk dilayani dan dibangun.

Sudah pasti, Tuhan pun rindu melihat kita semua di dalam komunitas gereja saling melayani dan membangun. Namun, untuk mencapai tujuan itu, kita perlu melepaskan ego kita masing-masing supaya Tuhan leluasa bekerja melalui kita semua, sampai kita bersama menjadi rapi tersusun sesuai rancangan-Nya. Ego membuat kita menganggap diri lebih tinggi sehingga merasa harus melayani yang lebih rendah. Alhasil, pertumbuhan rohani kita secara pribadi maupun pertumbuhan seluruh komunitas kita di gereja akan terhambat. Sesama anggota di komunitas gereja itu akan rugi, dan kita sendiri juga akan rugi. Mari, hari ini kita lepaskan segala ego pribadi dan mulai gunakan standar Firman Tuhan dalam hidup berkomunitas di gereja. Kali berikutnya kita datang bertemu teman-teman di gereja, apa pun bentuk aktivitasnya, pastikan bahwa kita datang untuk melayani sekaligus dilayani, membangun sekaligus dibangun. Saling.

2023-09-29T13:00:51+07:00