///Melayani dari hati

Melayani dari hati

 

Nah, karena melayani itu seharusnya menjadi gaya hidup sehari-hari, tentu berat sekali jika kita setiap hari “harus” menanggung beban ke mana-mana. Karena itu, jangan sampai pelayanan itu terasa sebagai beban. Mengapa pelayanan bisa terasa sebagai beban? Jangan sampai kita melayani karena sekedar sebagai syarat, karena merasa tidak enak kepada pemimpin, sebagai pengisi waktu luang, atau alasan-alasan non-esensial lainnya. Alasan-alasan yang tidak tepat ini membuat kita cenderung memilih pelayanan secara asal-asalan, alias “Asalkan saya melayani, beres lah…”, dan mudah mengesampingkan pelayanan sebagai prioritas kesekian (yang terus menurun seiring dengan makin berkembangnya kesibukan dan minat kita).

Jujur saja, pelayanan juga pernah menjadi suatu beban bagi saya sendiri. Gejala ini tampak jelas ketika karena pelayanan, saya sempat merasa tertuduh sendiri saat tidak maksimal. Karena pelayanan juga, saya bisa menuntut orang lain untuk memberikan “yang terbaik”. Akhirnya saya melihat bahwa ini semua justru memciptakan konflik yang tidak sehat dan perpecahan. Dan saya sadar, hal ini tidak benar.

Lalu pelayanan seperti apa yang benar? Apakah pelayanan harus “kelihatan” agar layak disebut sebagai pelayanan? Apa kata firman Tuhan sendiri tentang hal ini?

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor. 9:7)

Dari ayat ini, saya jadi belajar bahwa pelayanan harus lahir dari hati kita, karena hati kita itu terlebih dahulu “penuh” dengan kasih Tuhan. Saya harus mengalami Tuhan terlebih dahulu hingga sepenuhnya, sebelum saya bisa belajar mengasihi dan membagikan kepenuhan kasih Tuhan itu kepada orang lain dengan cara melayani. Inilah alasan melayani yang tepat dan benar: karena saya rindu mengasihi dan saya rindu agar orang lain juga mengalami kepenuhan kasih Tuhan, sama seperti yang saya alami.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”  (1 Yoh. 4:11)

Selanjutnya, saya belajar melihat pelayanan sebagai suatu kehormatan yang Tuhan percayakan, yang bukan hanya berguna untuk gereja, tapi juga berguna untuk membentuk saya. Sebenarnya kalau saya pikir-pikir, bukankah Tuhan tidak pernah membutuhkan saya? Segala kehendakNya, termasuk segala pelayanan di gereja dan di luar gereja, sangat bisa berjalan tanpa saya. Tuhan bisa memakai siapa pun, tidak harus saya, untuk melakukan pekerjaanNya. Atau, bisa saja mungkin gereja membayar orang-orang yang ahli dan profesional untuk melayani kita semua (termasuk saya) sebagai jemaat dengan luar biasa baik, tetapi apakah itu gaya hidup yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan? Seperti biasa, dan seperti yang memang sudah seharusnya, mari kita lihat apa kata firman Tuhan.

 

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Rm. 12:10)

“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” (Rm. 14:19)

“…supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh,tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.”  (1 Kor. 12:25)

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Ef. 4:2)


Wahhh… Saat menerima kebenaran-kebenaran ini, saya jadi rindu untuk belajar menerima satu sama lain di dalam setiap kekuatan dan kelemahan, belajar saling melayani dan saling melengkapi sebagai suatu kesatuan tubuh Kristus.  Apalagi, firman Tuhan juga menyadarkan saya bahwa gereja bukanlah tempat orang-orang yang 100% suci, melainkan justru tempat kumpulan manusia berdosa (termasuk saya sendiri) yang ingin  terus belajar agar semakin seperti Kristus. Saya tidak lagi mencari kesempurnaan (dengan dalih bahwa “melayani adalah memberi yang terbaik”), karena kita semua adalah manusia yang tidak sempurna. Gereja tidak akan sempurna, kecuali disempurnakan oleh Tuhan sendiri pada waktuNya nanti. Karena itu, hanya kasih Tuhan sajalah yang menjadi dasar pilihanNya atas diri saya, hingga saya bisa melayani.

Semua pencerahan akan kebenaran ini mengubah diri saya dalam melayani Dia. Kini saya bisa belajar melayani tanpa tuntutan, tanpa mengharapkan penghargaan/pengakuan/imbalan. Saya kini berteguh hati, bahwa apa pun yang saya lakukan untuk melayani Tuhan, itu saya lakukan hanya karena Dia berkehendak agar saya melakukannya, bukan karena faktor-faktor lain. Dengan paradigma yang baru ini, saya rindu agar kita semua mengalami pencerahan yang sama dan dapat saling mendukung di dalam melayani Tuhan di dalam rumahNya, yaitu di dalam komunitas kita bersama. Yuk, kita alami bersama-sama!

“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibr. 10:24)

 

 

 

2015-09-25T08:15:52+07:00