///Melewati Segala Kondisi dan Segala Masa

Melewati Segala Kondisi dan Segala Masa

Tanpa terasa, dua tahun sudah kita lewati dalam masa pandemi. Mari kita mengambil waktu sejenak dan merenungkan hal-hal yang Tuhan sudah kerjakan selama dua tahun ini dalam kehidupan kita. Masihkah Anda dapat merasakan bahwa Dia baik dan senantiasa menyediakan yang terbaik bagi kehidupan Anda? Adakah hal-hal baru yang Anda alami bersama dengan Dia selama melewati masa krisis ini?

 

Saya memperhatikan bahwa banyak wanita pada masa pandemi ini membangun kebiasaan-kebiasaan baru, mulai dari membuat aneka makanan sehat, bersepeda atau berolahraga lainnya, hingga bercocok tanam. Tak sedikit unggahan muncul mewarnai media sosial, menunjukkan area rumah, apartemen, atau kamar kos yang mengalami perubahan drastis dari kondisinya sebelum pandemi, dengan adanya tanaman-tanaman kecil nan cantik dan estetis. Bahkan demi membuat tanaman mereka terlihat menjadi lebih indah dan sedap dipandang mata, para pencinta tanaman “dadakan” ini menggunakan berbagai cara. Menyiramnya dengan air cucian beras, menambahkan serum tertentu atau nutrisi-nutrisi tambahan menjadi langkah-langkah yang biasa mereka lakukan.

 

Namun, harapan agar tanaman peliharaan tumbuh sehat serta menjadi lebih cerah dan bersinar memang tak bisa dipaksakan. Pada dasarnya, tanaman membutuhkan sinar matahari, air, makanan yang diserap oleh akar-akarnya, dan suhu yang tepat untuk dapat tumbuh sehat dan optimal. Pemilik tanaman tentu tidak bisa memaksa tanaman untuk tumbuh seperti yang diinginkan, tetapi kita bisa dan perlu merancang lingkungan tumbuh kembang tanaman itu agar pertumbuhannya berjalan baik.

 

Sebenarnya, begitu pula dengan iman kita. Kita tidak bisa memaksakan iman kita untuk tumbuh maksimal, dengan kekuatan dan usaha kita sendiri. Tuhanlah Sang Pemilik Kehidupan, yang sanggup memakai kondisi-kondisi tertentu dalam kehidupan untuk menumbuhkan iman kita kepada-Nya. Bagian kita adalah berespons terhadap semua itu dengan baik, sambil mengizinkan Roh Kudus bekerja membawa kita makin mengenal Tuhan.

 

Apa saja kondisi yang Tuhan pakai untuk mendorong proses tumbuh kembang kita? Tuhan bisa dan memang memakai berbagai kejadian baik untuk menumbuhkan iman kita, misalnya agar kita makin melimpah dalam ucapan syukur. Di sisi lain, jangan heran, apalagi bersikap anti, jika kita mengalami krisis atau kejadian-kejadian yang tidak enak, karena di dalam setiap situasi Tuhan sebenarnya konsisten membawa kita makin mendekat kepada-Nya.

 

Mazmur 23 menunjukkan hal ini pada kehidupan Daud. Mazmur ini digubah oleh Daud dari pengalaman pribadinya sendiri, dan diawali dengan pernyataannya, “Tuhan adalah gembalaku.” Perhatikan bahwa di ayat-ayat awal Daud menggunakan kata “Dia” untuk menggambarkan Tuhan, lalu selanjutnya kata “Engkau”-lah yang dia gunakan. Ini menunjukkan adanya perubahan hubungan antara Daud dengan Tuhan; dari awalnya Daud tidak berhubungan langsung dengan Tuhan meski dia tahu predikat atau sebutan Tuhan, kemudian menjadi berhubungan dan berinteraksi langsung dengan Tuhan. Pantas saja, dengan kedekatan hubungan langsungnya dengan Tuhan ini, di tengah-tengah situasi yang berbahaya dan menekan pun Daud mampu berespons benar dan imannya teguh kepada Tuhan. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Ayat 4 ini membuktikan bahwa Daud justru makin dekat dengan Tuhan saat dia berada dalam lembah kekelaman. Bahkan, Daud dapat mengenali berbagai cara penghiburan Tuhan baginya, “Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

 

Ketika iman atau rasa percaya Daud semakin bertumbuh kepada Tuhan, Daud justru dapat melewati lembah kekelaman dalam kehidupannya. Dia mampu berkata bahwa dia tidak takut bahaya karena dia telah menemukan penyertaan Tuhan yang luar biasa. Bagaimana dengan kita dan lembah kekelaman kita sendiri? Situasi pandemi telah lama membuat kita seakan-akan berada dalam “lembah kekelaman”, tetapi situasi ini pun Tuhan pakai untuk membuat kepercayaan (iman) kita tumbuh makin kuat kepada-Nya. 

 

Iman kita adalah seperti tanaman; kita tidak bisa memaksakan iman kita untuk tumbuh kuat dan sehat dengan kekuatan atau usaha kita sendiri. Namun, kita selalu punya pilihan untuk mengizinkan Tuhan menggunakan lingkungan atau situasi yang ada untuk membangun pertumbuhan iman kita. Sehari demi sehari.

 

Pertanyaan Refleksi:

  1. Bagaimana cara Anda menumbuhkan iman kepada Tuhan pada masa pandemi ini? Bagaimana pertumbuhan iman Anda semasa pandemi ini?
  2. Apa saja situasi yang sedang Anda alami saat ini, atau sejak pandemi? Apakah Anda dengan cepat atau justru kesulitan melihat bahwa Tuhan bisa memakai situasi-situasi itu untuk pertumbuhan iman Anda?
2021-12-20T12:11:11+07:00