///Meluapkan Emosi

Meluapkan Emosi

Suatu ketika, saya dirawat di rumah sakit karena lambung saya bermasalah sehingga tidak terhubung dengan usus saya. Waktu itu, saya harus diopname selama sepuluh hari. Saya merasa sangat stres selama sakit, dan akhirnya sambil terbaring sakit dalam perawatan saya sempat melakukan kesalahan; kesalahan yang kemudian saya sesali serta membuat saya malu dan merasa gagal.

Kesalahan itu terjadi pada suatu malam ketika jam besuk. Istri saya datang untuk membesuk saya, tetapi saya tidak bertemu dengannya di kamar opname. Tiba-tiba saja, saya mengetahui bahwa istri saya, yang menggunakan kursi roda, disuruh berhenti di area tunggu di depan dan tidak boleh masuk menjenguk saya, tanpa penjelasan yang masuk akal.

Saya senantiasa sadar bahwa saya sangat mengasihi istri saya, dan saya tidak mau istri saya menjadi sakit atau disakiti orang lain. Maka ketika saya mengetahui istri saya dilarang menemui saya untuk keperluan besuk, tiba-tiba emosi saya naik tanpa terbendung lagi.

 

Langsung, saya berteriak memanggil perawat dan menyampaikan kekesalan saya. Perawat itu hanya menjawab bahwa larangan itu diterapkan atas instruksi dari pihak petugas keamanan rumah sakit. Alasan yang terdengar sangat tidak logis bagi saya. Dengan kemarahan yang makin memuncak, saya memanggil juga petugas keamanan rumah sakit.

Lagi-lagi, jawaban petugas keamanan juga tidak logis bagi saya. Emosi saya bertambah panas dan luapan kemarahan saya tidak terbendung lagi. Dengan suara keras, saya memanggil Kepala Keamanan dan Kepala Perawat rumah sakit.

 

Alhasil, masuklah banyak orang ke kamar opname saya. Ada Kepala Keamanan dan Kepala Perawat, beberapa petugas keamanan dan beberapa perawat, serta seorang dokter jaga yang berusaha menenangkan saya. Dalam kondisi sangat marah dan emosional kala itu, saya menggunakan kata-kata yang sangat kasar dan tidak layak dikeluarkan, apalagi oleh orang yang memiliki latar belakang pendidikan dan profesi seperti saya. Namun entah bagaimana, saya begitu emosional. Saya meluapkan emosi yang kacau dengan menceramahi orang-orang yang datang ke kamar opname itu, satu per satu tanpa ada yang terlewat, sampai sekitar setengah jam. Ceramah saya yang meluap-luap dengan kemarahan itu akhirnya berakhir dengan adegan mereka semua meminta maaf, lalu saya kembali beristirahat.

Setelah itu, sejujurnya, ada keanehan yang saya alami. Setelah marah-marah setengah jam lebih, saya seperti merasakan kelegaan yang luar biasa. Tubuh saya terasa lebih sehat dan bugar. Saya bahkan juga merasa seolah sudah sembuh dan besoknya ingin pulang dari rumah sakit. Menggelikan sekali. Putra saya, yang adalah seorang psikolog, berkomentar bahwa sepertinya papanya ini perlu pelampiasan dari tumpukan emosi yang telanjur terpendam lama.

 

Namun, selagi beristirahat saya merenung kembali, lalu timbullah kesedihan di hati saya atas kejadian itu. Apalagi, pihak rumah sakit keesokan harinya mengutus salah satu direktur rumah sakit, sang Direktur HRD, untuk mendatangi saya dan meminta maaf atas kejadian itu.

 

Setelah marah-marah “sepuasnya”, walau sepertinya saya amat lega, ternyata dalam hati muncul pengertian bahwa saya telah gagal berespons benar. Tidak seharusnya saya marah-marah seperti itu. Saya telah meluapkan emosi secara berlebihan dan “mematikan” sementara kesadaran di hati nurani saya untuk menjaga respons yang benar dalam situasi yang terjadi. Dalam kondisi lebih tenang, saya jadi mengerti bahwa ternyata yang dimaksud oleh perawat dan petugas keamanan saat melarang istri saya masuk itu adalah agar istri saya tidak tertular sakit dari para pasien yang sedang dirawat, dengan mempertimbangkan bahwa saat itu masih masa pandemi. Saya telanjur membiarkan emosi saya mengambil alih kesadaran saya, sehingga saya berasumsi mereka mengusir istri yang ingin membesuk suaminya. Dengan dalih di pikiran bahwa saya mengasihi istri saya dan saya pantas membelanya agar tidak diperlakukan semena-mena, saya meluapkan kemarahan. Sedihnya, kesalahan konyol itu sudah terjadi; apa pun alasannya dan penjelasannya, saya telah gagal mengendalikan emosi.

 

Mengapa saya bersedia menceritakan peristiwa yang saya alami ini?

 

Perlulah saya dan kita sadari, apabila tubuh kita ini sedang lemah, jiwa kita juga pasti ikut terpengaruh menjadi melemah. Saya pun sebenarnya paham mengenai hal ini. Namun yang saya sesali, saya biasa mendidik dan mengoreksi orang lain, saya melatih banyak orang untuk berespons benar dalam segala situasi, tetapi ternyata saya yang seorang guru karakter ini juga gagal mengendalikan emosi. Bahkan sebenarnya, situasi yang saya alami begitu tidak seimbang: trigger atau pemicunya sangat sederhana, tetapi respons luapan emosi saya jauh melampaui pemicu itu. Seharusnya pemicu yang sederhana tidak perlu menjadi penyulut emosi yang berlebihan.

Saya telah gagal, dan saya berharap bahwa setiap saudara yang membaca tulisan saya ini tidak mengalami kegagalan seperti saya. Saya berharap kita semua belajar dari kegagalan saya untuk bisa berespons benar, tidak “sumbu pendek”, tidak cepat marah-marah, apalagi meluapkan emosi “sepuasnya”. Dalam segala situasi, biarlah kita belajar menguasai emosi dan mengendalikan diri, sehingga tidak merugikan orang lain dan tidak mempermalukan diri sendiri.

 

Biarlah Tuhan memberkati kita dalam perjalanan pembelajaran ini.

Jangan cepat marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” – Pengkhotbah 7:9, TB2

2024-01-31T11:51:52+07:00