/, Character/Memahami Pikiran Tuhan

Memahami Pikiran Tuhan

“Sebab: ‘Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga dia dapat menasihati Dia? ‘Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.”
– 1 Korintus 2:16

Sebagai manusia, memang kita tidak dapat sepenuhnya memahami Tuhan dengan segala pikiran dan keputusan-Nya secara sempurna. Daud pun, tokoh yang dikenal semasa hidupnya sangat dekat dengan Tuhan, pernah mengungkapkannya dalam salah satu mazmurnya, “Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak daripada pasir…” (Mzm. 139:17-18). Namun, sebenarnya ada beberapa kebenaran mendasar yang dapat kita pegang agar kita memahami dan lebih mudah menerima pola pikir-Nya, sehingga kita dapat menuai buah dari penerimaan itu.

 

  1. Ada perbedaan yang jauh di antara pikiran Tuhan dan pikiran manusia

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” – Yesaya 55:8-9

 

Membuat rencana untuk masa depan adalah baik. Menentukan langkah demi langkah untuk mencapai tujuan yang sudah direncanakan juga adalah benar. Namun, kita harus menyadari bahwa sepandai-pandainya manusia merencanakan jalan hidup, tidaklah mungkin baginya untuk menentukan masa depannya hanya dengan keyakinannya sendiri. Kehidupan tidaklah sesederhana prinsip menghitung satu ditambah satu adalah dua, dan kita perlu menyadari bahwa jauh di atas dan jauh melampaui pikiran kita, ada faktor rancangan Tuhan yang menentukan jalan-jalan hidup kita.

 

  1. Tuhan ingin kita mengenal diri-Nya dan memahami kehendak-Nya

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” – Hosea 6:6

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” – Filipi 3:10.

 

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus dalam keadaan tersiksa dalam penjara, dan ayat yang dikutip ini menunjukkan bahwa justru yang menjadi kehendaknya dalam situasi itu adalah mengenal Allah. Di sisi lain, Allah sendiri pun sangat rindu agar manusia mengenal-Nya serta memahami kehendak-Nya. Allah tidak pernah lebih mengingini pemberian kita kepada-Nya dari hubungan dan pengenalan pribadi kita kepada Dia. Pengenalan akan Allah menjadi penentu tindakan dan perbuatan kita, yang akan menyediakan wadah bagi kuasa kebangkitan-Nya terjadi dalam hidup kita.

Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu. Sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan.” – Mazmur 9:11

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” – Roma 12:2

Makin kita mengenal Allah, makin kita mudah untuk percaya dan memercayakan diri kepada-Nya. Kita akan dapat memahami kehendak-Nya jika pola pikir kita terus menerus diperbaharui oleh Firman.

 

  1. Tuhan melihat dan menyelidiki setiap hati

 “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.‘” – 1 Samuel 16:7

 

Dari perkataan Tuhan kepada Samuel tentang pemilihan calon raja Israel ini kita belajar bahwa ada dua pandangan yang bertentangan terhadap nilai diri dan hidup manusia: Tuhan melihat hati sedangkan manusia melihat apa yang di depan mata. Di hadapan Tuhan, yang kita butuhkan adalah iman. Ibrani 11:6 menegaskannya, “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Tuhan tidak menilai kita berdasarkan kemampuan, perbuatan, prestasi, atau bahkan karakter kita. Ketika Abraham percaya kepada Tuhan, saat itu juga Tuhan memperhitungkan hal tersebut sebagai kebenaran, bukan ketika Abraham sudah “berhasil” taat (Roma 4:3). Tuhan menyatakan Abraham benar pada saat Abraham percaya, bukan pada saat Abraham berbuat sesuatu. Sebaliknya, manusia cenderung melihat apa yang ada di terlihat oleh mata. Di mata sesama manusia, penampilan, karakter, perilaku, tutur kata, dan kemampuan kita sangatlah penting; dan demikian pula cara kita memandang orang lain. Mengerti pikiran Tuhan salah satunya adalah belajar melihat hati, bukan melihat yang kasat mata saja.

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” – Yeremia 17:10

 

  1. Tuhan berdaulat penuh atas setiap kehidupan

“TUHAN mematikan dan menghidupkan, Dia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Dia merendahkan, dan meninggikan juga.” – 1 Samuel 2:6-7

Alkitab mendefinisikan kedaulatan Allah melalui hidup dan karya-Nya secara aktif: Dia menciptakan, memelihara, dan memerintah atas segala sesuatu yang dilakukan-Nya secara sempurna (Yes. 45:18-19; Kej. 1:1). Bukti Allah berdaulat dan berkuasa nyata dalam perbuatan-Nya sebagai Allah pencipta dan pemelihara, menurunkan air bah yang menutupi seluruh permukaan bumi karena murka-Nya atas kejahatan manusia di zaman Nuh (Kej. 7), memilih dan memanggil Abraham keluar dari Ur Kasdim untuk menuju tanah yang Dia janjikan (Kej. 12), dan banyak lagi. Atas kehidupan kita masing-masing pun, Allah berdaulat dan Dia akan menentukan yang terbaik menurut pikiran-Nya.

2021-11-26T13:01:50+07:00