///Memanifestasikan Kekuatan Potensi Sejati Kita

Memanifestasikan Kekuatan Potensi Sejati Kita

Manusia diciptakan oleh Allah dengan potensi yang luar biasa. Potensi apa itu? Itulah kekuatan khusus sekaligus jati diri asli yang Tuhan berikan dalam diri manusia, yaitu menjadi serupa dan segambar dengan Kristus (Roma 8:29).

 

Benih potensi untuk menjadi serupa dan segambar dengan Kristus tumbuh di dalam diri manusia sejak ketika manusia itu menjadikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat, seperti ada tertulis, “Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang,” (2 Kor. 5:17).

 

Dalam kondisi kita sebagai ciptaan yang baru, kita perlu mengerti bahwa roh kita kini sudah diperbaharui (sudah menjadi ciptaan yang baru) tetapi jiwa kita masih perlu dilatih dan didisiplin untuk menjadi makin terbiasa hidup serupa dan segambar dengan Kristus. Bila perilaku dan seluruh kehidupan kita telah menjadi serupa dan segambar dengan Kristus, itu berarti kita telah mengalami kepenuhan potensi sejati kita yang Tuhan berikan. Proses melatih dan mendisiplin jiwa itulah perjalanan kita menuju kepenuhan potensi sejati, yang pada intinya perlu kita lakukan dengan memperhatikan dua kebenaran utama:

 

  1. Hiduplah di tempat yang tepat untuk kita dapat bermanifestasi

Manusia diciptakan dan hidup di dunia bukan sebagai sebuah kebetulan dan juga bukan karena ketidaksengajaan. Justru, manusia diciptakan dan ditempatkan di dunia dengan maksud dan tujuan istimewa, yaitu mengusahakan dan berkuasa atas semua ciptaan Tuhan lainnya di muka bumi ini. Untuk mencapai dan melaksanakan tujuan ini, hal yang paling utama dalam kehidupan seorang manusia adalah melekat kepada Sang Pencipta, agar mampu mendengar dan mengenal maksud dan rencana-Nya bagi seisi dunia.

 

Hanya jika manusia tinggal melekat dengan Penciptanyalah dia bisa bermanifestasi dalam potensi sejatinya. Mengapa demikian? Manusia yang melekat dengan Kristus pasti akrab dengan Firman Tuhan, sehingga mengalami pertumbuhan dalam hal jiwa dan rohnya, karena Firman Tuhan mampu mengubah hati dan pikiran manusia untuk bisa dan terbiasa melakukan hal yang benar, berkenan, dan sempurna di mata Tuhan. Inilah tempat hidup yang tepat bagi manusia, yang memungkinkan potensi sejati kita termanifestasi. Di luar Firman Tuhan, tidak mungkin potensi manusia untuk menjadi serupa dan segambar dengan Kristus dapat bermanifestasi dan berkembang.

 

Ada tertulis bahwa pada mulanya sebelum segala sesuatu, yang ada adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Ini menjelaskan mengapa tidak mungkin kita bisa maksimal jika kita sebagai ciptaan-Nya tidak hidup tinggal dan melekat dengan Sang Sumber Kehidupan atau Pencipta kita. Pastikan kita tinggal bersama-sama dengan Kristus dalam persekutuan setiap hari di dalam Firman-Nya, maka kita akan mampu berekspresi, berkreasi, bermanifestasi untuk melakukan apa pun sesuai potensi sejati kita di dunia. Firman itu selalu menguatkan dan menolong kita untuk mengusahakan dan melakukan segala sesuatu yang menuju pada kepenuhan keserupaan kita dengan Kristus.

 

  1. Gunakan cermin gambar diri yang utuh dan benar, bukan yang retak atau rusak

Amsal 23:7 memberikan pelajaran yang penting tentang gambar diri, “Sebagaimana seseorang berpikir tentang dirinya, demikianlah jadinya dia.” Seorang manusia yang hidupnya bermanifestasi maksimal selalu melihat dirinya tampil apa adanya sesuai jati dirinya, bukan sesuai dengan ukuran-ukuran yang lain. Sayangnya, banyak orang tidak hidup dengan menampilkan diri apa adanya karena banyak hal disembunyikan di dalam kehidupannya. Entah itu masa lalu yang buruk, luka-luka hati karena dikecewakan, atau dosa dan aib yang memalukan. Inilah cermin gambar diri yang salah. Orang-orang ini makin lama makin kuat dalam gambar diri yang salah dan kacau, karena cermin gambar diri yang mereka gunakan telah retak/rusak. Akibatnya, mereka merasa tidak berarti dan tidak bernilai di dalam kehidupan.

 

Di 2 Korintus 5:16, Rasul Paulus menulis, “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.”

 

Rasul Paulus pernah menilai manusia, bahkan menilai Kristus, dengan ukuran manusia (menggunakan cara pandang dan pola berpikir seorang manusia), sehingga dia gagal mengenal jati diri sesungguhnya pada diri orang-orang yang dinilainya itu maupun Kristus. Ketika kita menggunakan cara pandang manusia, kita tidak akan pernah mengenali potensi keserupaan dengan Kristus itu. Kita akan gagal melihat kekuatan, kebaikan, kasih, atau kebenaran Kristus di dalam diri kita sendiri maupun orang lain. Memang, pada dasarnya manusia lebih cenderung melihat hal yang negatif ketimbang hal yang positif, misalnya karena trauma masa lalu. Ini menjadi distorsi atau kekacauan pada cermin gambar diri, yang membentuk cara berpikir dan memandang diri sendiri maupun orang lain serbaburuk dan tidak ada kebaikannya.

 

Pahamilah bahwa masa lalu yang buruk yang dialami telah ditebus oleh Kristus di atas kayu salib, dan semua kesalahan itu telah dibayar lunas. Artinya, semua persoalan dan permasalahan hidup kita sudah dihapus dan disucikan oleh darah Kristus, dan kini bagian kita adalah berespons benar terhadap hal-hal yang terjad di dalam hidup kita dan hidup orang lain. Ingatlah Firman-Nya, setiap hal yang terjadi dalam hidup ini akan mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang tinggal di dalam Kristus. Gunakan Kristus saja sebagai cermin gambar diri kita, dan “jangan menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi kita, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

 

Kita akan mengalami kemaksimalan dalam potensi kita, mencapai kepenuhan keserupaan dengan Kristus, ketika kita hidup di tempat yang tepat untuk bermanifestasi dan menggunakan cermin gambar diri yang utuh dan benar. Mari terus hidup melekat dengan Firman Tuhan dan hidup sesuai kata Firman Tuhan.

2022-09-27T09:56:52+07:00