//Membaca, Mengerti, Melakukan, Mengalami, Mengajarkan

Membaca, Mengerti, Melakukan, Mengalami, Mengajarkan

Mari bertualang sejenak dengan mesin waktu. Kita kembali ke masa ribuan tahun lalu, ketika Yesus belum lama meninggalkan dunia (mati di kayu salib, lalu bangkit dan naik ke surga) dan para murid-Nya tersebar memberitakan tentang Dia ke mana-mana. Kita bertemu dengan Filipus, salah satu dari murid-murid itu.

Filipus awalnya sedang melakukan pemberitaan Injil di daerah Samaria. Misinya sukses; banyak orang menerima perkataannya dan percaya dengan bulat hati tentang Yesus Kristus Sang Mesias. Kesuksesan itu menghasilkan orang percaya baru dalam jumlah cukup besar dan diutuslah dua murid Yesus lainnya, Petrus dan Yohanes, untuk melanjutkan pelayanan di Samaria, yaitu membaptis dengan Roh Kudus bagi orang-orang yang telah percaya serta terus memberitakan Injil ke kampung-kampung di pelosok Samaria. Filipus sendiri rupanya disuruh malaikat Tuhan untuk berpindah lokasi pelayanan. Lokasi tepatnya Filipus tak diberi tahu, tetapi yang jelas dia diperintahkan untuk berangkat ke selatan, ke jalan dari Yerusalem yang mengarah ke Gaza.

Filipus taat; oleh tuntunan malaikat Tuhan, ia kemudian bertemu dengan seorang pejabat (“sida-sida”) dari negeri Etiopia. Ini bukan pejabat “tanggung”, ini adalah seorang pembesar, kepala perbendaharaan yang langsung bertanggung jawab kepada ratu Etiopia sendiri. Pejabat ini sedang melakukan perjalanan pulang dari Yerusalem melalui rute yang didatangi Filipus itu, dan dalam keretanya ia membaca kitab Yesaya. Kita tahu, Yesaya ialah salah satu kitab nubuatan dalam Alkitab Perjanjian Lama, yang isinya cukup rumit dan sulit dimengerti, khususnya jika dibaca sekilas saja seperti kita menikmati bacaan ringan. Namun, Filipus adalah murid Yesus; ia selama beberapa tahun mendengar langsung Yesus mengajar dari kitab suci. Yang Filipus juga sadari saat itu ialah bahwa isi kitab Yesaya juga amat penting dan bernubuat tentang pribadi Yesus, Sang Mesias yang ia beritakan itu. Alangkah percumanya kalau pejabat Etiopia ini menikmati kitab Yesaya sebagai bacaan ringan dalam perjalanan saja tanpa benar-benar memahami isinya!

Maka, dengan bertindak dalam tuntunan Roh Kudus mendekati kereta yang sedang melintas, Filipus memberanikan diri langsung bertanya kepada pejabat Etiopia yang sedang asyik membaca itu, “Mengertikah Tuan tentang apa yang sedang Tuan baca itu?” Rupanya benar, pejabat itu tidak mengerti apa yang sedang ia baca! Ia memang pergi ke Yerusalem untuk beribadah (mungkin ia pernah mendengar berita tentang Allah bangsa Yahudi dan ingin menjadi umat-Nya), tetapi ia tidak memahami isi Firman Allah. Ia bahkan langsung “mengundang” Filipus dengan pertanyaan yang sebenarnya jelas dan tak perlu dijawab selain dengan langsung mengajarnya: “Bagaimana mungkin aku mengerti kalau tidak ada orang yang membimbingku?”

Singkat cerita, setelah dibimbing oleh Filipus dan mengerti tentang Yesus sebagai Mesias yang dinubuatkan dalam kitab Yesaya, pejabat Etiopia itu menjadi orang percaya dan langsung minta dibaptis dalam perjalanan itu juga. Filipus dibawa oleh Roh Kudus ke lokasi pelayanan berikutnya, tetapi tentulah berita tentang kepala perbendaharaan kepercayaan Ratu yang menjadi pengikut Yesus dan dibaptis dalam perjalanan pulang dari Yerusalem tersebar di tanah Etiopia. Sejarah mencatat bahwa Etiopia kemudian pada abad ke-4 menjadi salah satu bangsa di dunia yang pertama kali menerima kekristenan sebagai keyakinan iman resmi bagi rakyatnya. Sampai saat ini, Kristen menjadi agama mayoritas di Etiopia, meskipun Islam sempat masuk dan kini menjadi agama terbesar kedua di negara itu (dengan jumlah pemeluk kira-kira setengah dari jumlah pemeluk agama Kristen). Bahkan di masa sekarang, sedang dilakukan banyak doa dan upaya oleh orang-orang Kristen Etiopia maupun dari berbagai bangsa agar Etiopia kembali kepada iman kekristenan yang hidup dan nyata, bukan hanya aktivitas keagamaan yang menjadi kebiasaan/tradisi. Etiopia rupanya rindu mengalami pengertian dan pengalaman senyata yang dialami pejabat mereka yang dilayani oleh Filipus itu!

Nah, mari kita sekarang kembali naik ke mesin waktu, pulang ke masa hidup kita. Bagaimana dengan diri kita masing-masing? Apakah kita pernah/sedang menjadi seperti pejabat Etiopia itu; yang melakukan kegiatan ibadah dan membaca Alkitab tanpa memahami isinya, sehingga tidak memiliki pengalaman yang nyata dalam menaati dan melakukan isi Alkitab? Atau, apakah kita pernah/sedang menjadi seperti Filipus, yang telah memiliki pemahaman dan pengalaman nyata dengan Firman Tuhan serta berhadapan dengan orang yang perlu dibimbing/diajar agar paham dan mengalami juga?

Membaca Alkitab itu baik dan bermanfaat; tetapi membaca Alkitab haruslah menjadi titik awal yang pasti menuju pemahaman dan pengalaman pribadi yang nyata dengan Firman Tuhan di dalam Alkitab itu. Mari ambil kesempatan berharga untuk belajar bersama membaca, memahami, dan mengalami Firman Tuhan melalui panduan yang telah tersedia di majalah Build ini; lalu nikmati pula berkat berharga ketika kita menerima buah ketaatan itu serta dipakai Tuhan membimbing dan mengajar orang lain agar paham dan mengalami juga.

Sumber/referensi:

– Kisah Para Rasul 8:4-25 dan 26-40
– Artikel Wikipedia tentang Etiopia (https://en.wikipedia.org/wiki/Ethiopia)

2019-09-27T12:34:27+00:00