///Membangkitkan Antusiasme dalam rutinitas

Membangkitkan Antusiasme dalam rutinitas

Suatu hari sepulang sekolah, anak saya sangat antusias mengumumkan bahwa beberapa hari lagi sekolahnya akan mengadakan field trip. Menjelang hari-H kegiatan sekolah itu, ia mulai membuat daftar beberapa benda dan makanan ringan yang ingin dibawa; bahkan sehari sebelumnya ia tidur lebih cepat berhubung pagi-pagi sekali sudah harus berkumpul di sekolah. Saya sangat terkejut di hari-H ketika ia bangun lebih pagi tanpa saya harus ‘bergulat’ membangunkannya seperti biasanya. Tak ada rengekan atau gerutu sepanjang subuh itu; ia mandi dan sarapan dengan cepat karena ingin tiba lebih dulu di sekolah. Alhasil, ia tiba di sekolah saat mentari belum bersinar dan belum ada satu pun murid atau guru yang hadir. 🙂

Semangat (antusiasme) memang merupakan bahan bakar yang kita perlukan dalam menghadapi rutinitas setiap hari. Namun sayangnya, rutinitas pulalah yang sering kali membuat kita kehilangan antusiasme. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang memiliki segudang pekerjaan yang tak ada habisnya, tanpa sadar saya sering mencari antusiasme di dalam secangkir kopi. Entah dari mana anggapan ini muncul dalam benak saya, tetapi saya merasa ‘tanpa secangkir kopi di pagi hari, saya tak akan sanggup menjalani hari. Saya terjebak pada antusiasme yang berdasarkan pada situasi atau suasana tertentu. Antusiasme seperti ini biasanya tidak akan bertahan lama, karena saat situasi atau suasana tidak lagi seperti yang diharapkan saya pun kembali dirundung rasa jenuh.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan rutinitas, sebab rutinitas membentuk kita menjadi pribadi yang disiplin. Namun jangan lupa, setiap hari kita membutuhkan suntikan antusiasme agar di tengah-tengah segala rutinitas itu kita bisa melakukan perkara-perkara yang berdampak besar.

Antusiasme (enthusiasm) sendiri berasal dari bahasa Yunani “en Theos” yang berarti “di dalam Tuhan”. Ya, ini benar. Saya meyakini bahwa hanya di dalam Dialah kita memiliki semangat yang baru setiap hari, karena Dialah sumber kekuatan dan energi. Jangan tertipu dengan antusiasme yang disebabkan oleh situasi atau suasana tertentu, karena ia hanya sementara sifatnya. Membangun hubungan secara pribadi dengan Tuhan bukan hanya membuat kita semakin dekat dengan-Nya, tetapi juga kita akan memiliki semangat dalam segala keadaan seperti tertulis dalam Yesaya 40:31, “…tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”.

Di dalam segala rutinitas (yang mudah menjebak kita dalam kejenuhan), mengambil waktu untuk duduk diam di hadirat Tuhan merupakan pilihan yang bijaksana. Dalam hadirat-Nya, kita bisa merasakan kasih-Nya yang begitu damai, mendengar suara-Nya yang mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Tuhan rindu berbicara dengan kita, dan itu tidak akan terjadi jika kita tidak tahu kapan saatnya mengambil jeda dari rutinitas kita sehari-hari.

Salah satu tokoh wanita yang saya kagumi karena hal ini ialah Susanna Wesley. Ia seorang ibu rumah tangga yang memiliki buah-buah rohani yang nyata, sebagai pendoa baik bagi anak-anaknya maupun bagi pelayanan sang suami. Dampak besar yang dihasilkan oleh hidupnya menunjukkan antusiasme tetap yang menjadi bahan bakar dalam segala hal yang dilakukannya setiap hari. Mengurus sepuluh anak dan pekerjaan rumah tangga yang di abad 17 ketika semuanya masih dikerjakan dengan tangan bukanlah perkara yang mudah. Belum lagi ia harus mengajar serta membantu pelayanan suami dan perekonomian keluarga. Ternyata, rutinitas tak mematikan semangat Susanna Wesley karena antusiasme yang dimilikinya terletak pada hubungan pribadinya dengan Allah. Sejak usia lima tahun, Susanna kecil berkomitmen untuk memiliki waktu berdoa dan membaca Alkitab sama banyak dengan waktu santainya. Ketika sudah berkeluarga, waktu pribadinya banyak berkurang sehingga ia mengubah komitmennya saat teduh menjadi dua jam sehari. Itulah sebabnya, kegigihan, kedisiplinan dan antusias yang dimilikinya tidak sia-sia. Dua putranya menjadi tokoh penting bagi sejarah kekristenan dunia, yaitu John Wesley dan Charles Wesley. John adalah pendiri gereja Methodist yang terus memberkati orang-orang percaya dengan pengajaran Alkitab sampai hari ini, sedangkan Charles menjadi seorang musisi musik gerejawi yang telah menciptakan ribuan lagu-lagu rohani yang masih dinyanyikan di gereja dan menjadi sarana Tuhan menjamah hati jutaan manusia juga sampai hari ini.

Anak saya baru belajar antusias dari situasi yang menyukakan hatinya; saya berjuang untuk menemukan antusiasme dari hubungan saya dengan Tuhan; Susanna Wesley belajar antusias dari waktu persekutuan pribadinya dengan Tuhan. Bagaimana dengan kita masing-masing? Inilah saatnya kita kembali berdiam di dalamNya untuk beroleh semangat (antusiasme) yang baru setiap hari. Duduk di kaki-Nya, memandang wajah-Nya, dan mendengar suara-Nya merupakan pilihan terbaik dan paling bijaksana.

Tidak ada perkara besar yang dapat kita raih tanpa antusiasme.
(Ralph W. Emerson)

Perenungan pribadi:
1. Hal-hal apakah yang sering membuat saya merasa tidak antusias lagi?
2. Apakah saya terbiasa membuat daftar hal-hal yang harus saya lakukan setiap hari? Apa yang saya lakukan dengan daftar itu?
3. Apakah waktu bersama Tuhan menjadi prioritas saya setiap hari? Apakah ada waktu pribadi hanya dengan Tuhan yang lebih utama dari segala isi daftar rutinitas saya?

2019-09-27T12:28:41+07:00