//Membangun bersama-sama

Membangun bersama-sama

Dalam pandangan saya sebagai orang muda, era di mana saya hidup ini bukanlah dunia yang baik, tapi justru zaman terasa semakin ‘jahat’. Tidak banyak dari angkatan saya yang masih bertahan hidup dalam kebenaran secara radikal. Hal ini bisa dipahami, karena dunia menggoda dan menekan generasi kita berkompromi dengan kebenaran. Saya sendiri pun bisa bertahan hanya karena kasih karunia dan kemurahanNya lewat komunitas yang saling menguatkan satu sama lain. Tanpa komunitas rumah Tuhan ini, entah sudah bagaimana hidup saya hari ini!

Hmm… Tunggu dulu. Mengapa saya menyebut komunitas tersebut adalah rumah Tuhan, ya? Apa maksudnya? Mari kita merenung-renung sejenak. Galatia 6:2 :“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Suatu bangunan disebut rumah bukan sekedar karena bentuknya, melainkan lebih karena difungsikan sebagai tempat hunian (tinggal dan berteduh sehari-hari) bagi sekelompok orang (biasanya keluarga). Di dalamnya, sekelompok orang ini berinteraksi dan saling menolong agar masing-masing dapat mencapai kualitas hidup yang maksimal. Demikian pula, saya bisa menyebut komunitas saya sebagai rumah Tuhan karena memang saya merasakan sendiri fungsi dan manfaat dari komunitas tersebut sebagai tempat tinggal saya bersama sekelompok orang lain. Komunitas ini bukan sekedar berkumpul menghabiskan waktu dan membuat acara-acara (bentuk), melainkan menjadi tempat kami tinggal kami bersama di mana kami saling menolong agar masing-masing semakin bertumbuh dalam kebenaran dan semakin maksimal dalam panggilan yang Tuhan beri (fungsi). Inilah rumah. Dan karena Tuhanlah yang menjadi Tuan Rumahnya, rumah ini layak disebut rumah Tuhan.

Setiap rumah memiliki bentuk bangunannya, tapi fungsilah yang membedakan satu dengan yang lainnya. Komunitas memang banyak, tapi apakah komunitas ini menolong kita bertemu dan bertumbuh di dalam Tuhan? Gereja pun banyak, tapi apakah gereja itu berfungsi sebagaimana mestinya sesuai yang diamanatkan? Bagaimana dengan rumah, komunitas, gereja kita? Apakah rumah, komunitas dan gereja kita berfungsi dengan baik atau justru banyak mengalami kebocoran dan kerusakan?

Esensi sebuah rumah atau komunitas atau gereja bukanlah bentuk atau bangunannya, melainkan isi dan fungsinya, yaitu Kristus sebagai kepala dan anggota-anggota tubuh Kristus (1 Kor. 12:27; Ef. 1:22) di dalamnya. Apakah setiap anggota, masing-masing dan secara bersama-sama, menjadikan Kristus pusat kehidupan dan penggerak dari segala hal yang dilakukan? Jika tidak, rumah/komunitas/gereja itu sudah keluar dari esensinya! Ia bukanlah lagi rumah/komunitas/gereja yang sesungguhnya.

Baru-baru ini saya menonton film perang tentang sekelompok prajurit AS yang bertugas dengan tank yang bertahan menang dalam beberapa kali perang melawan pasukan Jerman. Kelompok tank ini terkenal karena sering lolos dari serangan-serangan, tetapi kemenangan mereka tidak bisa mewakili atau membuat pasukan AS dinyatakan menang dalam perang, karena lebih banyak anggota pasukan AS yang kalah daripada yang menang. Dari kisah film ini, saya belajar bahwa kemenangan saya sendiri dalam Tuhan tidak ada artinya jika banyak saudara-saudari seiman saya yang menyerah/kalah. Bukanlah kemenangan saya sendiri secara pribadi, melainkan kemenangan kita bersamalah sebagai satu Tubuh Kristus yang akan menggenapkan rencana Tuhan. Kemenangan dan kekalahan kita setiap orang di dalam perjalanan imannya memberi pengaruh pada kemenangan dan kekalahan seluruh Tubuh Kristus. Itu sebabnya Tuhan berfirman:
Ibrani 11:39-40 :“Dan mereka semua (para pahlawan iman) tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.”

Jadi, apa bagian kita masing-masing? Sebagai satu tubuh Kristus yang dinamakan gereja, untuk mencapai kesempurnaan yang Kristus rencanakan, kita harus hidup saling membangun satu sama lain. Saling menolonglah dengan karunia kita masing-masing, saling menolonglah agar masing-masing orang makin bertumbuh, dan saling menolonglah dalam menjangkau calon-calon anggota keluarga baru agar masuk dan tinggal dalam rumahNya juga. Mari kita menang bersama-sama, karena kemenangan kita sendiri tidak akan berarti jika saudara-saudari kita kalah. Saya dan teman-teman semua adalah generasi yang Tuhan percayakan sebagai penerus tongkat estafet pembangunan rumahNya, mari teruskan tongkat itu sampai sampai seluruh bumi penuh kemuliaanNya.

2019-10-17T16:38:32+07:00