///Membangun rumah Tuhan

Membangun rumah Tuhan

Menjadikan Kristus sebagai pusat (sumber) hidup kita tentu berarti kita harus terus-menerus terhubung dengan Sang Sumber agar terus bertumbuh. Jika kita telah terhubung dengan pusat atau inti kehidupan itu, maka pusat atau inti itulah yang akan bergerak di dalam kita. Tanpa kita menjadi satu dengan Sumber tersebut, maka kehidupan kita akan berhenti dan lama-kelamaan akan mati. Begitupun yang terjadi dalam pertumbuhan dan pelayanan saya. Pada akhir 2013, saya mengalami stagnasi dalam pertumbuhan rohani dan pelayanan. Saya merasa tidak bergerak lagi bersama dengan Tuhan. Saya berdoa dan bertanya kepada Tuhan apa yang keliru dalam pelayanan pertumbuhan jemaat Abbalove di Lombok ini? Dan Tuhan berbicara, “BUILD MY HOME (bangun rumah-Ku)”. Kemudian Roh Kudus mendorong saya untuk membaca Hagai 1-2 berulang-ulang sampai saya mendapatkan rhema dari Tuhan tentang cara membangun rumah Tuhan, yaitu dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup (Rm. 12:1).

Mengapa mempersembahkan tubuh?
1. Karena di dalam tubuh terdapat jiwa dan roh.
2. Karena tubuh kita adalah Bait Allah (1 Kor. 3:16-17; 6:19-20).

Mengapa tubuh dipersembahkan? Karena tubuh tak boleh/bisa diberikan dengan terpaksa. Tubuh harus dipersembahkan dengan tulus dan sukarela menjadi Bait Allah yang hidup. 1 Korintus 3:16 dan 1 Korintus 6:19 menjelaskan istilah yang sama, yaitu “Roh Allah diam”. Kalau Roh Allah yang berdiam, berarti Dialah yang menggerakkan seluruh anggota tubuh sesuai dengan fungsi masing-masing.

Rupanya inilah alasan mengapa kerohanian saya berhenti berkembang, karena bukan Roh Kudus yang menggerakkannya, tapi apa yang menjadi keinginan dan perasaan saya sendiri. Akhirnya saya mengerti bahwa bila ingin hidup kita benar-benar hidup dan bergerak, baik dalam komsel maupun ibadah raya serta dalam segala aspek hidup kita, tubuh kita harus dipersembahkan tiap hari menjadi kediaman Roh Kudus sepenuhnya, sehingga Roh Kuduslah yang akan senantiasa memanifestasikan kebenaran, kasih dan kuasa Allah. Ketika saya mempersembahkan tubuh kepada Tuhan tiap hari, Roh Kudus bekerja dengan dahsyat. Saya berbagi dan mengajarkan kepada jemaat agar kita terus mempraktekkan hal ini bersama-sama. Dampaknya adalah banyak kesaksian muncul dari anggota jemaat tentang perubahan hidup yang terjadi. Kami pun melihat bahwa anggota jemaat bertumbuh. Kesembuhan dan pemulihan terjadi. Banyak kesaksian yang terjadi ketika kami mulai mempraktekkan ini. Bambang Rahmadi (Pemimpin Jemaat Abbalove Lombok)

Berikut beberapa kesaksian yang terjadi di jemaat:

“Saat awal bertobat, saya mengalami kepahitan dengan ibu mertua. Saya berusaha mengampuni dan mengasihi beliau, tapi dengan kekuatan saya sehingga saya tetap merasa takut bila bertemu dan tidak suka dengan sikap beliau. Berkali-kali saya berusaha untuk mengasihi ibu mertua saya, tetapi tetap tidak mampu seakan-akan ada penghalang untuk saya mengasihi beliau. Namun ketika saya mulai mempraktekkan mempersembahkan tubuh setiap hari, ada sesuatu dalam diri saya yang menggerakkan saya untuk mampu mengampuni dan mengasihi mertua saya sepenuhnya. Yang pertama, Tuhan memulihkan kehidupan saya terlebih dahulu dari luka-luka lama dan gambar diri saya, sampai akhirnya Tuhan memulihkan hubungan saya dengan mertua saya. Sekarang saya bisa mengampuni dan mengasihi mertua saya sepenuhnya.”
(Evi Santosa, Umum 2, komsel Keluarga).

“Di tahun 2012 yang lalu, saya mengalami kecelakaan. Akibatnya, ada gumpalan darah di dalam kepala saya, sehingga dokter menganjurkan saya agar segera dioperasi untuk mengeluarkannya. Setelah selesai operasi, dokter berkata bahwa ada efek yang akan timbul, karena operasi menyangkut bagian saraf. Setelah beberapa waktu, efek itu benar-benar terjadi. Saya sering mengalami kejang-kejang dan jatuh pingsan ketika bekerja berat dan itu terjadi selama kurang lebih satu setengah tahun secara terus-menerus. Ketika Firman Tuhan tentang mempersembahkan tubuh ini dibagikan, ini menjadi rhema yang kuat sekali bagi saya, sehingga saya merasa ingin juga mempraktekkannya dalam hidup saya. Awalnya, saya mencoba-coba karena belum mengerti. Setiap pagi ketika saat teduh, saya mulai mempraktekkan mempersembahkan tubuh. Luar biasa Tuhan kita, saya merasakan dampak dari praktek tersebut. Bulan demi bulan berlalu sejak saya mempraktekkan firman Tuhan ini, dan saya tidak pernah kejang-kejang atau pingsan lagi. Sekarang sudah sembilan bulan berlalu dan saya benar-benar sudah disembuhkan Tuhan! Saya mau mempersembahkan tubuh saya untuk kemuliaan Tuhan setiap hari.” (Folo’o Zisekhi Luahambowo, Umum 1, komsel Keluarga).

“Sejak kecil, saya dibesarkan dalam keluarga yang keras oleh tante saya, karena ibu meninggal sejak saya kecil. Selama saya tinggal di rumah Tante, segala sesuatu harus dilakukan sesuai aturan. Kebiasaan untuk marah sudah tertanam di alam bawah sadar saya saat itu. Setelah dewasa, kebiasaan itu otomatis terjadi dalam hidup saya. Ketika bekerja di kantor, jika saya melihat hal-hal yang tidak beres dengan rekan, maka saya emosi, mengomel dan marah. Suatu hari, ketika kami sedang di komsel dewasa muda, kami mempraktekkan mempersembahkan tubuh di komsel. Salah satu anggota komsel mendoakan saya. Ia mendapat penglihatan bahwa saya sedang berjalan bersama tante saya, namun tiba-tiba ia marah tanpa sebab. Akhirnya, saya diingatkan pada peristiwa yang lalu yang terjadi dalam hidup saya, bahwa waktu itu keponakan saya yang berumur 4 tahun bermain dekat sumur dan hampir jatuh ke dalamnya. Tante saya marah dan mempersalahkan saya. Hal ini menyakitkan dan tertanam di alam bawah sadar saya, sehingga membuat saya gampang emosi jika melihat hal yang tidak beres. Saat itu saya mengalami pemulihan dari Tuhan tentang peristiwa tersebut, saya benar-benar dijamah Tuhan dan hati saya dipulihkan. Ketika di rumah, secara pribadi saya terus mempraktekkan mempersembahkan tubuh setiap hari. Saya dimerdekakan dan dibebaskan, sekarang saya bisa belajar untuk mengelola emosi saya, sehingga tidak meledak-ledak lagi. Haleluya.” (Sara Gracia, Umum 2, komsel Dewasa Muda).

“Saya dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang kasar. Ayah saya melecehkan saya dan tidak sungkan-sungkan memukul, menampar atau memperkatakan kata-kata kasar pada saya, baik di depan umum maupun ketika kami sendiri. Ia melakukan hukuman tidak sebanding dengan kesalahan yang saya buat. Hal ini membuat saya bertumbuh menjadi pribadi yang keras dan kasar, sehingga saya bingung dengan diri saya sendiri, seolah-olah memiliki dua kepribadian. Ternyata perlakuan orang tua telah membentuk diri saya menjadi sedemikian rupa, sehingga saya merasa bahwa saya hidup sendiri tanpa orang tua. Saat dewasa, saya menikah dan memiliki keluarga sendiri, namun tanpa sadar ternyata karakter kasar yang telah terbentuk di dalam diri saya justru timbul dengan sendirinya terhadap isteri dan anak saya. Saya juga pernah hampir membunuh orang ketika ia melecehkan saya, sama seperti yang dilakukan Ayah kepada saya. Tetapi, saya bersyukur karena Tuhan Yesus membebaskan saya ketika saya tahu tentang kebenaran bahwa saya harus mempersembahkan tubuh kepada Tuhan setiap hari sesuai Roma 12:1-2. Saya mempersembahkan mulut saya kepada Tuhan dan tidak mengulangi kata-kata kasar dari orang tua. Saya mempersembahkan tangan kepada Tuhan untuk tidak memukul keluarga saya lagi. Saya mempersembahkan telinga pada Tuhan untuk mendengar suaraNya dan tidak mendengar suara-suara yang lain. Setiap hari saya mempersembahkan tubuh saya kepada Tuhan. Puji Tuhan, saya bersyukur karena Tuhan menyembuhkan saya dari masa lalu tersebut. Hari ini saya sudah sembuh dari pengalaman masa lalu saya dan saya bisa berhubungan baik dengan ayah saya, dengan isteri dan anak-anak saya. Kerinduan saya adalah menjadi berkat, sehingga anak-anak saya juga memiliki karakter Kristus di dalam diri mereka. Saya juga rindu agar orang lain juga mengalami apa yang telah saya alami dari Tuhan.” (Andre Sagala, Umum 2, komsel Keluarga).

2019-11-01T11:02:45+07:00