///Memerangi Pemikiran Anomali

Memerangi Pemikiran Anomali

“Orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran,” menurut Firman Tuhan di Yesaya 29:24. Perhatikan bagian tentang orang-orang yang sesat pikiran. Kesesatan ini sejajar dengan apa yang dituliskan dalam Mazmur 95:10, “Empat puluh tahun   Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: ‘Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.'” Apa artinya sesat pikiran atau sesat hati? Ada lima tanda bahwa seseorang mengalami sesat atau abnormalitas dalam pikiran/hatinya, yaitu: menyimpang dari norma umum; menyimpang dari kebenaran (Firman Tuhan); menyimpang dari fungsi aslinya/seharusnya; menyimpang dari respons normal; dan menyimpang dari tanggung jawab sosial. Yang pasti, kelima tanda ini menunjukkan adanya anomali. Berikut ini ialah beberapa contoh umum pemikiran anomali:

  1. Stereotype

Stereotip (dalam bahasa Inggris: stereotype) adalah penilaian terhadap sesuatu atau seseorang yang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok/kategori yang menaungi hal atau orang tersebut. Stereotip bisa berbentuk asumsi terhadap seseorang berdasarkan pengalaman atau keyakinan yang dimiliki sebelumnya. Misalnya, anggapan bahwa orang dari ras atau suku tertentu pastilah licik, pelit, malas, genit, boros, dan sebagainya. Jika dibiarkan, stereotip sering kali berkembang menjadi sikap diskriminatif. Pengalaman hidup, penuturan dari orang lain, serta keyakinan pribadi maupun umum, terus-menerus memperkuat stereotip. Semua orang akan mendapatkan label yang digeneralisasi hanya karena tergolong di dalam atau berasal dari kelompok/kategori tertentu. Padahal, ada begitu banyak informasi lain yang perlu dicerna lewat pemikiran logis dan rasional, yang sebenarnya dapat menunjukkan kelemahan stereotip itu.

 

  1. Perfectionism

Perfectionism, atau perfeksionisme, pada intinya berarti kecanduan atau dorongan berlebihan terhadap kesempurnaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perfeksionis  didefinisikan sebagai orang yang ingin segala-galanya sempurna, atau orang yang percaya bahwa kesempurnaan moral dicapai kalau dapat hidup tanpa dosa. Seorang perfeksionis memiliki standar yang terlalu tinggi terhadap banyak hal, biasanya termasuk dirinya sendiri, sehingga berpotensi menjadi kecewa karena realitas yang dihadapi tidak sesuai dengan standarnya. Kaum perfeksionis lupa bahwa hanya Tuhanlah pemilik kesempurnaan itu.

 

  1. Over-Optimism

Over-optimism berarti sikap terlalu berharap, atau terlalu percaya bahwa hal-hal baik akan terjadi di masa depan. Hal yang diharapkan, dipercaya, dan dibayangkan itu memang positif, tetapi keyakinan bahwa yang positif itu akan terwujud menjadi terlalu berlebihan serta tidak berdasarkan alasan logis yang kuat. Orang-orang yang optimis berlebihan ini mengharapkan sesuatu terjadi di masa depan dengan cara yang lebih baik daripada yang diperkirakan kebanyakan orang menurut akal sehat dan data, sehingga lalu sangat sering mengalami kenyataan yang berlawanan dengan keyakinan.

 

  1. Risk Avoidance

Risk avoidance dapat diterjemahkan sebagai penghindaran risiko. Risiko adalah bahaya, akibat, atau konsekuensi yang dapat terjadi di masa depan setelah suatu proses atau situasi yang sedang berlangsung. Apa pun tindakan yang kita lakukan atau situasi yang kita alami saat ini, pasti ada risiko atau konsekuensi yang menyertainya. Bahkan ketika kita memutuskan untuk tidak melakukan apa pun, itu pun ada risikonya. Sayangnya, sebagian orang, para penghindar risiko, akan melakukan hal ini demi menghindari risiko: tidak melakukan apa pun supaya tidak perlu menanggung risikonya.

Untuk mengatasi berbagai pemikiran anomali, kita membutuhkan pemikiran kebenaran. Tentu, ini hanya bersumber dari dan berdasar Firman Tuhan. Mari kita renungkan lima kebenaran yang sanggup memerdekakan kita dari kecenderungan pikiran yang sesat itu, yaitu lima kebenaran kemenangan pikiran:

 

  1. Tuliskan kebenaran Firman di alam bawah sadar (baca–hafalkan–dalami–bagikan)

Ibrani 10:16: “Sebab setelah Ia berfirman: ‘Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,’ Ia berfirman pula: ‘Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka…'”

 

  1. Kenali impuls negatif yang timbul (ketahui–waspadai–kendalikan)

1 Yohanes 2:16: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”

 

  1. Perangi impuls negatif dengan pedang Roh yang terasah tajam, yaitu Firman yang sudah dilakukan (imani–perkatakan–imajinasikan–perangi)

Ibrani 4:12: “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendir-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”

Yakobus 4:7: “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”

 

  1. Serang kubu pertahanan musuh, yaitu pusat persembunyian pikiran anomali (penyembahan–bahasa Roh–peperangan)

2 Korintus 10:3-5: “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus

 

  1. Jaga lima gerbang pikiran (pancaindra), seleksi dan tolak yang tidak membangun atau bermanfaat (auditory–visual–kinesthetic–gustatory–olfactory)

1 Petrus 5:11-12: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”

 

Selamat mempraktikkan. Serahkan seluruh pikiran dan hati Anda kepada Tuhan dan alami kemerdekaan dari kesesatan hati serta pikiran atas kehidupan Anda.

2021-10-06T14:45:52+07:00