Memperhatikan

Beberapa kali saya datang ke salon atau barber shop untuk potong rambut, saya sempat memperhatikan perilaku yang berbeda dari masing-masing pelanggan yang rambutnya sedang dipotong. Saya sendiri, ketika rambut saya dipotong, pertama-tama memberikan arahan bagaimana model rambut yang ingin saya miliki kepada hair stylist atau tukang potong rambut. Setelah memastikan tukang potong paham apa yang saya maksud dalam arahan singkat itu, proses pemotongan rambut pun mulai dilakukan. Para pelanggan lain memiliki kebiasaannya masing-masing. Ada yang asyik membaca majalah, asyik memainkan gawai, atau bahkan ada yang tertidur; banyak di antara mereka tampak tidak terlalu peduli dengan proses pemotongan rambut yang sedang berjalan. Memang, ada pula sebagian pelanggan lain yang biasa memperhatikan bagaimana proses itu berlangsung melalui cermin yang ada di hadapan sambil terus berkomunikasi dengan si tukang potong. Saya termasuk salah satu pelanggan yang suka memperhatikan bagaimana proses itu berlangsung; selalu menjadi perhatian saya untuk memastikan agar hasil akhir model rambut sesuai dengan yang saya inginkan.

 

Semua ini bukan soal mana yang lebih baik atau mana yang benar. Ini hanya soal perbedaan cara menyikapi proses potong rambut: golongan pertama ingin menikmati saja prosesnya lalu melihat hasil akhirnya; sedangkan golongan kedua terus memperhatikan prosesnya sambil memastikan bahwa hasil akhirnya sesuai keinginan. Risikonya pun berbeda. Kalau hasil akhir ternyata tidak sesuai dengan keinginan, golongan pertama yang santai menikmati proses akan sulit atau bahkan tidak bisa lagi melakukan perbaikan/perubahan; sedangkan golongan kedua yang suka memperhatikan akan segera tahu jika ada perkembangan yang mengarah ke perbedaan hasil, maka potensi kesalahan itu langsung diperbaiki sehingga kemungkinan besar hasil akhirnya sesuai yang diinginkan.

 

Perenungan saya tentang kedua golongan pelanggan potong rambut ini membawa saya merenungkan kebenaran Firman Tuhan yang meminta kita untuk terus memperhatikan bagaimana cara kita hidup.

 

Kita mengerti bahwa sebagai anak Tuhan, kita telah menerima keselamatan dan panggilan di dalam Yesus Kristus. Tujuan akhir hidup anak Tuhan adalah kekekalan; dan untuk sampai kepada kekekalan, kita harus senantiasa memperhatikan bagaimana kita hidup.

 

Hidup kita di dunia ini hanyalah sementara; jangan pernah terlena dengan kesibukan atau kesenangan sesaat di dunia yang membuat kita tidak memperhatikan hidup dengan perspektif kekekalan. Fokus hidup kita adalah kekekalan di dalam Yesus Kristus. Karena kekekalan itulah kita perlu dan harus terus memperhatikan bagaimana proses kehidupan kita selama di dunia ini. Terus memperhatikan bagaimana kita hidup akan menolong kita menjadi anak Tuhan yang cepat menyadari ketika terjadi sesuatu yang tidak benar dengan hidup kita. Alhasil, potensi kesalahan itu bisa langsung diperbaiki dan kita bisa segera kembali ke arah yang benar.

 

Lalu, bagaimana cara kita memperhatikan hidup? Kita bisa mengenali apa saja yang tidak benar dalam hidup kita jika kita senantiasa memperhatikannya lewat “cermin” kebenaran, yaitu Firman Tuhan, yang selain berfungsi bagi kita secara pribadi, juga bekerja melalui komunitas sel dan pemimpin rohani. Karena itulah, kita perlu senantiasa belajar mengerti kebenaran Firman Tuhan, perlu terus berada di dalam komunitas sel, serta perlu terus terayomi oleh otoritas pemurid atau pemimpin rohani. Ketiga wadah/media inilah yang akan membantu memperbaiki hidup kita ketika ada yang tidak benar serta membantu kita untuk segera melakukan perbaikan.

 

Jangan biarkan kesenangan sesat membuat hidup kita terlena dalam kenyamanan dan kemegahan yang ditawarkan dunia, sampai pada akhirnya semua menjadi terlambat untuk diperbaiki lagi. Mari kita terus memperhatikan bagaimana kita hidup dengan “cermin” kebenaran dan segeralah lakukan perbaikan setiap kali diperlukan. Dengan cara ini, dapat dipastikan bahwa kita bisa berjalan terus pada arah yang benar menuju kekekalan hidup bersama Allah, Bapa kita. Pada saatnya nanti, kita akan mengalami hidup bersama Yesus Kristus dalam kekekalan yang kudus.

 

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” – Efesus 5:15 (TB)

Be very careful, then, how you live-not as unwise but as wise.” – Ephesians 5:15 (NIV)

Kiranya Tuhan meneguhkan dan menguatkan perjalanan kita semua dalam kesetiaan memperhatikan cara hidup saat ini menuju kekekalan bersama-Nya.

2019-09-27T11:58:08+00:00