///Menaklukkan Percabulan (4)

Menaklukkan Percabulan (4)

Percabulan adalah hal yang sangat serius. Percabulan bukan hanya akan menghancurkan pernikahan. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa kecanduan pornografi memiliki efek yang lebih menjerat daripada kecanduan obat-obatan. Percabulan lebih dari merusak kualitas kehidupan seorang individu, dan bahkan dapat menghancurkan kehidupan sebuah bangsa (Yud. 1:7).

Alkitab memperingatkan bahwa berbeda dengan memerangi dosa-dosa yang lain, memerangi percabulan harus dilakukan dari dalam diri sendiri (1 Kor. 6:18). Karena itu, dalam seri artikel Menaklukkan Percabulan selama beberapa edisi ini, kita akan membahas bagaimana Anda dapat menang atau dapat menolong orang lain menang melawan jebakan-jebakan percabulan yang disusupkan iblis melalui keunikan karakter kita masing-masing.

 

Kelompok karakter 4: Peragu yang Suka Menunda

Apakah kita sering menghadapi pilihan-pilihan yang terasa dilematis? Apakah kita cenderung ragu-ragu dalam mengambil keputusan? Apakah kita cenderung “membiarkan waktu yang mengambil keputusan” bagi kita? Jika kita merasa sedang atau sering mengalami situasi-situasi seperti di atas, artikel kali ini akan sangat menolong kita dalam mengantisipasi jebakan percabulan yang dipasang oleh iblis.

 

Sumber percabulan: Menunda-nunda

Salah satu fungsi otak kita yang telah dirancang oleh Tuhan adalah sebagai “radar bahaya.” Umumnya, ketika otak mendeteksi sinyal bahaya yang ia tangkap dari salah satu dari pancaindra kita, ia akan mendorong munculnya emosi-emosi yang penuh kewaspadaan. Dalam situasi seperti itu, secara naluriah kita akan merasa, “Awas, bahaya! Jangan teruskan!” Saya sendiri menafsirkannya bahwa sering kali Roh Kudus juga bekerja melalui mekanisme ini untuk memperingatkan kita akan jebakan-jebakan iblis yang sedang terbuka lebar di hadapan kita.

Di momen-momen semacam ini, naluri dan emosi kita telah memberikan sinyal bahaya. Selanjutnya, otak logis kita akan mulai mencari-cari data untuk mendukung maupun membatalkan/menggagalkan sinyal bahaya dari naluri dan emosi kita tadi. Di sinilah kehendak bebas kita memiliki peran yang sangat vital. Otak logis kita akan selalu berusaha menyediakan data-data untuk mendukung maupun membatalkan/menggagalkan sinyal bahaya tadi; tetapi kitalah yang menentukan, data mana yang akan kita ambil, apakah kita akan lebih memercayai data-data yang mendukung atau membatalkan/menggagalkan tanda bahaya tadi.

Dalam berbagai kasus, sinyal bahaya tadi memang dapat menjadi sinyal yang tidak tepat karena dikaburkan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu yang bersifat traumatis, mitos, stereotipe, dan sebagainya. Namun dalam hal yang berhubungan dengan percabulan, sinyal-sinyal tanda bahaya itu cenderung akurat. Mengapa? Karena Tuhan telah menaruh radar yang sangat sensitif terhadap tanda-tanda percabulan di dalam roh kita. Itulah sebabnya, Kristus mengatakan: “Barang siapa memandang seorang (seseorang) dengan nafsu berahi, orang itu sudah berzina dengan (orang) itu di dalam hatinya,” (Mat. 5:28, BIS). Apakah hukum ini hanya berlaku sejak Kristus datang ke dunia? Tidak! Rasul Paulus pun mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mengenal Kristus telah memiliki hati nurani yang akan menjadi hakim bagi isi hati, pikiran, dan perilaku mereka (Roma 2:14-15).

Pada intinya, baik apakah orang itu mengenal Kristus atau tidak, pernah membaca Alkitab atau tidak, mereka akan selalu memiliki hati nurani yang akan memberikan sinyal tanda bahaya ketika sedang menuju ke jebakan percabulan. Saat sinyal bahaya dari hati nurani ini berbunyi, jika kita menunda-nunda untuk memperhatikan dan mengindahkannya, hati nurani kita akan makin mengeras dan tidak lagi peka merasakan tanda bahaya itu. Menunda-nunda untuk lari menjauh dari jebakan itu, dengan berbagai macam alasan apa pun yang terdengar logis, justru akan semakin menyulitkan kita untuk keluar dari jebakan itu.

 

Kunci kemenangan 1: Perhatikan sinyal tanda bahaya itu

Sinyal tanda bahaya ini biasanya mulai menyala ketika seseorang mulai “berzina secara emosi”. Ketika kita mulai merasa menikmati lebih diperhatikan oleh orang lain (terutama lawan jenis) yang bukan suami atau istri yang sah, itulah tanda-tanda bahwa kita mulai berzina secara emosi. Ketika kita mulai mencari-cari cara agar lebih sering berinteraksi dengan orang itu dan lebih jarang berinteraksi dengan suami atau istri yang sah, intulah tanda-tanda bahwa kita mulai berzina secara emosi.

Dalam situasi-situasi seperti itu, perhatikan sinyal tanda bahaya dari hati nurani kita. Iblis akan berusaha merasionalisasi dorongan zina itu dengan berbagai dalih yang terkesan fakta, “Sebenarnya suamimu (atau istrimu) memang tidak sepengertian dia. Bagaimanapun, dia lebih jelas tampak lebih mengasihi dan lebih memahamimu dibandingkan suamimu (atau istrimu). ‘Toh kamu tidak melakukan apa-apa secara fisik…” Mendengarkan dan meladeni pernyataan-pernyataan ini hanya akan mengaburkan sinyal bahaya di hati kita, sehingga kita mulai meyakini bahwa hal zina emosi itu adalah hal yang wajar.

 

Kunci kemenangan 2: Segera lari kepada Tuhan

“Lagi pula saya kan tidak berzina secara fisik,” kalimat pembelaan ini biasanya muncul di hati orang-orang yang sudah terjebak di dalam zina secara emosi. Mungkin secara “teknis” orang itu memang belum berzina. Ia tidak memandang perempuan (atau laki-laki) lain itu dengan nafsu berahi, tetapi mari saya gambarkan ke mana jalan yang orang itu akan tempuh.

Orang-orang yang berzina secara emosi akan mulai (atau bahkan sudah) membandingkan laki-laki atau perempuan itu dengan suami atau istrinya. Kemudian, hatinya akan lebih condong kepada laki-laki atau perempuan lain itu. Tahap berikutnya, ia akan berusaha makin mendekatkan diri kepada laki-laki atau perempuan lain itu, baik secara emosi maupun fisik; dan pada saat yang sama mulai makin sengaja menjauhkan diri dari istri atau suami sahnya, baik secara emosi maupun fisik. Akibatnya, hubungan pernikahan mereka menjadi semakin renggang, dipenuhi dengan konflik-konflik tajam yang dimulai dari hal-hal yang sepele, dan pada akhirnya membuat persepsi dan rasa percaya di antara suami dan istri itu pun semakin rusak. Di saat yang sama, perempuan atau laki-laki lain itu akan terkesan semakin baik dan semakin sempurna, semakin cocok dan tepat bagi si pelaku zina. Pada titik ini, hanya tinggal selangkah lagi untuk menuju ke zina yang sesungguhnya, entah secara fisik maupun seperti yang digambarkan Kristus di Matius 5:28.

Sebelum kita terjebak lebih jauh dalam jalan ini, SEGERALAH LARI! Jangan pernah merasa kuat! Zina adalah dosa yang sangat halus tetapi sangat kuat. Ia akan merusak dan menghancurkan kehidupan kita dan keluarga kita! Itu bukan kemungkinan. Itu adalah kepastian! Karena itu, segeralah lari meninggalkan segala interaksi dengan perempuan atau laki-laki lain itu dan berlarilah mendekati Tuhan. Jauh lebih baik hubungan kita dengan perempuan atau laki-laki lain itu menjadi rusak daripada pernikahan kita dengan suami atau istri yang sah menjadi hancur. Seberapa pun tidak harmonisnya kondisi pernikahan yang kita alami sekarang, zina bukanlah jalan keluarnya. Jangan menyerah untuk memperbaiki pernikahan kita. Carilah anak-anak Tuhan yang dapat membantu kita. Percayalah bahwa sungguh-sungguh tidak ada yang mustahil bagi Tuhan; dan Tuhan akan tetap menyertai dan menguatkan kita sampai akhir hidup kita.

 

Peneguhan Tuhan

Hendaklah kalian menjadi kuat dengan kekuatan yang kalian dapat dari kuasa Tuhan,
karena kalian bersatu dengan Dia. Pakailah perlengkapan perang yang diberikan Allah kepadamu,
supaya kalian dapat bertahan melawan siasat-siasat yang licik dari Iblis.

Efesus 6:10–11, BIMK

 

2019-09-27T12:45:22+00:00