/, Character/Menaklukkan Percabulan (bag. 2)

Menaklukkan Percabulan (bag. 2)

Alkitab memperingatkan bahwa berbeda dengan memerangi dosa-dosa yang lain, memerangi percabulan harus dilakukan dari dalam diri sendiri (1 Kor. 6:18). Karena itu, dalam seri artikel Menaklukkan Percabulan selama beberapa edisi ini, kita akan membahas bagaimana Anda dapat menang atau dapat menolong orang lain menang melawan jebakan-jebakan percabulan yang disusupkan iblis melalui keunikan karakter kita masing-masing.

Kelompok karakter 2: Pemikir logis dan praktis yang mementingkan pencapaian
Apakah kita termasuk orang yang selalu berpikir logis? Apakah kita termasuk orang yang tidak terlalu menganggap penting perasaan/emosi? Apakah kita termasuk orang yang sangat terfokus pada pencapaian dan berpikir secara sangat praktis atau fungsional? Jika kita termasuk atau mengenal orang lain yang termasuk kelompok orang yang berkarakter seperti ini, artikel kedua dalam seri ini akan membantu kita mengantisipasi jebakan percabulan dengan kunci kemenangan yang tepat.

Sumber kejatuhan: Kelelahan karena tidak mengelola emosi dengan efektif
Manusia memiliki setidaknya tiga kebutuhan, yaitu kebutuhan fisik, jiwa/emosi, dan rohani. Ketiga kebutuhan ini nyata dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Seseorang dapat saja mengelak bahwa ia membutuhkan istirahat 7-8 jam sehari, tetapi jika ia terus-menerus kurang istirahat, cepat atau lambat tubuhnya akan “membayar harganya”. Demikian juga, seseorang dapat mengelak bahwa ia tidak memerlukan rekonsiliasi dan hidup intim dengan Tuhan, tetapi cepat atau lambat, roh yang “kurang gizi” di dalam dirinya akan “membayar harganya”.

Dalam hal kebutuhan jiwa/emosi. Setiap manusia membutuhkan perasaan diakui, dihargai tanpa pamrih, dilihat mampu melakukan hal-hal yang baik, dianggap berarti, merasa diterima, merasa diampuni dan dilindungi, diarahkan atau dibimbing menemukan jalan keluar dalam kesesakan/kesulitan, dan diperlakukan dengan setia. Kebutuhan-kebutuhan ini nyata dan tidak dapat diabaikan, walaupun kita termasuk orang-orang yang tampak “dingin” dan cenderung menganggap kebutuhan-kebutuhan jiwa/emosi semacam ini bukanlah sesuatu yang penting. Tidak terhitung jumlah kasus maupun studi kasus secara akademis yang menunjukkan bahwa ketika seseorang dengan sengaja mengabaikan kebutuhan-kebutuhan jiwa/emosi dengan cara memfokuskan seluruh keberadaan dirinya untuk mencapai sebuah prestasi, mengerjakan passion, atau bahkan sekadar bekerja; cepat atau lambat kebutuhan-kebutuhan jiwa/emosi itu akan meluap seperti sebuah botol yang pecah karena desakan gas yang terkandung pada sebuah minuman. Pada titik inilah, godaan percabulan, yang terkesan tidak seekstrem seperti godaan untuk membunuh, mabuk, kecanduan obat, menjadi sangat sulit dihindari dan ditaklukkan. Percabulan pun menjadi penyaluran untuk mengalirnya kelegaan dan kenyamanan kembali bagi jiwa/emosi kita, karena terkait erat dengan produksi hormon Dopamin (memberi perasaan puas) dan Oksitosin (memberi perasaan dihargai dan dikasihi).

Lalu bagaimana mengatasi kelelahan jiwa/emosi agar tidak membawa pada dosa percabulan?

Kunci kemenangan: Mengistirahatkan jiwa secara sengaja
Pada zaman Kristus melayani di bumi, bangsa Israel sedang berjuang keras mencari jalan keselamatan. Salah satu dari tiga aliran besar ajaran yang dominan pada saat itu adalah aliran Farisi, yang sangat menekankan pentingnya berbagai macam ritual dan aturan untuk menunjukkan kekudusan hidup. Secara psikologis, kondisi yang mereka alami mirip seperti yang di bagian sebelumnya. Mereka memfokuskan seluruh keberadaan dirinya untuk mencapai sebuah prestasi (dalam hal ini, hidup kudus), mengerjakan passion (hidup kudus); bahkan jika perlu, mengabaikan perasaan atau emosi (Luk. 10:30-32) demi mengejar konsistensi “kinerja” mereka.

Kepada orang-orang seperti inilah Tuhan berkata, “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu. Ikutlah perintah-Ku dan belajarlah daripada-Ku. Sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan merasa segar.” (Matius 11:28-29, BIS). Kata “segar” di ayat itu di beberapa versi terjemahan lain diterjemahkan sebagai “istirahat” atau “ketenangan”. Dalam bahasa Yunani, kata itu berasal dari dua kata: ana dan pauo. Kata ana berarti “masuk ke dalam” atau “berada di antara”, sedangkan kata pauo secara harafiah berarti “berhenti”. Jadi, maksud Kristus adalah, “Aku tahu kamu mengejar sesuatu yang menurutmu penting dan baik. Namun, dengarkan jiwamu. Jiwamu membutuhkan beberapa saat untuk berhenti. Aku tahu itu karena Akulah yang menciptakanmu. Ayo, ikutlah Aku. Seperti yang telah Kukatakan sebelumnya, carilah dahulu apa yang Allah inginkan, maka kamu akan mendapatkan segala hal lain yang kamu butuhkan. Ikutlah Aku, maka jiwamu akan beristirahat.”

Ucapan Kristus ini bukannya tanpa dasar. Ia sendiri pun mengalaminya. Mungkin hampir setiap hari Ia bangun subuh dan bekerja hingga larut malam. Ia tidak digaji, tetapi harus bertanggung jawab, setidaknya atas hidup ke-12 muridnya. Ia sangat terfokus pada passion-nya hingga rela menanggung celaan, ludah, dan kematian. Namun melampaui semuanya itu, jiwa-Nya tidak menjadi “keras dan dingin”. Ia tetap merupakan seorang manusia terlembut yang pernah ada; dan Ia mengajak kita untuk meneladani-Nya.
Mungkin mengistirahatkan jiwa hampir selalu menempati prioritas terakhir di dalam hidup kita yang termasuk kelompok karakter ini. Padahal, sebenarnya jiwa kita membutuhkannya, entah kita mengakuinya atau mengabaikannya. Jangan izinkan iblis menjebak kita melalui kelelahan jiwa sehingga kita mencari kelegaan dari kenikmatan sesaat dalam percabulan. Dengan sengaja dan terencana, istirahatkan jiwa kita di dalam Tuhan.

Peneguhan Tuhan
“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu (berguna) dan beban-Kupun ringan. (Mat. 11:29-30)

 

 

2019-10-11T11:05:00+07:00