/, Character/Menaklukkan Percabulan (bag. 3)

Menaklukkan Percabulan (bag. 3)

Percabulan adalah hal yang sangat serius. Percabulan bukan hanya akan menghancurkan pernikahan. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa kecanduan pornografi memiliki efek yang lebih menjerat daripada kecanduan obat-obatan. Percabulan lebih dari merusak kualitas kehidupan seorang individu, dan bahkan dapat menghancurkan kehidupan sebuah bangsa (Yud. 1:7).

Alkitab memperingatkan bahwa berbeda dengan memerangi dosa-dosa yang lain, memerangi percabulan harus dilakukan dari dalam diri sendiri (1 Kor. 6:18). Karena itu, dalam seri artikel Menaklukkan Percabulan selama beberapa edisi ini, kita akan membahas bagaimana Anda dapat menang atau dapat menolong orang lain menang melawan jebakan-jebakan percabulan yang disusupkan iblis melalui keunikan karakter kita masing-masing.

Kelompok karakter 3: Pendiam yang memendam pendapat demi menjaga perasaan orang dan menghindari konflik
Apakah kita sering merasa takut menyakiti perasaan orang lain? Apakah kita cenderung memilih untuk diam dalam menghadapi situasi-situasi yang dilematik? Apakah kita cenderung mengatur dengan sangat hati-hati perkataan kita, terutama dalam menghadapi situasi-situasi yang berpotensi menimbulkan konflik? Apakah kita cenderung berusaha mempertahankan keharmonisan relasi dengan orang-orang di sekitar kita dengan segala cara? Jika kita merasa memiliki kecenderungan seperti ini, saya yakin artikel kali ini akan dapat membukakan kita terhadap jebakan-jebakan percabulan yang dapat dipakai iblis untuk menyerang kita.

Sumber percabulan: Keengganan mengungkapkan ketidaksetujuan
Tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh menyukai konflik. Namun, kadang-kadang Tuhan mengizinkan kita menghadapi orang-orang yang memiliki perilaku atau niat yang tidak benar. Walaupun kita termasuk orang yang memiliki intuisi yang cukup tajam terhadap niat tidak baik seseorang, menegur atau mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap orang-orang yang telah kita izinkan cukup dekat kepada kita memang tidak pernah mudah.

Melalui pengalaman profesional saya sebagai seorang konselor, saya mendapati banyak orang yang seharusnya memiliki karakter yang setia ternyata dapat terjatuh ke dalam jebakan percabulan; bukan ketika mereka diperhadapkan pada godaan-godaan yang sangat frontal dan fantastis seperti melihat majalah atau film porno bersama-sama atau menyewa jasa pekerja seksual, dan sebagainya, tetapi justru dari orang-orang atau situasi yang sudah sangat akrab dengan mereka seperti teman sepelayanan, rekan kerja, saat-saat tenang dan sendirian di kamar pribadi, komputer atau gawai yang selama ini selalu dipakai untuk bekerja, dst. Jebakan-jebakan ini biasanya dimulai dengan orang tersebut digoda dengan “godaan-godaan kecil”, seperti: candaan-candaan kecil yang “sedikit tidak senonoh” tetapi terdengar lucu; sentuhan secara fisik yang “tidak berarti apa-apa” seperti menyentuh pundak, dan lain-lain; gambar-gambar atau video-video singkat yang “sedikit jorok” tetapi konyol, dan seterusnya.

Orang-orang dengan kelompok karakter seperti ini, secara alamiah tidak akan pernah melakukan hal-hal tadi dengan orang-orang yang ia anggap tidak dekat atau ketika sedang menggunakan gawai orang lain atau sedang berada di tempat yang bukan miliknya sendiri atau cukup asing baginya. Jebakan-jebakan halus ini justru mulai menyusup masuk ketika ia sedang berada di dalam “zona nyamannya”.

Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah godaan-godaan kecil tersebut. Bagaimanapun, sering kali bukan kitalah yang memulai atau menciptakan godaan-godaan kecil itu. Sayangnya, orang-orang dengan kelompok karakter ini cenderung enggan menetapkan batas kebenaran dan mengekspresikan ketidaksetujuan untuk terus melakukan “hal-hal kecil yang menggoda itu”. Orang-orang dengan kelompok karakter seperti ini cenderung “memelihara godaan-godaan kecil” itu dengan alasan-alasan yang terdengar rasional seperti, “Dia kan hanya rekan kerja/pelayananku. Masa aku tidak boleh bertemu dengan dia lagi, walaupun ia tidak berbuat kesalahan yang melanggar etika atau moral?” atau “Sungguh! Tidak ada apa-apa dan tidak akan ada apa-apa di antara kami!” atau “Video dan gambar itu muncul tiba-tiba. Aku hanya melihatnya sedikit. Lagi pula itu belum masuk dalam kategori pornografi kok.”

Keengganan untuk bertindak tegas terhadap diri sendiri dan mengekspresikan batas-batas kebenaran terhadap pihak lain yang terkait inilah yang membuat “godaan-godaan kecil” itu pada akhirnya (dan terasa tiba-tiba) sudah sedemikian kuat mengikat kebiasaan hati dan pikiran kita. Alhasil, kejatuhan di dalam dosa percabulan yang jeratnya semakin lama semakin mengikat menjadi sesuatu yang pasti.

Kunci kemenangan: Mencintai Tuhan lebih dari segalanya
Menghadapi jebakan yang satu ini, tidak ada cara “lembut”. Segala usaha untuk berargumentasi biasanya cenderung berujung pada usaha-usaha untuk membenarkan diri yang sudah terlanjur terikat dengan dosa itu. Cara yang paling efektif, menurut saran saya, adalah dengan berkomitmen mencintai Tuhan lebih dari segala hal yang lain. Putuskan untuk lebih baik kehilangan relasi, disalahpahami oleh orang lain, dan seterusnya, daripada menyakiti Tuhan dengan melakukan dosa percabulan.

Jangan lagi berdalih! Segeralah putuskan dan lakukan keputusan Anda! Apakah kita akan hidup hanya untuk Tuhan atau mencampurnya dengan hal-hal lain yang juga menyakiti hati Tuhan? Saya sungguh berharap dan berdoa agar Anda memutuskan untuk meninggalkan dosa dan godaan-godaan itu, sekarang juga!

Peneguhan Tuhan
“Yesus menjawab, ‘Orang yang mengasihi Aku, akan menuruti ajaran-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia. Bapa dan Aku akan datang kepadanya dan tinggal bersama dia.’”
(Yohanes 14:23 BIMK)

[/fusion_text][/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

2019-10-11T10:39:03+07:00