///Menangis bersama anak

Menangis bersama anak

Hal-hal yang membuat anak bersedih
* Kehilangan
Anak memiliki beragam sumber kesedihan akibat kehilangan, misalnya kehilangan teman karena pindah rumah atau pindah sekolah. Biasanya kehilangan teman membuatnya merasa ditinggalkan. Atau, anak pun bisa menangis akibat kehilangan mainan – sesuatu yang baginya sangat berharga dan disayanginya, atau hewan peliharaannya mati. Bahkan kehilangan pengasuhnya karena harus pulang kampung.
* Kekecewaan
Anak dapat mengalami kesedihan akibat rasa kecewa, yaitu karena pengharapannya tidak terpenuhi. Misalnya, teman yang diharapkan hadir dalam perayaan ulang tahunnya ternyata tidak hadir atau teman yang sudah membuat janji untuk pergi bersama, ternyata tidak muncul. Anak juga bisa bersedih ketika permintaannya tidak kita kabulkan. Kadang kala anak merasa kecewa pada dirinya ketika merasa tidak berhasil memenuhi harapan kita. Semua kekecewaan ini berpotensi membuat anak bersedih.
* Penolakan
Ada banyak situasi dalam kehidupan yang dapat membuat anak merasa ditolak. Pada umumnya ia akan bersedih jika tidak dipilih atau diajak pergi oleh teman-temannya sementara ia berharap bisa bergabung dengan kelompok itu. Perasaan tidak diterima dalam lingkungan pergaulan menghadirkan perasaan tertolak yang dapat membuatnya sedih.
* Penghinaan (bullying)
Kata-kata yang tidak enak didengar, bernada menyerang, menjatuhkan dan menghakimi akan membawa kesedihan pada anak-anak. Bukan saja ia merasa tertolak, ia pun akan merasa tertusuk.
* Pertengkaran
Pertengkaran orang tua juga dapat menjadi sumber kesedihan sebab sesungguhnya kerinduan setiap anak ialah melihat orangtuanya hidup rukun dan penuh kasih.

Prinsip penting untuk meresponi kesedihan anak
* Hargai perasaannya
Melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan ucapan, kita harus menunjukkan kepadanya bahwa kita turut prihatin dengan keadaannya. Tahanlah diri untuk tidak menyela, biarkan terlebih dahulu ia menguras emosinya melalui ceritanya. Meskipun kita jauh lebih dewasa, kita tetap harus belajar untuk menjadi teman, bukan menjadi guru. Sesungguhnya, saat anak bersedih yang dibutuhkannya hanyalah pengertian dan penghiburan. Ketika melihatnya bersedih, kita dapat menghampirinya dan berkata, “Apa yang mama dan papa bisa lakukan untuk kamu?” Tawaran seperti ini mengkomunikasikan dukungan dan akan menggugah keinginannya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Meskipun pada akhirnya ternyata tidak banyak yang bisa kita lakukan, namun kesediaan kita untuk mendengarkan dan membantunya sudah cukup menenangkannya. Anak perlu mengetahui bahwa kita mengerti perasaannya.

* Cari waktu dan gunakan cara yang tepat
Hal lain yang perlu kita ingat ketika anak bersedih adalah, jangan banyak bertanya kepadanya seakan-akan kita tengah menginterogasinya. Bertanyalah seperlunya dan jangan memaksanya untuk menceritakan sesuatu yang belum siap diutarakannya. Perlihatkanlah empati kita dengan mengatakan, “Papa ikut sedih”, atau “Mama mengerti bahwa hal ini menyakiti hatimu”. Selain pendampingan, memberi ruang kepada anak untuk bersedih sendirian juga penting. Jangan memaksa untuk terus bersamanya ketika ia memang ingin sendirian. Ini biasanya terjadi pada anak-anak dengan kepribadian introvert. Dengan lembut kita dapat berkata kepadanya, “Kalau kamu tidak bisa menceritakan kesedihanmu sekarang, tidak apa-apa. Setengah jam lagi Mama datang lagi ya dan kita bisa membicarakan apa yang menjadi masalahmu.”

* Menyediakan bahu
Alangkah indahnya jika ketika anak bersedih dan menangis, kita dapat membuka tangan dan mengundangnya untuk meletakkan kepalanya di bahu kita. Melalui pelukan, kita memberikan penerimaan dan menguatkan anak.

* Berdoa
Dukungan bisa juga kita nyatakan dengan cara berdoa bersama, namun tidak semua kisah sedih harus langsung kita respon dengan doa. Yang terlebih penting adalah kita peka membaca apa yang sesungguhnya sedang ia perlukan saat itu.

* Libatkan anak yang lain
Melibatkan anak yang lain dan mengajaknya untuk mencermati saudaranya menolong masing-masing anak untuk semakin peka dengan keberadaan dan kondisi saudaranya. Melalui semua ini kita mengajarkan anak untuk mengasihi dan menopang saudaranya, sebagaimana ditekankan oleh Firman Tuhan di dalam Galatia 6:2, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianklah kamu memenuhi hukum Kristus.”

(dicuplik dari buku “Tertawa dan Menangis Bersama Anak”, karya Paul Gunadi & Lortha Gb. Mahanani, terbitan METANOIA)

2019-10-17T17:42:46+07:00