///Mencintai Rumah Tuhan

Mencintai Rumah Tuhan

Selama beberapa bulan ini, kita telah berfokus untuk bersama-sama membangun pondasi rumah Tuhan dengan membangun hidup dan komunitas kita agar penuh firman dan iman, termasuk memperluas pemahaman kita bahwa membangun rumah Tuhan berarti juga adalah membangun Kerajaan Allah di bumi dengan menaklukkan kerajaan Iblis. Pada bulan Oktober ini, kita akan terus mencintai rumah Tuhan dengan mulai membangun di atas pondasinya, yaitu mendirikan tiang-tiang di dalam rumah Tuhan. Mari kita pelajari hal ini bersama-sama.

 

RANCANGAN KASIH ALLAH

Sebelum penciptaan manusia, terjadi pemberontakan Iblis. Iblis yang adalah salah satu malaikat ternyata jatuh ke dalam dosa kesombongan (ego) dan kepahitan. Ego membuat Iblis tidak lagi menyembah dan bergantung kepada Allah, tetapi justru mau menjadi Allah dan melawan Allah. Akhirnya, Allah melemparkan Iblis dan roh-roh jahat dari surga ke bumi.

Yesaya 14:12-14: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke Bumi, ….. Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan Takhtaku ….. Aku hendak menyamai Yang Mahatinggi!”

Karena peristiwa ini, sejak awal penciptaan manusia, Allah telah merancangkan untuk manusia sebagai wakilNya menaklukkan Iblis dan menguasai Bumi.

Kejadian 1:26: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas …… seluruh Bumi.’”

Sayangnya, Iblis menggoda Adam dan Hawa hingga jatuh ke dalam dosa. Dosa membuat manusia seperti Iblis, yaitu ingin menjadi Tuhan (menjadi hakim) dan akhirnya menghakimi dirinya sendiri (dalam wujud rasa tertuduh dan tertolak) serta menghakimi orang lain.

Allah adalah kasih, dan karena Allah sangat mengasihi manusia yang telah jatuh dalam dosa, Ia mengutus AnakNya Yesus Kristus, yang rela berkorban dengan memikul seluruh dosa kita dan segala akibatnya, yaitu maut. Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menerima kasih Allah dan pengampunan total ini, sehingga Sang Kasih, yaitu Allah sendiri, tinggal di dalam hati dan kehidupan kita. Kita menjadi rumah Tuhan. Di dalam rancangan kasihNya yang sejati dan sempurna ini, Allah bukan hanya ingin memulihkan diri kita, yaitu rumah Tuhan secara pribadi, namun Ia juga ingin agar kita bersama-sama denganNya membangun keluargaNya dan Tubuh Kristus, yaitu rumah Tuhan secara komunitas/korporat/universal.

SIKAP DALAM RUMAH TUHAN

Menanggapi rancangan kasih Allah, sudah seharusnyalah kita terlibat dalam pembangunan rumah Tuhan. Namun pada kenyataannya, banyak di antara kita yang belum memiliki sikap keterlibatan di dalam hal ini. Sebenarnya, sikap-sikap apa saja yang ada di tengah-tengah kita ini?

Efesus 2:19: “Demikianlah kamu bukan lagi ORANG ASING dan PENDATANG, melainkan KAWAN SEWARGA dari ORANG-ORANG KUDUS dan ANGGOTA-ANGGOTA KELUARGA ALLAH,…”

1. Sikap yang salah: Merasa asing di dalam rumah Tuhan

Iblis, ego dan dosa merusak hati manusia dan membuat manusia mementingkan keinginan, pikiran dan perasaannya sendiri, sehingga di dalam komunitas merasa asing, walaupun komunitas itu adalah komunitas sesama anggota rumah Tuhan. Jika ini terjadi pada kita, kita menjadi egois, dipenuhi rasa bersalah/tertuduh serta rasa tertolak, dan mudah kecewa dan mengalami kepahitan dengan orang lain, termasuk di dalam kehidupan bergereja, yang adalah rumah Tuhan sendiri. Kita pun menjadi cenderung merasa kering rohani dan tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari gereja, serta cenderung menyalahkan/menghakimi orang lain, bahkan para pemimpin atau pekerja di gereja. Semua ini menjadikan kita pasif, dan tidak ingin terlibat di dalam rumah Tuhan selain sebagai hadirin atau penonton saja. Kita tidak lagi mau terlibat lebih dalam, misalnya dengan melayani di dalam aktivitas-aktivitas gereja, dengan berbagai alasan. Kita menjadi seperti orang Farisi; menghakimi dan mengucilkan orang lain yang berdosa. Fenomena ini bagaikan sel kanker yang merusak seluruh tubuh pengidapnya, karena hati kita yang sedang “sakit” ini sangat mempengaruhi kehidupan seluruh isi rumah Tuhan di mana kita tinggal. Pada akhirnya, seringkali kita malah memutuskan untuk berpindah ke gereja lokal lainnya. Sayang sekali, ini sama sekali bukanlah solusinya, karena hati yang rusak oleh Iblis, ego dan dosa tadi perlu benar-benar dipulihkan dahulu, maka barulah diri kita akan mengalami pembaharuan dan perubahan dari rasa asing dan segala hal mengerikan yang menyertainya ini.

2. Sikap yang benar: Mengambil tanggung jawab sebagai anggota keluarga Allah

Sebagai anggota keluarga yang baik pasti dimulai dari Sikap Hati Mengasihi dan Mencintai Keluarga kita. Bapa Sorgawilah yang telah menempatkan kita sebagai anak-anak di dalam keluargaNya, agar kita belajar untuk saling mengasihi dan menerima anggota lainnya tanpa syarat dan belajar tunduk serta hormat kepada para pemimpin di rumahNya sebagai orangtua rohani kita. Setiap gereja adalah bagaikan sebuah keluarga, yang belum tentu sesuai dengan harapan kita yang ideal tetapi justru menjadi sarana untuk kita bertumbuh menuju kedewasaan melalui saling mengisi, menolong, melayani sesuai karunia/potensi/kelebihan kita masing-masing. Sebagai tubuhNya, gereja menjadi tempat di mana Kristus Sang Kepala menggerakkan anggota-anggota tubuh untuk bergerak dan berfungsi, saling melayani. Ini menunjukkan kesejatian seorang anggota keluarga, yaitu dengan turut bertanggung jawab membangun keluarga menurut visi bersama keluarga itu. Demikian pula, kita di dalam gereja dapat bertanggung jawab dengan aktif melayani Tuhan di dalam rumahNya. Melayani di dalam rumah Tuhan dimulai dari hati yang mengasihi rumah Tuhan, dan hati yang mengasihi inilah yang terpenting untuk kita pelihara di dalam kehidupan kita di dalam rumah Tuhan.

Nah, bagaimana dengan diri Anda dan saya masing-masing? Mari kita memilih sikap hati yang benar, mengasihi rumah Tuhan dan turut mengambil tanggung jawab dalam membangun rumah Tuhan dan mendirikan tiang-tiangnya. Simak artikel “5 Tiang di dalam Rumah Tuhan” di edisi kali ini untuk lebih memahami bagaimana kita dapat terlibat dalam melakukannya! Tuhan memberkati kita semua.

2019-10-17T16:40:44+07:00