///Menetapkan Tujuan berdasarkan Nilai-Nilai

Menetapkan Tujuan berdasarkan Nilai-Nilai

“Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”
– Lukas 14:28

“Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.”
– Amsal 15:22

Mengawali tahun yang baru, setiap orang tentu memikirkan kembali tujuan-tujuan yang ingin dicapainya. Demikian pula dengan setiap bisnis atau perusahaan, dengan segala target dan rencana usahanya. Baik untuk kehidupan pribadi maupun perjalanan usaha, menetapkan tujuan memang penting untuk meningkatkan kualitas diri serta pencapaian kita, dan kabar baiknya, kebanyakan dari kita sudah terbiasa melakukannya.

Proses menetapkan tujuan tidak hanya membawa kita untuk belajar lebih mengenal diri sendiri, tetapi juga menemukan hal-hal yang benar-benar kita inginkan. Proses ini memberikan visi jangka panjang sekaligus juga manfaat jangka pendek dan motivasi untuk kita bergerak. Alhasil, kita pun makin berfokus pada masa depan dan terdorong untuk melakukan langkah-langkah progresif menuju tujuan masa depan itu. Selalu ada penetapan tujuan yang tepat di balik tiap pencapaian dan keberhasilan yang hebat. Namun, sebelum mulai menetapkan tujuan agar menuai hasil pencapaiannya, kita perlu menghindari tiga kesalahan umum berikut ini:

1. Target kuantitatif tanpa keselarasan dengan nilai-nilai

Terlalu sering, orang menetapkan tujuan berdasarkan perhitungan angka saja, hingga menghasilkan target kuantitatif tertentu. Meski terkesan jelas atau memotivasi, target kuantitatif kerap tidak sejalan dengan nilai-nilai orang yang menetapkannya. Contohnya, “mau gaji naik 20%”, atau “mau omzet bisnis bertumbuh 25%”, tetapi proses pencapaiannya membutuhkan porsi atau kadar kerja keras yang berlebihan dan berpotensi melanggar komitmen pribadi Anda untuk menjaga akhir pekan hanya untuk beribadah dan berinteraksi dengan keluarga. Target kuantitatif harus diselaraskan dengan nilai-nilai pribadi kehidupan atau nilai-nilai korporat bisnis/perusahaan kita, yaitu harus selaras dengan “jiwa” kita. Target kuantitatif yang angkanya hebat tetapi tidak selaras dengan nilai-nilai akan sulit diusahakan. Misalnya, kembali dengan contoh nilai-nilai prioritas pada keluarga, hidup seimbang, dan menghindari hiburan malam, sesuaikan kembali target pertumbuhan bisnis Anda jika untuk mengusahakan dan mencapainya Anda terpaksa harus bekerja 12 jam per hari, menghabiskan waktu untuk melayani klien hingga larut malam, serta berpisah dari keluarga karena perlu sering mengontrol perkembangan ekspansi ke luar kota.

Ketika nilai-nilai kita berbenturan dengan target kuantitatif, kita tidak akan memiliki cukup energi atau kesungguhan untuk mengusahakannya. Target itu hanya menjadi target di atas kertas, tanpa pernah tercapai.

 

2. Tujuan yang tidak cukup spesifik
Kesalahan umum lainnya adalah ketika tujuan Anda terlalu luas dan muluk-muluk atau berlebihan. Sebagai kerangka, gunakan kriteria SMART saat menyusun dan menetapkan target: Specific, Measurable, Attainable, Relevant, and Time-Bound. Artinya, setiap tujuan/target Anda haruslah spesifik, dapat diukur pencapaiannya, masuk akal untuk diusahakan dan dicapai, memiliki alasan yang relevan dan penting untuk dicapai, serta pencapaiannya terikat oleh batasan waktu tertentu. Perhatikan bahwa spesifik merupakan kriteria yang pertama. Tujuan yang terlalu umum/luas tidak jelas, dan perlu dipecah atau dirinci target-target yang lebih kecil/khusus agar dapat diusahakan hingga tercapai.

 

3. Tidak ada sistem pendukung
Setiap tujuan/target tidak mungkin dicapai tanpa ada sistem pendukung yang tepat. Kita mungkin ingin mencapai target tertentu dalam bisnis/usaha, tetapi kita membutuhkan dukungan berupa tim kerja, rekan diskusi, tambahan modal dan fasilitas, peningkatan keahlian, pelatihan dari mentor, pengembangan skala usaha, adopsi dan pembaharuan teknologi, tantangan dari kompetitor, dan banyak lagi. Jika Anda tidak mengumpulkan dan menyiapkan sistem pendukung ini, target/tujuan tentu tidak akan tercapai.
Sangat mudah untuk menetapkan sesuatu sebagai tujuan/target kita, tetapi hal ini tidaklah cukup. Anda juga perlu “menjual” visi tujuan/target itu ke lingkungan-lingkungan yang tepat, sebagai upaya pembentukan sistem pendukungnya.
Nah, setelah mewaspadai dan menghindari ketiga kesalahan umum yang baru kita bahas ini, kita dapat berfokus pada penetapan tujuan itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pula sebelumnya, pada intinya setiap tujuan/target yang kita tetapkan perlu sejalan dengan nilai-nilai kita.

Bagaimana cara menetapkan tujuan berdasarkan nilai-nilai?
1. Renungkan dan tuliskan dengan rinci nilai-nilai pribadi Anda
Jika tujuan/target tidak sesuai dengan nilai-nilai pribadi, energi untuk mengusahakannya pun lemah. Mulailah dengan mengenali diri Anda yang sesungguhnya dan menemukan hal-hal terpenting bagi diri Anda. Inilah nilai-nilai pribadi Anda. Saya merekomendasikan untuk Anda melihat lima dimensi kehidupan Anda: karier, kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, dan kehidupan ibadah/rohani; lalu merenungkan gambaran idealnya masing-masing yang penting bagi Anda. Pikirkan bagaimana Anda selama ini memprioritaskan nilai-nilai di setiap dimensi tersebut, dan bandingkan dengan tujuan terkait yang Anda ingin capai. Dengan perspektif ini, Anda akan menangkap lebih tepat tujuan/target yang perlu Anda tetapkan untuk dicapai, termasuk hal-hal yang Anda ingin pertahankan, tinggalkan, kurangi, ubah, atau tingkatkan.

Beberapa pertanyaan dapat sangat membantu kita untuk melakukan proses perenungan ini. Misalnya, bagaimana Anda cenderung menghabiskan waktu dan energi Anda, hal-hal apa yang membuat Anda tertarik dan bersemangat, hal-hal apa yang perlu Anda lakukan lebih banyak/sering, hal-hal apa yang harus Anda kurangi, dan hal-hal apa yang ternyata telah hilang dari kehidupan Anda. Luangkan waktu untuk memproses pikiran dan perasaan Anda, dan renungkan baik-baik berbagai umpan balik yang pernah diberikan oleh orang lain kepada Anda. Selanjutnya, buat saja daftar beberapa hal utama yang ingin Anda ubah atau lakukan secara berbeda; inilah bakal tujuan-tujuan Anda.

 

2. Pilih dan jaga fokus Anda
Perhatikan kriteria SMART pada tiap bakal tujuan Anda; tujuan yang memenuhi kriteria SMART adalah yang dapat ditetapkan untuk Anda usahakan pencapaiannya. Kemudian, pilihlah salah satu atau dua saja tujuan dari deretan bakal tujuan itu, untuk dijadikan fokus lebih dahulu, berdasarkan skala prioritas nilai-nilai pribadi Anda. Jika kriteria SMRT belum cukup terpenuhi, pertajam kembali satu-dua tujuan fokus itu untuk mengubahnya menjadi tujuan yang SMART. Masing-masingnya harus jelas dan spesifik, dapat diukur pencapaiannya, masuk akal atau realistis untuk dicapai, relevan dan penting untuk dicapai, serta harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, tujuan yang berupa target dengan tenggat tahunan perlu dipecah menjadi target (dan rencana) per semester/triwulan, per bulan, per pekan, bahkan per hari.

 

3. Mintalah dukungan dari lingkungan yang tepat
Sekarang, pikirkan dan pilah kembali anggota keluarga, teman, atau rekan kerja yang dapat Anda ceritakan tentang tujuan yang baru Anda tetapkan itu. Temukan mereka yang sevisi, atau setidaknya sejalan dengan visi Anda, untuk meningkatkan motivasi Anda. Dari mereka masing-masing, mintalah berbagai jenis dukungan yang mungkin Anda butuhkan, apa pun itu. Ini bukan berarti Anda begitu saja meminta tanpa memberikan apa-apa kepada mereka; Anda harus bermitra dan berjalan bersama mereka dengan menerima dukungan dari mereka, sambil Anda pun memberikan dukungan tertentu kepada mereka yang membutuhkannya. Orang-orang di dalam lingkungan yang tepat ini dapat membantu membuat Anda lebih bertanggung jawab untuk mengusahakan kemajuan.

 

4. Tinjau kembali seluruh tujuan Anda secara berkala
Tentukan jangka waktu tertentu yang cocok untuk tujuan-tujuan Anda, untuk Anda meninjau kembali masing-masingnya. Meninjau kembali berarti menilai pencapaian berjalan, mengevaluasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki atau ditingkatkan dalam proses mengusahakan, mengembalikan fokus yang mungkin sempat teralihkan ke hal lain, serta memperbaharui energi untuk mengusahakan pencapaian itu. Sebagian orang melakukan hal ini setiap tiga bulan, sebulan, atau bahkan setiap pekan. Setelah peninjauan kembali, putuskan tindakan atau langkah-langkah yang akan Anda ambil pada periode berikutnya demi pencapaian tujuan secara lebih baik lagi.

 

2021-12-20T12:10:01+07:00