///Mengapa anak saya sebaiknya berada di Ibadah KEGA?

Mengapa anak saya sebaiknya berada di Ibadah KEGA?

2. Anak kita akan kesulitan mengerti dan menerima prinsip kebenaran Firman Tuhan yang dibagikan
Mengapa begitu? Bukankah pengkotbah di ibadah kami penuh humor dan penjelasan firmannya sangat jelas.  Nada bicaranya dinamis dan tidak membuat orang mengantuk.
Ya, betul. Tapi sekali lagi, ibadah umum tidak didesain untuk dihadiri dan diikuti oleh anak-anak, jadi ini termasuk berarti hamba Tuhan yang menyampaikan Firman tidak berbicara dalam bahasa anak-anak, melainkan dalam bahasa orang dewasa. Semuanya sangat beda dengan cara pemimpin pujian dan pembawa firman di ibadah Gereja Anak KEGA.

Berbeda bagaimana?
Jelas beda, karena di ibadah Gereja Anak KEGA baik pemimpin pujian (worship leader), pemimpin games maupun pengkotbahnya khusus mempersiapkan diri untuk selalu menggunakan berbagai alat bantu, misalnya seperti puppet, seni drama, trik sulap untuk menolong memberikan gambaran yang gamblang tentang kebenaran Firman Tuhan yang dibagikan.
Mengapa harus repot-repot seperti itu? Tentu harus, karena konsentrasi anak berbeda pada setiap rentang usianya. Semakin muda usianya, semakin rendah pulalah kemampuan anak untuk berkonsentrasi terhadap suatu obyek yang tidak bergerak.  Untuk itulah, semua penunjang dan berbagai keahlian digunakan sesuai usia anak.  Tujuannya hanya satu, yaitu supaya setiap anak mudah mengerti dan menerima prinsip kebenaran Firman Tuhan yang dibagikan dalam ibadah.

3. Anak kita akan cenderung tidak bersemangat setiap kali diajak untuk “ke gereja”
Kok aneh? Padahal tempat duduk di ibadah umum nyaman, ruangannya sejuk, ushernya ramah.
Ya, tapi itu semua bukanlah unsur-unsur ibadah yang dapat membuat anak bersemangat “datang ke gereja”. Tapi para pembina Gereja Anak KEGA yang selalu mengajak anak-anak untuk bebas berekspresi, tertawa, melompat, menari dan berlari dalam ibadah membuat mereka menemukan “dunia”-nya.  Jangan lupa, masa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan dan berkembangnya sel-sel otot motorik, sehingga semua aktivitas ini membuat mereka bersemangat untuk “ke gereja” karena bagi mereka “gereja” sangat mengasyikkan.

 

4. Anak kita akan kehilangan kesempatan untuk bisa mengembangkan kemampuan sosialnya
Coba bayangkan seorang anak balita duduk di kursi ibadah umum, tentu dalam pandangan matanya ia hanya mampu melihat sandaran-sandaran kursi, punggung-punggung dan kepala orang dewasa di depannya.  Jangankan ia dapat melihat temannya yang seusia dengannya, melihat apa yang terjadi di mimbar ibadah saja adalah hal yang mustahil kecuali ada monitor TV atau layar besar yang memperlihatkannya.
Sebaliknya, di dalam ibadah Gereja Anak KEGA, sudah pasti setiap anak akan berjumpa dengan rekan-rekan seusianya.  Anak yang berusia bayi akan dapat berinteraksi dengan temannya sesama bayi, demikian juga yang batita, balita, usia 6-9 tahun dan usia 10-11 tahun.  Selain itu dalam ibadah Gereja Anak KEGA selalu akan ada kegiatan yang memfasilitasi untuk anak-anak dapat saling berinteraksi.  Tahukah Anda, hal ini sangat penting bagi perkembangan EQ (Emotional Quotient) anak kita.

Jadi, sudah sangat jelas manfaatnya bukan, agar anak kita berada dalam ibadah Gereja Anak KEGA setiap hari Minggu? Masihkah terpikir untuk kita mengajaknya beribadah bersama kita di ibadah umum?

“Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.” Matius 18:14
(hy 04/14)

2014-04-26T03:28:35+07:00