///Mengapa bukan saya yang dipromosi?

Mengapa bukan saya yang dipromosi?

Keluhan semacam ini sering terdengar di kalangan profesional. Mereka merasa jerih payah mereka (selama sekian lama) tidak dihargai oleh perusahaan. Ada yang bekerja selama 10–15 tahun tetapi tidak kunjung dipromosikan, sedangkan orang-orang yang relatif baru masuk atau masa kerjanya lebih singkat justru sudah dipromosikan. Mengapa fenomena ini terjadi? Mari kita simak beberapa penyebab umum orang tidak mendapatkan promosi pekerjaan/jabatan.

1. Paradigma senioritas vs paradigma kontribusi

Banyak orang berpikir bahwa promosi adalah berdasarkan senioritas, yaitu usia/masa kerja. Padahal, pola pikir seperti ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Dunia usaha dan kerja saat ini semakin kompetitif; perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang bisa menunjukan prestasi dan memberikan kontribusi di atas standar rata-rata. Tidak peduli Anda sudah bekerja berapa tahun di sebuah perusahaan, selama Anda tidak berkontribusi dengan menunjukkan prestasi yang maksimal dan kinerja yang unggul, Anda akan “dihargai murah” dan tidak menjadi prioritas sama sekali untuk dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Keterampilan teknis vs keterampilan nonteknis

Seorang supervisor mengeluh bahwa rekannya yang lebih junior dipromosi sedangkan dirinya tidak, karena merasa bahwa pengalaman, masa kerja, dan keterampilan/keahlian kerjanya jauh melebihi si rekan junior itu. Supervisor ini tidak memahami dan tidak menyadari bahwa prestasi seseorang dinilai dari dua sisi keterampilan, yaitu keterampilan teknis dan keterampilan nonteknis. Keterampilan teknis adalah keterampilan dasar yang berkaitan dengan tugas-tugas utama seseorang dalam pekerjaan, misalnya Accounting Supervisor harus memiliki keterampilan akunting, seorang tenaga pemasaran harus memiliki keahlian menjual, dsb. Sementara, keterampilan nonteknis berkaitan dengan kualitas pribadi seseorang, yang mendukung pekerjaannya itu, misalnya kejujuran, kedisplinan, kepatuhan, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama dengan orang lain, ketahanan didalam menghadapi tekanan-tekanan, kemampuan berkomunikasi dengan baik, kemampuan bereaksi secara positif didalam menghadapi berbagai rintangan, dll.

Seorang direktur yang saya kenal pernah berucap, “Bagaimana saya mau promosikan dia jadi manajer… Selama ini kalau saya beri dia tugas yang sulit, dia protes. Kalau saya tekan dia sedikit, esok harinya dia tidak masuk kerja. Selain itu, rata-rata total waktu terlambat dia selama satu bulan sekitar 60 menit. Kalau ide-idenya saya tidak setujui, ekspresi wajah dan mood-nya langsung berubah jadi menyebalkan. Dengan rekan-rekan di dalam timnya, dia juga dikenal aneh, sering emosional kalau kemauannya tidak diikuti.” Inilah keterampilan nonteknis, yang sebenarnya jauh lebih bernilai daripada keterampilan teknis (yang bisa dipelajari dengan lebih mudah).

Keterampilan nonteknis sebenarnya adalah sikap dan karakter seseorang. Setiap pekerja akan selalu berada dalam pengujian perusahaan/pemimpinnya dalam dua sisi, yaitu keterampilan teknis dan ketarampilan nonteknis. Biasanya pengujian akan dilakukan dalam waktu yang panjang (bisa bertahun-tahun), untuk menentukan apakah seseorang bisa dijadikan rekan sekerja di jenjang pekerjaan/tanggung jawab yang lebih tinggi. Sayang, mayoritas orang tidak lulus dalam pengujian keterampilan nonteknis.

3. Mentalitas kekanak-anakan

Banyak pekerja mempunyai prinsip “bekerja hanya sebatas upah yang diterima”. Akibatnya, tugas yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu tiga jam dikerjakan berlambat-lambat dalam waktu dua hari, tugas yang hanya membutuhkan waktu lembur 10-15 menit saja ditunda sampai keesokan harinya, datang terlambat menjadi kebiasaan; semua karena “perusahaan tidak menghargai saya dengan pantas”. Mentalitas seperti ini sebenarnya sangat kekanak-kanakan, bagaikan anak kecil yang tidak mau tidur siang kalau tidak dibelikan es krim atau mainan.

Banyak orang tidak menyadari bahwa bekerja berarti menjual keterampilan kita; nilai kita tergantung pada kualitas keterampilan yang kita jual. Pekerja yang memiliki prinsip “bekerja hanya sebatas upah yang diterima” akan kehilangan tidak belajar untuk terus-menerus untuk meningkatkan kualitas keterampilannya, sehingga nilai dirinya pun tidak akan meningkat. Ia merasa rugi jika bekerja keras, bekerja lebih produktif, atau bekerja sampai menunjukkan prestasi, selama ia merasa upah yang ia terima tidak sebanding dengan kerjanya. Ini artinya ingin menuai tetapi tidak mau menanam, ingin menerima tetapi tidak mau memberi, ingin mendapatkan hasil tetapi tidak mau menjalani prosesnya. Di ujung masa kerja dan di ujung kehidupannya, orang seperti ini (jika tidak kunjung berubah) akan berhadapan dengan kebenaran bahwa apa yang ditabur, itulah yang dituainya.

Kenali ciri-ciri pekerja yang memiliki mentalitas kekanak-kanakan pada diri Anda maupun pada rekan-rekan atau pekerja lain:
• selalu menuntut, tetapi sedikit berbuat;
• selalu menyalahkan kondisi/orang lain/sistem, tetapi tidak penah introspeksi;
• selalu menuntut prasyarat lebih dahulu sebelum bersedia berkomitmen untuk melakukan sesuatu;
• menginginkan sukses yang cepat, tetapi tidak mau menjalani prosesnya;
• tidak mau belajar dari kesalahan yang lalu, yaitu mengulang kesalahan yang sama/sejenis terus-menerus.
Menurut Anda, pantaskah pekerja yang demikian dipromosi?

4. Prinsip anak tangga

Tidak ada keberhasilan yang instan. Tidak ada pekerjaan yang mudah, nyaman, ringan, dengan tantangan atau masalah yang sedikit. Jika Anda menginginkan promosi ke jenjang yang lebih tinggi, Anda harus naik ke anak tangga berikutnya. Tetap berada di posisi dan kenyamanan saat ini tidak akan membawa Anda naik sama sekali. Pertanyaannya, apakah Anda siap menyelesaikan berbagai masalah yang lebih berat, apakah Anda rela mengambil tanggung jawab yang lebih besar, dan apakah Anda sanggup bekerja lebih keras dan lebih cerdas? Mari ukur diri kita sendiri, sudah berapa lama kita tidak naik ke anak tangga yang lebih tinggi karena terlalu nyaman berada di anak tangga yang sekarang: yang terasa mudah, biasa, dan tidak merepotkan?

Banyak pekerja mengeluh tentang kesulitan dan tantangan yang dihadapi, padahal setiap kesulitan dan tantangan itu menyediakan kesempatan untuk naik ke anak tangga berikutnya. Jangan menjadi pekerja semacam ini; naiklah ke anak tangga berikutnya itu dan temukan diri Anda pada posisi yang lebih tinggi sebagai hasilnya. Ingatlah, tidak ada keberhasilan instan tanpa perjuangan, selalu ada harga yang harus dibayar untuk segala sesuatu. Bahkan, keberhasilan seringkali mahal harganya.

Nah, setelah mempelajari penyebab-penyebab umum gagal dipromosi ini, mari kita praktikkan. Jika Anda sedang merasa patah semangat karena tidak kunjung dipromosi, bangkitlah dan jangan ulangi kesalahan yang lalu. Ubah cara berpikir Anda, susun target baru untuk dicapai, lalu mulailah menabur dengan giat dan jangan pernah menyerah. Pada waktunya, Anda akan menuai buahnya. Selamat menabur dan menuai!

2019-10-11T11:18:34+07:00