///Mengasihi Berlebihan

Mengasihi Berlebihan

Empat tahun yang lalu, saya kehilangan seorang cucu yang sangat cantik bernama Micayla. Waktu itu hati saya sangat sedih dan saya menyalahkan situasi, bahkan Tuhan, yang saat itu seperti tidak saya kenal lagi. Micayla cantik dan lucu, wajahnya sangat mirip dengan papanya dan dengan saya, opanya, tetapi kehidupannya di dunia ini bersama kami sekeluarga hanya 100 hari, lalu dia meninggal karena sakit jantung.

 

Setahun kemudian, lahirlah cucu saya yang kedua, Kirara. Sebagai seorang opa, saya sangat bersukacita sekaligus khawatir. Tanpa sadar, saya sangat memproteksi, menjaga, dan mengamankan Kirara. Saya dan istri jadi amat menyayangi cucu kedua ini, secara berlebihan. Saat Kirara sakit ringan-ringan saja, kami sudah menjadi sangat khawatir dan segera membawanya ke dokter. Ketika dia jatuh terpeleset saja, kami menjadi sedih dan merasa menyesal karena sangat berhati-hati menjaganya.

 

Saat ini, Kirara sudah berusia 3 tahun 3 bulan, dan saya sangat suka memanjakan dia dan melihatnya bergembira. Suatu kali, saya mengajaknya berjalan-jalan ke sebuah toko mainan, dengan niat untuk membahagiakan dia. Hari itu, saya bertekad Kiara boleh memilih semua mainan yang dia sukai di toko itu. Saya akan membelikan semuanya untuk dia.

 

Dalam bayangan saya, Kirara pasti senang memilih banyak mainan. Sebagai opanya, dengan hati berbunga-bunga saya membawanya berkeliling toko mainan untuk membeli sebanyak mungkin mainan yang dia suka. Kirara berkeliling toko, memegang dan mencoba memainkan beberapa mainan kecil, tetapi akhirnya hanya mengambil satu mainan. Dipegangnya satu mainan itu erat-erat di tangannya. Matanya jelas menampakkan sorot ingin ke arah beberapa mainan lain, tetapi dia tetap hanya memegang yang satu itu. Setelah beberapa saat, dia berkata, “Sudah cukup, Opa, Rara mau yang ini saja.”

 

Saya agak bingung. Saya menyuruhnya mengambil lagi mainan lain yang dia mau, dan memang kelihatan oleh saya bahwa wajah Rara ragu. Dia melihat-lihat dan memegang mainan yang lain, kemudian dia meletakkan mainan itu di tempatnya lagi, lalu lagi-lagi berkata sambil memegang erat satu mainan yang awal tadi, “Sudah cukup, Opa, Rara mau satu ini saja.”

 

Hati saya terenyuh. Saya kagum sekaligus tertegur. Cucu saya, yang saya sayangi habis-habisan dan saya izinkan mengambil semua mainan yang dia mau, justru mengambil satu mainan saja. Biarpun sempat memegang dan mencoba satu demi satu mainan lain, Rara hanya memegang erat satu mainan saja dan dia teguh dengan keputusannya untuk memilih satu mainan itu saja. Rara cuma mau yang satu itu saja.

 

Hari itu, saya belajar dari cucu saya sendiri, yang usianya masih sangat kecil. Sikap hatinya luar biasa. Saya pikir dia akan heboh kegirangan mengambil semua mainan yang dia sukai di toko itu, tetapi ternyata dia memilih satu mainan saja untuk saya belikan. Rara tidak serakah memanfaatkan kemurahan hati opanya; justru saya yang “serakah” dalam menyenangkan dia dengan cara saya sendiri.

 

Ketika tiba di rumah kembali, saya menceritakan apa yang telah terjadi dan bertanya kepada mami Rara, yaitu menantu saya sendiri. Saya menceritakan kekaguman saya bahwa cucu saya itu memiliki hati yang manis dan tidak serakah. Maminya hanya tersenyum sambil berkata singkat bahwa memang sudah sejak kecil Rara diajar untuk boleh membeli satu mainan saja, tidak boleh lebih. Rara selalu dididik untuk hidup seperlunya saja. Bukan berlebihan.

 

Tepat saat itulah, saya terkejut dan sekaligus menyesal dengan sikap hati saya sendiri. Ternyata anak dan menantu saya mendidik cucu saya dengan lebih baik daripada saya sendiri memperlakukan dia. Ternyata saya telah terlena dengan sikap hati yang serba berlebihan, ingin memberikan kesenangan dan kemanjaan yang luar biasa kepada cucu saya atas nama mengasihi, tetapi tidak memberikan didikan yang baik. Dari peristiwa itu, justru cucu saya yang mengajar saya agar hidup secukupnya dan seperlunya. Apa adanya saja, tanpa perlu berlebihan.

 

Sepanjang sisa hari itu, bahkan selama beberapa hari berikutnya, hati saya memuji anak dan menantu saya; bagaimana mereka telah berhasil mendidik anaknya, yaitu Rara cucu saya, dengan nilai-nilai yang sangat mulia dan baik. Saya pun bertobat karena tanpa disadari saya telah menyayangi cucu saya secara berlebihan dan dengan cara yang salah.

 

Saudara, saya mengakui kesalahan saya. Sebagai orang tua maupun sebagai opa-oma atau kakek-nenek, kadang kita terlalu berlebihan ingin memanjakan secara berlebihan. Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa itu salah. Mari kita berhenti memberikan kemanjaan yang berlebihan kepada orang-orang yang kita kasihi. Walaupun kita sangat ingin melakukannya.

Walaupun kita sangat menyayanginya.

 

Mengasihi secara berlebihan dan tanpa didikan adalah kesalahan yang tidak bijaksana. Firman Tuhan pun berkata bahwa adalah baik jika kita mengasihi dengan didikan dan disiplin. Mari kita mengasihi sesuai tuntunan Firman Tuhan.

Tuhan memberkati.

 

”Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita.” – Ibrani 12:9-11, TB

2023-12-21T13:52:24+07:00